Breaking News:

Update Afganistan

Ekonomi Afganistan Kian Terpuruk, Anak Perempuan Pun Dikabarkan Dijual untuk Bertahan

Kondisi ekonomi Afganistan setelah rezim Taliban berkuasa kini justru kian terpuruk. Bahkan ada yang nekat menjual anak perempuannya

Javed TANVEER / AFP
Gambar ini diambil pada tanggal 9 November 2021 menunjukkan anak-anak Afganistan yang berpartisipasi dalam kelas tentang risiko ranjau yang diselenggarakan oleh HALO (Organisasi Pendukung Kehidupan Area Berbahaya) di Desa Nad-e-Ali di Provinsi Helmand. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kondisi ekonomi Afganistan setelah rezim Taliban berkuasa kini justru kian terpuruk. Bahkan, akibat kondisi ekonomi yang sulit, ada warga tang nekat menjual anak perempuannya agar dapat bertahan hidup.

Seperti diketahui, sejak pertengahan Agustus lalu Afganistan dalam kekuasaan pejuang Taliban. Namun sampai saat ini Taliban masih berjuang untuk mendapatkan pengakuan internasional.

Sementara itu kondisi dalam negeri yang mengalami kekeringan berkepanjangan membuat ekonomi masyarakat kian terpuruk. Ditambah lagi, selama kekuasan Taliban ternyata rakyat miskinlah yang harus membayar harga paling mahal agar dapat tetap bertahan.

Baca juga: Anak Perempuan Afganistan Segera Boleh Sekolah Lagi, Taliban Beri Sinyal Ini

Baca juga: Taliban Hancurkan Markas ISIS di Kabul, Balas Bom Masjid Afganistan

"Pandemi COVID-19, krisis pangan yang telah berlangsung, dan datangnya musim dingin semakin memperburuk keadaan," menurut laporan yang baru diterbitkan oleh UNICEF, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertanggung jawab untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan perkembangan kepada anak-anak di seluruh dunia.

"Pada tahun 2020, hampir setengah dari populasi Afganistan sangat miskin dan tidak bisa memenuhi kebutuhan seperti nutrisi dasar atau air bersih," menurut laporan tersebut. Dan ini menggambarkan kondisi sebelum pergolakan belakangan ini.

Seperti dilansir dari Tribunnews.com dengan judul Anak Perempuan Afganistan Mulai Dijual Keluarga untuk Bertahan Hidup.

Menurut UNICEF, jutaan anak masih membutuhkan bahan-bahan kebutuhan penting, termasuk perawatan kesehatan primer, vaksin polio dan campak, nutrisi, pendidikan, perlindungan, tempat tinggal, air dan sanitasi.

Sementara itu, Mohammad Ibrahim, penduduk Kabul, adalah salah satu dari banyak orang yang tidak punya pilihan lain selain menawarkan putrinya yang berusia tujuh tahun bernama Jamila untuk dijual. Uang hasil penjualan Jamila akan dipakai untuk membayar utang-utang keluarganya.

"Seseorang datang dan mengatakan kepada saya untuk membayar utang atau 'Saya akan membakar rumah Anda hingga jadi abu,'" kata Ibrahim kepada DW. Namun dia mendapat tawaran untuk "menyerahkan putrinya" guna melunasi utang.

"Pria itu orang kaya," lanjut Ibrahim. "Dan saya tidak punya pilihan lain dan saya menerima untuk menukarkan anak saya untuk membayar utang sebanyak 65.000 Afghani (sekitar Rp10 juta)."

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved