Breaking News:

Jendela

Cermin Ibrahim Bin Adham

setelah meninggalkan istana, Ibrahim bin Adham menemukan seorang guru spiritual. Guru itu memerintahkannya berkelana sebagai seorang fakir.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - IBRAHIM bin Adham dikenal sebagai seorang sultan yang meninggalkan istana untuk menjalani hidup sebagai seorang sufi. Kisah ini, sebagaimana kisah Sidharta Gautama dalam tradisi agama Buddha, sungguh menarik, terutama bagi orang-orang yang rindu akan kebijaksanaan. Bukankah manusia sepanjang masa berlomba-lomba meraih jabatan dan kekuasaan? Namun mengapa ada orang yang mau melepaskan kekuasaan begitu saja tanpa dijatuhkan oleh siapapun?

Sikap Ibrahim bin Adham itu mungkin terkesan ekstrem, berlebihan. Namun, jika kita dalami lebih jauh, sikap ekstrem itu muncul sebagai reaksi terhadap sikap ekstrem lainnya yang sudah mewabah di masyarakat, yaitu ambisi banyak orang untuk mengejar kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Begitu pula, gerakan zuhud di awal perkembangan tasawuf, tidak bisa dipahami tanpa melihat perilaku para penguasa yang serakah dan suka berpesta pora. Para sufi kala itu mengingatkan masyarakat bahwa hidup zuhud, asketis atau miskin dan sederhana secara sukarela, jauh lebih mulia dan bahagia dibanding hidup serakah. Orang yang serakah adalah orang miskin yang sebenarnya. Orang yang haus kuasa adalah orang yang tak mampu melihat harga dirinya tanpa kekuasaan.

Dengan demikian, sikap kaum sufi harus dipahami sebagai upaya mengembalikan keseimbangan dan meletakkan sesuatu pada tempatnya. Kekuasaan adalah mulia jika dijadikan alat untuk mewujudkan kebaikan, keadilan dan kesejahteraan, tetapi buruk jika dijadikan alat untuk memperkaya diri sendiri dan menzalimi orang lain. Harta benda itu mulia jika digunakan untuk sebanyak mungkin berbuat kebaikan, dan menjadi buruk jika dijadikan tujuan semata, yakni harta demi harta itu sendiri sehingga ditumpuk untuk tujuh turunan! Semua ini terkait dengan tujuan dan makna hidup. Hidup ini adalah perjalanan kembali kepada Tuhan yang wajib diisi dengan amal saleh, perbuatan baik. Harta dan kuasa adalah sarana untuk beramal saleh dalam perjalanan itu.

Karena harta dan kuasa itu sesungguhnya adalah alat, bukan tujuan, maka siapapun yang memegang harta atau kuasa, dia memiliki tanggungjawab moral. Bagaimanakah harta atau kuasa itu didapatkan dan untuk apa digunakan? Jika kita menggunakan terminologi hukum Islam (fiqh), maka pertanyaannya adalah: apakah harta atau kuasa itu didapatkan dengan cara yang halal atau haram? Apakah harta atau kuasa itu digunakan untuk yang wajib, sunnah, mubah, halal atau haram? Jika kita menggunakan terminologi negara, maka pertanyaannya adalah: apakah harta atau kuasa itu diperoleh dengan cara mengikuti peraturan dan hukum yang berlaku? Apakah kekuasaan teguh mengikuti peraturan dan hukum selurus-lurusnya dan seadil-adilnya?

Namun, paling kurang ada dua kemusykilan di sini. Pertama, orang mungkin bertanya, mengapa para ulama, khususnya kaum sufi, lebih sering membahas bahaya godaan harta dan kuasa ketimbang manfaat keduanya? Bahkan ada kesan bahwa kaum sufi itu benci pada dunia dan berpikir serba akhirat. Jawabnya adalah karena kebanyakan kita, sebagai manusia, tanpa didorong pun akan sudah tertarik dan terpesona pada harta dan kuasa. Tanpa dimotivasi pun, manusia gampang tergoda pada kesenangan jangka pendek di dunia ini. Sebaliknya, kita mudah lupa dan abai terhadap kepentingan jangka panjang, tujuan hidup kita yang sejati, yaitu perjalanan menuju ilahi. Karena itulah, kaum sufi mengingatkan akan bahaya harta dan kuasa agar kita tetap berjalan di jalan lurus menuju Tuhan.

Kemusykilan kedua adalah, semua ajaran Islam yang disampaikan oleh para ulama sufi itu terlalu ideal dan normatif, sehingga bagi banyak orang sulit dilaksanakan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Agama, bagaimanapun, adalah sumber nilai, yang memberi petunjuk tentang yang baik dan buruk, benar dan salah, dosa dan pahala. Karena itu wajar jika ajaran-ajarannya menggambarkan yang ideal dan normatif. Tugas kita adalah berjuang untuk melaksanakannya. Kita perlu ilmu dan amal. Kita perlu melatih diri, setiap hari, untuk mengendalikan hawa nafsu. Semakin sering kita berlatih, semakin terkendalilah nafsu itu, dan terbiasalah kita dengan sikap dan perbuatan yang baik. Ketika kebaikan menjadi kebiasaan, maka ia akhirnya menjadi karakter kita, akhlak kita.

Proses itu jelas tidak mudah. Alkisah, setelah meninggalkan istana, Ibrahim bin Adham menemukan seorang guru spiritual. Guru itu memerintahkannya berkelana sebagai seorang fakir. Setelah lama berkelana, Guru mengizinkannya memasuki kota Bagdad. Namun, Guru juga memerintahkan murid-muridnya yang lain untuk mencegah Ibrahim memasuki gerbang kota. Setelah dihalangi berulang kali, Ibrahim akhirnya mendesak. Seorang murid menendang Ibrahim. Ibrahim tidak membalas tetapi berkata,”Kalian kan tahu, aku bukan sultan lagi.” Setelah guru mengetahui kejadian ini, dia berkata kepada Ibrahim: “Perjalananmu belum selesai. Perasaanmu sebagai sultan masih ada.”

Demikianlah, sebagai perjalanan, hidup adalah rentetan latihan dan perjuangan untuk menjadi baik dan lebih baik. Ini berlaku bagi orang-perorang, dan berlaku pula bagi masyarakat. Kisah Ibrahim bin Adham adalah cermin yang bening untuk melihat diri kita. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved