Breaking News:

Berita Banjar

VIDEO Melihat Perajin Buah Kaukah di Desa Kampung Melayu Martapura Timur

Nana merangkai buah Kaukah atau kerap disebut kayu fukaha menjadi gelang tangan. Gelang tangan itu yang kerap menghiasi lengan kanan Bupati Banjar

Penulis: Mukhtar Wahid | Editor: Hari Widodo

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Nana (20) terampil memasukan jarum terikat benang nilon hitam  yang berisi buah Kaukah berbentuk bulat.

Apabila buah kaukah hingga berjumlah 33 butir, kemudian jarum benang nilon itu ditarik dan diikatnya. Lalu korek api gas dinyalakan diujung benang nilon agar simpul ikatan kuat.

Nana merangkai buah Kaukah atau kerap disebut kayu fukaha menjadi gelang tangan. Gelang tangan itu yang kerap menghiasi lengan kanan Bupati Banjar Haji Saidi Mansyur.  

Gelang itu multi fungsi, bisa sebagai gelang lengan, bisa untuk tasbih karena jumlahnya 33 butir dan bisa untuk hiasan gantungan kunci sepeda motor atau mobil biar selalu terbawa.

Nana adalah mitra kerja Abdullah, perajin Kaukah di Desa Melayu, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Ternyata, satu untaian gelang Kaukah, tasbih atau kalung itu  dikerjakan banyak perajin. Buah Kaukah didatangkan dari Timur Tengah.  

Satu biji buah Kaukah dikerjakana  banyak perajin, seperti membelah buah Kaukah, memotong, membelah segi empat kecil, melubangi dengan alat bor, menghaluskan bentuk, merangkai dengan benang nilon, memasarkan melalui gerai ataupun market place.  

Setiap hari rumah orangtua Abdullah dipenuhi remaja pria belasan tahun. Pekerjaan dimulai sekitar pukul 14.00 Wita hingga tiba salat Ashar.

Usianya masih 18 tahun sudah mampu mengkoordinir teman-temannya berjumlah belasan orang.

Bahkan dari usahanya sebagai perajin buah Kaukah, mampu mencukupi uang saku dan uang biaya sekolah teman-temannya.

"Alhamdulillah, lumayan uang saku sehingga tidak tergantung dari orangtua lagi," kata Abdullah.

Ada 15 pekerja, 7 orang perempuan. Semuanya teman satu sekolah Abdullah di Pondok Pesantren Daeussalam.

"Ada juga teman satu kampung. Sambil berkumpul kami bekerja," ujar Abdullah.

Abdullah mengaku awalnya ikut dengan perajin di desa tetangga. Belajar otodidak dan mendapatkan modal usaha dari orangtuanya, Abdullah mencoba mandiri.

"Sejak 2018 sudah mulai membuka usaha sebagai perajin Kaukah hongga kini. Alhamdulillah tetap berjalan dan banyak pesanan," katanya. (Banjarmasinpost.co.id/ Mukhtar Wahid)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved