Breaking News:

Kolam Air Panas di HST

Wisata Kalsel, Sejumlah Infrastruktur Kolam Air Panas HST Banyak Mengalami Kerusakan

kolam pemandian air panas di Desa Murung B, Kecamatan Hantakan, HST harus bersaing dengan objek wisata alam lainnya yang bermunculan

Penulis: Hanani | Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/hanani
Loket tempat membeli karcis masuk pengunjung ke kawasan kolam pemandian air panas, tak digunakan lagi 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Sebagai wisata alam yang sudah ternama, kini kolam pemandian air panas di Desa Murung B, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah harus bersaing dengan objek wisata alam lainnya yang bermunculan dan dikelola masyarakat.

Menurut Faridah Zaitun Noor, hampir dua tahun pandemi, terjadi penurunan drastis tingkat kunjungan.

“Sejak saat itu, pendapatan menurun drastis. Biasanya kalau lebaran idul Fitri dan Idul Adha, pendapatan per hari mencapai Rp 8 juta sampai Rp 10 juta,” kata nenek Faridah, penjaga kolam sekaligus pemilik lahan setempat.

Disebutkan, kolam pemandian air panas dibangun tahun 1995.

Baca juga: Wisata Kalsel, Kolam Air Panas Desa Murung HST, Empat Kolam dengan Suhu Berbeda

Baca juga: Wisata Kalsel, Kolam Air Panas Desa Murung HST Dipercaya Menyembuhkan Penyakit Kulit hingga Rematik

Saat itu, juga dibangun kolam pemancingan ikan, yang senantiasa diramaikan mancing mania.

Namun, seiring bermunculan wisata baru, dan rusaknya sejumlah infrastruktur pendukung seperti gazebo, toilet, titian kayu menuju lokasi kolam, tingkat pengunjung pun berkurang.

Ditambah lagi masa pandemi covid-19.

“Sekarang ramainya cuma Sabtu dan Minggu, atau hari libur nasional. Hari biasa, ada saja yang berkunjung, cuma sedikit,” ungkap Faridah.

Kolam pemandian air panas dikelola masyarakat, dimana pemilik lahannya tak hanya satu orang.

Baca juga: Wisata Kalsel, Pengunjung Dilarang Memasuki Area Berpagar di Kolam Tiga Pemandian Air Panas HST

Baca juga: Wisata Kalsel, Mudah Diakses, Jalan Menuju Kolam Air Panas di HST Melewati Kebun Buah Lokal

Untuk lokasi kolam, milik Nennek Faridah, sedangkan akses jalan masuk milik warga lainnya.

Kolam air panas dan infrastruktur yang ada dibangunkan oleh pemerintah kabupaten.

Pemkab HST tak bisa leluasa mengucurkan dana untuk pengembangan karena terkendala kepemilikan lahan.

Masyarakat sendiri menolak menjual lahannya ke Pemkab HST.

(banjarmasinpost.co.id/hanani)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved