Breaking News:

Fikrah

Keutamaan Membaca Surah Al-Waqi’ah

janganlah ditinggalkan pada setiap harinya shalat Dhuha, karena shalat Dhuha adalah penolak kefakiran

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC 

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - DIRIWAYATKAN, seorang sahabat Nabi bernama Abu Umamah sakit. Ia didatangi oleh Umar bin Khatab. Khalifah menawarkan, “Wahai sahabatku maukah kamu kupanggilkan tabib untuk mengobatimu.” Abu Umamah menjawab, “Tidak usah karena kebanyakannya tabib menambah parah.”

Khalifah menjawab,” Kalau begitu ini sejumlah uang kuberikan kepadamu untuk segala keperluanmu.” Dengan halus Abu Umamah menjawab, “Tidak usah wahai khalifah, mungkin ada orang lain yang lebih membutuhkan dari pada aku.”

Khalifah menjawab, “Berikan kepada anakmu yang perempuan.” Abu Umamah menjawab, “Tidak usah wahai khalifah, karena aku sudah berpesan kepada anak-anakku pada setiap malam membaca surah Al-Waqi’ah. Rasulullah saw bersabda, barangsiapa membaca surah Al-Waqiah pada setiap malamnya orang itu tidak akan ditimpa oleh kefakiran, inilah yang aku wasiatkan kepada anak-anak putriku dan aku yakin mereka tidak akan ditimpa kefakiran sesuai janji nabi dalam sabdanya.”

Dalam riwayat yang lain seorang sahabat bernama Abu Darda. Pada suatu ketika Abu Darda berada di suatu kawasan. Kepadanya diberitahukan bahwa di daerah kawasan tempat tinggalnya terjadi kebakaran.

Abu Darda tenang saja dan bahkan berkata, “Biarlah aku yakin rumahku tidak terbakar karena aku telah membaca do’a keselamatan yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. Do’anya berbunyi allahumma inni a udzubika minnal gharaki wal haraki wak juzam wa sai il askal wa jami il hannai wal fitan ( ya allah aku berlindung kepada engkau dari pada kebakaran, tenggelam, cacar dan semua cobaan).”

Demikanlah untuk keselamatan kita dalam sehari-hari seyogyanya kita pada setiap malamnya membaca surah Al-Waqiah ini di samping surah Yasin sebagai penebus dosa dan surah Al-Mulk sebagai pengaman di dalam kubur.

Dalam pada itu janganlah ditinggalkan pada setiap harinya shalat Dhuha, karena shalat Dhuha adalah penolak kefakiran dengan do’a allahumma inna dhuha a dhuha uka (ya allah sesunguhnya waktu dhuha adalah kepunyaanmu) wal baha a baha uka (kemuliaan adalah kemulianmu), allahumma bihaki dhuha ika wa baha ika inkana rizki wisama i fa anzilhu wa inkana fi ardi fa akhrijhu ( ya allah jika rizkiku dilangit mohon turunkan jika sekirannya rizkiku di dalam bumi mohon keluarkan), wa inkana muk siran fa yasirhu (jika sekiranya sulit mohon engkau mudahkan) wa inkana khalilan fa hasirhu (jika sekiranya sedikit mohon engkau banyakaan), wa inkana haraman fa halilhu (jika sekiranya haram mohon engkau halalkan) wa’ tini maa ataita bihi ibadaka solihin (dan berikan kepadaku apa yang engkau berikan kepada hamba yang soleh), wa adnini bi halalika an haramika (cukupkanlah aku dengan apa yang halal dari apa yang engkau berikan kepadaku), wa agnini bi fadlika aman siwaka (cukupkanlah aku dengan yang halal dengan kelebihan yang engkau berikan kepadaku dari pada yang lain).

Demikianlah, kembali kepada riwayat tentang Abu Darda tadi, ternyata di kawasan Abu Darda tinggal memang terjadi kebakaran besar tetapi rumah Abu Darda tidak terbakar, arah angin bertiup menjauhkan api dari rumah orang lain dan menyingkir dari rumah Abu Darda.

Demikianlah shalat Dhuha untuk selalu kita amalkan demikaian pula do’a Abu Darda kita baca setelah shalat Dhuha semoga sesuai janji Rasulullah kita terhindar dari kebakaran, tenggelam, semua fitnah dan cobaan.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved