Breaking News:

Opini Publik

Aktualisasi Kepemimpinan di Lingkungan Pegawai Negeri

Di mana pun seseorang menduduki posisi kepemimpinan, ia wajib menjalankan tugasnya dengan baik

Editor: Eka Dinayanti

Dr Hj Ratna Rosana MPd, Widyaiswara BPSDMD Provinsi Kalimantan Selatan

BANJARMASINPOST.CO.ID - SETIAP orang adalah pemimpin dan akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, begitulah agama mengajarkan. Pemimpin tentu banyak jenis dan lingkungannya, ada pemimpin dalam keluarga/rumah tangga yaitu ayah dan ibu, ada pemimpin lembaga pendidikan yaitu kepala sekolah, dekan dan rektor dan sebutan lainnya, pemimpin informal dalam lingkungan masyarakat seperti ulama dan kepala adat/kepala suku, dan ada pemimpin formal dalam masyarakat dan pemerintahan, mereka ini terdiri dari yang paling rendah seperti Ketua RT/RW, kepala desa dan lurah hingga yang tertinggi di level daerah seperti camat, bupati dan gubernur hingga level negara seperti presiden, menteri, direktur jenderal dan sejenisnya.

Di samping itu ada juga pemimpin dalam suatu satuan kerja, mereka ini bisa terdiri dari kepala kantor, kepala bagian, seksi dan sebagainya.

Di mana pun seseorang menduduki posisi kepemimpinan, ia wajib menjalankan tugasnya dengan baik. Keberhasilan seseorang dalam menjalankan tugasnya, bukan ditentukan oleh tinggi rendah jabatannya, melainkan pada kemampuan mengaktualisasikan dirinya sebagai pemimpin, meskipun jabatannya relatif rendah.
Artinya, seorang pemimpin jauh lebih baik jika ia berhasil memimpin satuan kerja yang kecil daripada memimpin dalam lingkungan kerja yang tinggi atau besar namun tidak berhasil.

Agar seseorang pemimpin mampu mengaktualisasikan kepemimpinannya, maka ia harus memiliki beberapa keahlian (skills/abilities). Para ahli manajemen dan sumber daya manusia seperti Auren Auris dan Rex F Harlow menyebut beberapa keahlian yang harus dimiliki dan dibutuhkan oleh seorang pemimpin.

Di antaranya adalah personal skill, berupa daya ingat yang kuat, mampu berkonsentrasi dalam bekerja, dan mungkin juga dapat ditambahkan adalah kapasitas dan kewibawaan sebagai seorang pemimpin. Hal ini tentu sangat penting, karena kita sering melihat pemimpin yang tidak fokus sehingga program kerja yang akan dijalankan tidak tentu arah, tidak jelas tujuan dan targetnya dalam jangka waktu tertentu.

Terkait hal ini juga diperlukan conceptual skill, keahlian dalam hal konsep keilmuan dan keterampilan. Di sini penting seorang pemimpin adalah orang yang menguasai bidang tugas instansi dan unit kerja yang dipimpinnya. Penguasaan pada bidangnya ini hanya dapat diwujudkan apabila pemimpin naik secara berjenjang, dengan pendidikan dan keahlian yang linear bukan sistem tunjuk oleh kepala daerah sehingga pemimpin tersebut terkesan karbitan.

Apabila terjadi hal yang demikian, maka biasanya pemimpin tersebut kurang dalam hal kapasitas, sehingga ia tidak mengetahui apakah pekerjaan bawahannya benar atau salah, dan kemudian kurang berwibawa sehingga tidak ada kedisiplinan dalam lingkungan kerja.

Pemimpin juga penting sekali memiliki human skill, yaitu kemampuan kemanusiaan berupa keahlian untuk memoltivasi dan menjalin komunikasi baik vertikal maupun horisontal. Ada kalanya pegawai lambat dalam bergerak, maka diperlukan motivasi dalam berbagai bentuknya. Tidak mesti motivasi tersebut hanya berupa uang atau upah kerja, tetapi dorongan semangat dan penghargaan kepada bawahan juga tidak kalah pentingnya.

Dalam sebuah unit kerja pastilah ada banyak pegawai yang terlibat, dan ada instansi lain yang terkait dalam pelaksanaan tugas. Di sinilah pentingnya kemampuan memotivasi anak buah, dan di sisi lain menjalin kerjasama.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved