Breaking News:

Opini Publik

Santri dan Spirit Kebangsaan

Pertanyaannya, apakah pengukuhan hari santri telah mereduksi sensitivitas masyarakat terhadap santri dan pesantren yang kerap dianggap radikal?

Editor: Eka Dinayanti

Oleh : Nurul Yaqin, Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Agama Islam Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA)

BANJARMASINPOST.CO.ID - DEKLARASI Hari Santri Nasional 22 Oktober oleh Presiden Joko Widodo telah berusia enam tahun. Keputusan Presiden (Keppres) nomor 22 tahun 2015 tersebut bermuara pada penandatanganan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 oleh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari dan para kiyai se-Jawa dan Madura.

Pertanyaannya, apakah pengukuhan hari santri tersebut telah mereduksi sensitivitas masyarakat terhadap santri dan pesantren yang kerap dianggap kaum radikal? Atau sekadar seremonial tahunan yang tidak memberikan efek apapun terhadap eksistensi pesantren?

Pertanyaan di atas muncul menyikapi kasus yang sempat viral, tepatnya pada pertengahan September lalu. Topik santri tiba-tiba menjadi perbincangan hangat di jagat media sosial.

Pasalnya, tersebar sebuah video yang mempertontonkan para santri sedang menutup telinga lantaran ada lantunan musik ketika pelaksanaan vaksinasi di Indramayu. Maka, pecahlah pro dan kontra di kalangan publik.

Nada nyinyir mulai bertebaran menganggap santri bertindak radikal dan memperoleh pendidikan yang tidak benar.

Namun, tidak sedikit netizen, tokoh publik, dan para ustad yang merespons dan membela para santri. Mereka bertindak demikian hanya semata-mata untuk menjaga hafalan Al-Qur’an. Sebagaimana mafhum bersama bahwa menjaga hafalan Al-Qur’an merupakan hal yang sangat berat.

Stereotip miring yang mengklaim santri radikal adalah sebuah tuduhan terlalu dini dan tak berdasar.

Banyak yang bertanya, mengapa menutup telinga ketika ada musik spontan diklaim radikal? Apakah tindakan yang dilakukan para santri telah mengancam tatanan sosial dan tegaknya NKRI? Realitanya, santri itu hanya menutup telinga demi tujuan mulia (menjaga hafalan Qur’an).

Bahkan, mereka tidak ada yang protes ke panitia vaksinasi ketika dinyalakan alunan musik meskipun kontraditif dengan kredo mereka. Bukankah ini bentuk toleransi nyata santri kepada masyarakat lain yang ingin mendengarkan musik?.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved