Breaking News:

Opini Publik

Urgensi (Kembalinya) PTM

Meskipun sifatnya masih terbatas, kita patut bersyukur karena anak-anak kembali menginjakkan kaki, menikmati segarnya udara sekolah.

Editor: Eka Dinayanti

Oleh: Muh. Fajaruddin Atsnan, Dosen UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - AYO anak-anak, buka bukunya halaman 15 ya. Siapkan juga PR yang ibu berikan kemarin. Kalau sudah, siapkan buku catatan dan alat tulisnya ya. Ibu mau melanjutkan materi kemarin. Begitu cara Dea, ponakan kelas 6 SD, mempraktikan gaya gurunya ketika awal masuk sekolah tatap muka. Tidak ada yang berubah, masih dengan kebiasaan lama guru-guru kita. Kalau begitu ceritanya, berarti tidak ada ucapan selamat datang yang “wow” untuk merayakan geliat kembali PTM.

Di satu sisi, tentu gaya lama guru mengajar mengobati kerinduan para muridnya. Namun kebiasaan tersebut sekaligus menandakan berarti tidak ada inovasi dan seni baru dalam mengajar, hasil semedi dan bertapa selama Pandemi. Entahlah, yang jelas gaya mengajar “datang, duduk, mencatat” adalah gaya zaman “kolonial” sebelum Pandemi datang, dan seharusnya bisa divermak dengan gaya zaman “milenial” setelah pandemi.

Urgensi PTM
Meskipun sifatnya masih terbatas, sebagai langkah preventif, kita patut bersyukur karena anak-anak kembali menginjakkan kaki di sekolah, menikmati segarnya udara sekolah.

Sembari menebar senyum tanda kebahagiaan setelah sangat lama berkutat pada pembelajaran virtual alias daring dengan segala dinamika kelebihan dan kekurangannya.

Tentunya dengan baju seragam plus alat pelindung diri ala-ala anak sekolah, seperti faceshield, masker, dan tentunya handsanitazer. Semua disiapkan demi terlaksananya PTM yang kondusif dan berkelanjutan.
Menyambut kembalinya PTM, yang utama adalah sikap dan respon kondisi tersebut.

Kita tak boleh jumawa lebih-lebih larut dalam euforia PTM ini, karena hingga saat ini kita masih saja mendengar kluster-kluster sekolah muncul, kasus positif Covid-19 dari sekolah.

Maka dari itu, ketika PTM dipilih, konsekuensinya adalah kita tak boleh lengah, karena Covid-19 masih ada, protokol kesehatan ketat dibarengi sikap disiplin diri, patut dikedepankan. Kita juga seyogyanya menyadari betul apa urgensi atau pentingnya PTM ini digelar, agar PTM menjadi solusi kemaslahatan pendidikan, bukan sebagai kendala kemudhorotan.

Pertama, meminimalisir ancaman learning loss. Sudah banyak kajian akan ancaman learning loss akibat PJJ selama pandemi. Kurangnya asupan gizi pendidikan hampir 2 tahun ini membuat pengetahuan dan wawasan anak-anak sekolah sangat mengkhawatirkan. Kita belum bicara pada ranah substanstif materi, tetapi baru pada tataran pengetahuan dasar, seperti bunyi Pancasila, bendera negara dll.

Lamanya tak sekolah tatap muka membuat kegiatan upacara rutin tiap senin lenyap. Membuat ingatan anak-anak akan bunyi lima pasal Pancasila juga lupa-lupa ingat.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved