Breaking News:

Tradisi Masyarakat Banjar Zaman Dulu

Perempuan Banjar Merawat Tubuh dengan Bahan Alami Disertai Mantera Penambah Aura Kecantikan

Perempuan Banjar dulu melakukan perawatan lulur menggunakan daun kayu sapat, sekarang sudah langka namun masih digunakan di beberapa rumah timung

Penulis: Syaiful Anwar | Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/hanani
Pupur bangkal, produk alami menghaluskan kulit dan wajah yang masih digunakan masyarakat Hulu Sugai Tengah 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Konsep cantik masyarakat Banjar pada zaman dulu memaknai cantik lebih dalam.

Makna kecantikan fisik (outer beauty) atau kecantikan lahiriah yaitu cantik bentuk luar tubuh perempuan berupa kulit yang bersih dan bersinar.

"Konsep kecantikan bagi masyarakat Banjar dulu (orang Dayak Ngaju dan orang Bukit) lebih dimaknai dari segi fisik sebagaimana dapat dilihat dari prilaku mereka dalam merawat kecantikan dengan mengunakan beberapa ramuan untuk perawatan kecantikan tubuh," kata Antopolog, Dr Tutung Nurdiyana, S.Sos, MA, MPd.

Dia mencontohkan salah satu bentuk perawatan tubuh khas Banjar yaitu luluran yang dilakukan untuk mendapatkan kulit yang halus dan bersih.

Baca juga: Dulu, Masyarakat Banjar Percaya Panting yang Ada Azimat di dalamnya Akan Melahirkan Suara Indah

"Perempuan Banjar dulu melakukan perawatan lulur dengan menggunakan daun kayu sapat, sekarang sudah langka namun masih digunakan di beberapa rumah timung yang ada di Banjarmasin," paparnya.

Ditambahkan Ketua Prodi Sendratasik FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin ini, Daun kayu sapat kulitnya diambil kemudian dijemur lalu direbus, setelah direbus ditumbuk menjadi halus seperti pupur (bedak) kemudian digosok-gosokkan ke badan.

Dengan menggosok-gosokkan bedak kayu sapat menjadikan kulit bersih dan bersinar.

Selain menggunakan daun kayu sapat untuk mendapatkan kulit yang bersih dan bersinar, perempuan Banjar zaman dulu juga menggunakan kayu bangkal untuk menghaluskan kulit (bahan ini sudah langka namun masih tetap digunakan oleh masyarakat Banjar sampai sekarang).

Baca juga: Tradisi Pembuat Topeng di Kalsel, Alpi Siapkan Sesajen Menghindari Hal yang Tak Diinginkan

"Adanya berbagai perawatan kecantikan yang menggunakan berbagai ramuan untuk perawatan kecantikan menunjukkan bagaimana perempuan Banjar berupaya dalam merawat tubuhnya, khususnya kulitnya. Mereka berupaya untuk menjaga fisik (kulit mereka) agar senantiasa terlihat bersih dan bersinar dan ini menunjukkan bahwa konsep cantik bagi mereka adalah kulit terlihat bersih dan bersinar," tegas Tutung.

Konsep cantik masyarakat Banjar yang dimaknai sebagai kecantikan fisik yaitu kulit yang bersih dan bersinar diperoleh melalui berbagai perawatan tubuh dengan menggunakan ramuan-ramuan.

Selain melakukan perawatan kecantikan fisik, lanjut dia, mereka juga melakukan berbagai ritual untuk menghasilkan aura kulit yang bersih dan bersinar.

"Ritual-ritual atau berbagai mantera-mantera ini dilakukan untuk memancarkan cahaya dari tubuh perempuan. Mereka meyakini bahwa dengan dibacakan mantera-mantera tersebut aura yang dimiliki oleh seorang perempuan akan tampak bersinar sehingga menambah kecantikan perempuan," tandas Tutung.

(banjarmasin post.co.id/syaiful anwar)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved