Breaking News:

Berita Tanahlaut

Lubang Tambang di Bukitmulya Tanahlaut, Pemerintah Desa Sebut Belum Terima Laporan Warga Terdampak

Lubang tambang menganga di Desa Bukitmulya, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), merisaukan warga sekitar lokasi

Editor: Syaiful Akhyar
banjarmasinpost.co.id/ir
RAWAN - Penampakan tebing curam tambang dilihat dari jendela samping kiri rumah Abdul Syukir, warga Desa Bukitmulya 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Lubang tambang menganga di Desa Bukitmulya, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), merisaukan warga yang berada di sekitar lokasi.

Warga yang rumahnya terdampak lubang tebing tambang yang longsor, Abdul Syukur, mengaku beberapa waktu lalu pernah mengadu kepada pemerintah desa setempat.

Warga RT 13 RW 4 ini meminta bantuan pemerintah desa setempat untuk mencarikan solusi, menyambungkan lidah kepada pihak penambang atas persoalan yang ia alami.

Bapak satu anak ini berharap pihak penambang mengganti rugi rumahnya yang rusak (retak-retak) terdampak tebing lubang tambang yang longsor hingga mendekati dinding rumahnya.

Baca juga: Identitas Mantan Kekasih Kim Seon Ho Tersebar, Jalur Hukum Pun Bakal Ditempuh

Baca juga: Vaksinasi FKIP ULM, Kampus Kerahkan Armada Bis Angkut Mahasiswa ke RS Ansari Saleh

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Terjaga, Pandemi Terkendali, Bukti Tepatnya Kebijakan dan Program Pemerintah

 

Namun penuturan pihak desa, Abdul Syukur belum pernah melapor. "Setahu saya belum ada lapor kepada kami," ucap Suparno, kepala Desa Bukitmulya, Kamis (21/10/2021).

Ia menegaskan jika warganya tersebut melapor secara resmi tentu akan ditindaklanjuti. "Ya memang rumah beliau sangat dekat dengan lubang tambang dan rumahnya ada rusak. Setahu kami pihak penambang ada pembicaraan dengan pemilik rumah," tandasnya.

Dikatakannya, di wilayah RT 13 dan sekitarnya memang ada beberapa rumah warganya yang berdekatan dengan lubang tambang batu bara. Umumnya pihak penambang telah melakukan pembicaraan dengan pemilik rumah/tanah dan diganti rugi.

Contohnya di warga yang dulu bermukim di lingkungan RT 5 dan 7, semuanya melepaskan rumah/tanah untuk ditambang melalui ganti rugi. "Dalam hal seperti itu kami tidak mau mencampuri karena urusan pemilik lahan dengan penambang, warga juga tak lapor. Kalau ada masalah biasanya baru lapor," sebut Suparno.

Dikatakannya, dulu di desanya jumlah RT sebanyak 20. Namun sekarang cuma sisa 18 RT. Dua RT yakni RT 5 dan 7 hilang karena warganya hijrah bermukim ke wilayah RT lain setelah lahan/tanah masing-masing diganti rugi penambang.

Suparno menuturkan sepengetahuannya Abdul Syukur beberapa waktu lalu juga pernah mendapatkan bantuan uang dari penambang sekitar Rp 1,5 juta per bulan. "Selanjutnya seperti apa kami tidak tahu karena tidak ada lapor," sebutnya.

Pihaknya juga mendengar ada rencana ganti rugi dari penambang kepada warganya itu. Namun pihaknya juga tidak mengetahui perkembangannya karena tidak pernah dilapori. "Kalau misal sekarang ada masalah dan lapor kepada kami, ya pasti lah kami bantu," tandas Suparno.

Sekadar diketahui, Desa Bukitmulya dulu merupakan unit permukiman transmigrasi tahun 1982 yang disebut dengan UPT Blok C.

Setelah definitif menjadi desa dinamai Desa Bukitmulya. Jumlah penduduk sekarang sebanyak 723 KK, sebagian besar penduduk setempat menggantungkan hidup dari hasil kebun karet dan sebagian bercocok tanam palawija dan sayuran.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved