Breaking News:

Jendela

Nasihat Sesama PNS

Berteman dengan orang-orang baik dan jujur akan mendorong kita untuk istiqamah, konsisten dengan nilai-nilai moral yang kita yakini

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman b 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - “BAGAIMANAKAH agar kami tetap bisa menjaga kejujuran dan profesionalitas ketika atasan kami justru tidak jujur? Bagaimana kami bisa disiplin, bekerja dengan penuh tanggung jawab, jika para pegawai di sekitar kami justru malas-malasan dan suka melempar tanggung jawab? Bagaimanakah kami bisa berkarier dalam lingkungan yang demikian?” Inilah beberapa pertanyaan yang disampaikan kepada saya oleh para peserta Pelatihan Dasar CPNS di Asrama Haji Banjarbaru, Rabu 6 Oktober 2021 lalu.

Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan impian ribuan bahkan jutaan sarjana di Indonesia. Sudah maklum, lowongan PNS yang dibuka seringkali terlalu amat sedikit dibanding peminat yang membludak. Seperti dalam hukum ekonomi, jika permintaan tinggi sementara persediaan sedikit, maka harganya akan naik. Apalagi gaji PNS lumayan tinggi, terutama sejak Era Reformasi. Asalkan penuh syukur, hidup seorang PNS niscaya terasa makmur. Karena itu, ada saja orang yang mau melakukan apapun demi lulus Tes CPNS, termasuk permainan yang melanggar moral dan hukum.

Pemerintah sebenarnya sudah berusaha keras agar seleksi PNS lebih ketat dan bersih. Yang sudah berlaku selama ini adalah Computer Assisted Test (CAT) yang dikerjakan melalui aplikasi elektronik. Dalam CAT orang harus mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Hasilnya sangat objektif berupa angka yang keluar otomatis setelah peserta selesai mengerjakan soal. Tes tahap selanjutnya berupa wawancara dan tes keahlian memang masih membuka peluang penyelewengan. Namun, penguji yang lebih dari satu orang untuk tiap peserta dan kewajiban penguji menulis alasan di balik nilai yang diberikannya diharapkan mengurangi peluang penyelewengan itu.

Singkat kalimat, seleksi CPNS dalam beberapa tahun terakhir relatif lebih bersih dan transparan dibanding masa sebelumnya, lebih-lebih di masa Orde Baru. Harapan pun besar bahwa ke depan birokrasi pemerintah akan semakin bersih dan berwibawa. Namun, seperti kata Eko Prasujo, ibarat kolam, jika air terdahulu sudah kotor, meskipun air yang baru masuk itu jernih, hasilnya akan tetap kotor atau paling tidak, tetap keruh. Sejumlah pertanyaan yang diajukan para peserta Pelatihan Dasar CPNS di atas menunjukkan hal tersebut. Pengalaman mereka bekerja setelah diangkat menjadi CPNS menunjukkan gejala bahwa air yang bersih dapat mudah tercemar oleh yang kotor.

Dengan menghela napas, saya mencoba menanggapi pertanyaan mereka. Pertama, seorang pegawai baru yang menjadi bawahan tentu harus bekerja sesuai perintah atasan. Tiap pegawai, yang berada dalam posisi paling rendah sekalipun, tentu memiliki tugas dan tanggung jawab sendiri. Dia harus menjaga integritasnya, kejujurannya, dalam batas wewenang dan tanggungjawabnya itu. Hal-hal di luar itu, adalah tanggung jawab orang lain. Jika dia diperintahkan oleh atasan melakukan sesuatu yang menyimpang, yakni melanggar peraturan dan hukum, dia harus mengingatkan pimpinannya. Jika pimpinan sudah diingatkan dan dia tidak peduli, itu bukan tanggungjawabnya lagi.

Kedua, janganlah kita berburuk sangka bahwa semua pegawai itu korup dan pemalas. Dalam suatu lingkungan, banyak atau sedikit, selalu ada orang-orang baik yang menjaga integritas. Mereka lebih peduli pada yang halal meskipun sedikit ketimbang banyak tetapi haram. Karena itu, berusahalah mengenali orang-orang baik ini, dan bertemanlah dengan mereka. Berteman dengan orang-orang baik dan jujur akan mendorong kita untuk istiqamah, konsisten dengan nilai-nilai moral yang kita yakini. Ketika kita merasa terpukul, dimusuhi dan dipinggirkan oleh orang-orang yang korup, hati kita akan terhibur dan tenang ketika berjumpa dan berbagi cerita dengan teman-teman yang baik itu.

Ketiga, perjuangan moral, yakni berpegang teguh pada yang baik dan benar, adalah perjuangan manusia sepanjang hayat. Nilai dalam perjuangan ini bukan apakah kita berhasil mewujudkan cita-cita birokrasi yang bersih dan melayani ataukah tidak, tetapi apakah kita lulus menghadapi godaan atau tekanan kekuatan jahat. “Dialah yang menciptakan hidup dan mati, untuk menguji siapakah di antara kalian yang paling baik perbuatannya,” kata Alqur’an (QS 67:2). Karena itu, jangan merasa lelah dan kalah ketika orang-orang korup itu menang dan berkuasa. Kemenangan mereka adalah fatamorgana. Kebatilan, bagaimanapun, akan lenyap. Hanya kebaikan yang dapat terus bertahan.

Keempat, masalah birokrasi kita tidak hanya terkait integritas tetapi juga kompetensi, tidak hanya kejujuran tetapi juga kemampuan. Karena itu, seorang PNS tentu tidak cukup hanya jujur, tetapi juga harus memiliki keahlian dan kemampuan yang dapat diandalkan sesuai dengan tuntutan zaman. Era revolusi industri keempat tentu berbeda dengan era mesin tik. Dulu orang kekurangan informasi, sekarang kita diserbu tsunami informasi. Meskipun kita sudah sarjana, bahkan sudah berpendidikan S-3, kita tetap harus terus belajar meingkatkan ilmu dan keterampilan. Percayalah, jika Anda memiliki keduanya, integritas dan kompetensi, orang pasti akan sangat sulit menyingkirkan Anda.

Saya tidak tahu, adakah yang bergetar di hati anak-anak muda itu, ketika mendengar nasihat saya. Saya malah melihat keraguan di wajah sebagian mereka. “Apa yang saya katakan tadi adalah juga nasihat untuk diri saya sendiri. Janganlah Anda kira menjadi bawahan lebih sulit menjaga integritas dibanding atasan. Godaan dan tekanan terhadap seorang atasan jauh lebih besar. Mohon doa agar saya juga bisa tetap istiqamah dan selamat dari tipu daya dunia,” kataku menutup pembicaraan. Yang pasti, tiap kita perlu saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran (QS 103:3). (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved