Breaking News:

Wisata Pagat di HST Masih Memikat

Wisata Kalsel, Pagat HST Menyimpan Legenda Raden Penganten si Anak Durhaka yang Dikutuk Diang Insun

Pagat memiliki cerita legenda Raden Penganten, ceritanya sama dengan Malin Kundang si anak durhaka yang kena kutukan

Penulis: Hanani | Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/hanani
Patung Diang Ingsun, di balik cerita Raden Panganten yang durhaka, dikutuk menjadi batu bersama kapal yang ditumpanginya yang dipercaya adalah gua di kaki bukit Sarigading 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Wisata Pagat di Kecamatan Batubenawa, Hulu Sungai Tengah, juga memiliki cerita legenda Raden Penganten.

Ceritanya sama dengan Malin Kundang, hanya beda nama dan tempat.

Raden Penganten dikisahkan sebagai anak durhaka, kepada ibunya, Diang Insun.

Setelah menikahi seorang perempuan cantik dia tak mengakui ibunya hingga dikutuk lalu perahu yang ditumpanginya berubah menjadi batu.

Batu-batu besar memang banyak terdapat di sekitar Kawasan Pagat.

Pagat dalam Bahasa Banjar, artinya putus.

Baca juga: Wisata Kalsel, Pagat di HST Nan Legendaris, Lama Tutup Selama Pandemi, Kini Boleh Dikunjungi

Baca juga: Wisata Kalsel, Pagat di HST Tawarkan Kesejukan Sungai dan Taman Luas

Kata tersebut bisa mengambarkan sesuatu yang terbagi atau terbelah.

Kapal yang ditumpangi Raden Penganten putus atau terbelah menjadi batu saat dia dikutuk.

Cerita lengkapnya pun digambarkan pada relief yang ada di sepanjang dinding pagar dekat pintu masuk objek wisata.

Baca juga: Wisata Kalsel, Pemandu Siap Temani Menelusuri Misteri Gua di Pagat HST

Baca juga: Wisata Kalsel, dari Atas Puncak Sarigading di Pagat HST Bisa Melihat View Kota Barabai

Berdasarkan cerita itu, gua yang ada di kaki bukit Sarigading merupakan buritan kapal yang ditumpangi Raden Penganten setelah terbelah atau terputus dari awaknya menjadi tiga.

Bahkan diyakini pula bagian tengah kapal tersebut adalah Gua Liang Hadangan di Desa Mandala, Batubenawa dan bagian depannya ada di gua yang letaknya di Loksado, Hulu Sungai Selatan.

Warga Barabai yang pernah memasuki gua itu pun mengatakan, bagian dalam gua yang merupakan bongkahan batu besar mirip kapal.

“Ada bagian mirip buritan kapal, dengan ruang cukup besar. Semua yang ada di dalam adalah batu. Ada dua jalan, salah satunya tembus ke belakang, satunya menurut pemandu saat itu tembus ke liang Hadangan. Tapi kami tak berani memasuki pintu-pintu itu, takut tersesat,” kata Norliani, warga Barabai.

(banjarmasinpost.co.id/hanani)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved