Sentra Pengrajin Intan Era 90an

Bahan Mentah Intan di Martapura Mulai Sulit Didapat, Banyak Pengrajin Beralih Mengolah Buah Pukaha

Kini sebagian pengrajin intan beralih menjadi pengrajin buah pukaha untuk membuat tasbih, kalung, gelang dan cincin.

Penulis: Mukhtar Wahid | Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/mukhtar wahid
Dup dan Iskip inilah yang membuat sudut intan menjadi berlian berkilau 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Pengrajin Intan di Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tidak seramai dahulu.

Kini sebagian pengrajin intan beralih menjadi pengrajin buah pukaha untuk membuat tasbih, kalung, gelang dan cincin.

Muhammad Busiri, pengrajin intan di Jalan Rel Gang Berkat RT 01 Desa Pesayangan Barat, Kecamatan Martapura, membenarkan hal itu.

"Paling ada sekitar 10 persen yang bertahan sebagai pengrajin mengosok intan. Selebihnya menjadi pengrajin Pukaha," katanya.

Dia menduga karena bahan mentah intan sulit diperoleh.

Baca juga: Era 90-an, Desa Pesayangan Barat Martapura Dikenal sebagai Sentra Pengrajin Intan

Baca juga: Keahlian Pengrajin Intan di Desa Pesayangan Martapura Didapatkan Turun Temurun

Baca juga: Begini Rumitnya Pekerjaan Pengrajin Intan di Desa Pesayangan Martapura

Pelaku pendulangan intan di wilayah Cempaka tidak lagi menjual ke Pasar Martapura.

Alasan Muhammad Busiri tetap menjadi pengrajin karena menerima upah dari pemilik intan dari Pulau Jawa.

Dia mengaku intan yang diperolehnya merupakan berlian yang diperoleh dari pengrajin Martapura yang bermukim di Pulau Jawa.

"Saya olah lagi agar kemilau. Intan simpanan atau koleksi pedagang intan dari Jawa," katanya.

Menurutnya, intan dahulu diolah atau digosok oleh pengrajin intan tahun 1970.

"Alat gosoknya saat itu tidak secanggih sekarang," katanya.

(banjarmasinpost.co.id/ mukhtar wahid)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved