Breaking News:

Jendela

Tiga Perubahan Besar

Perubahan iklim, Covid-19 dan teknologi digital, merupakan tiga perubahan besar di abad ke-21 ini.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - “I hope you are keeping your feet dry these days. The photos I see of the flooding look very worrying. Deforestation and climate change will make things rapidly worse in the years ahead, I fear.” (Saya berharap kamu dapat menjaga kakimu tetap kering di hari-hari ini. Foto-foto banjir yang saya lihat tampaknya sangat mencemaskan. Saya khawatir, perusakan hutan dan perubahan iklim membuat berbagai hal makin buruk di tahun-tahun yang akan datang).

Kutipan di atas adalah surat elektronik seorang profesor di Eropa kepada saya pada saat terjadi banjir besar di Kalsel, Januari 2021 lalu. Sebagai seorang ilmuwan yang mengerti apa yang tengah terjadi, dia mengkhawatirkan keadaan alam semakin buruk pada tahun-tahun yang akan datang. Ini tampaknya memang terjadi di beberapa tempat. Misalnya, di Kalsel bulan November ini telah terjadi banjir di Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan dan Balangan. Di Kalteng juga banjir di Palangka Raya dan Sampit. Begitu pula di Sintang, Kalbar. Berbagai daerah di Sumatera dan Jawa juga mengalami banjir dan longsor. Di berbagai negara di luar negeri, hal serupa juga terjadi.

Para ilmuwan sudah lama mengingatkan bahwa penggundulan hutan, pertambangan, perkebunan yang merusak lingkungan hingga sampah plastik akan membahayakan hidup kita. Rumah kaca dan emisi yang banyak, juga akan menimbulkan pemanasan global. Namun, kita buta-tuli saja dengan peringatan ilmu itu. Ilmu rupanya sekadar wacana di kampus, sementara perilaku kita tidak mau mempedulikannya. Kita hanya mau mengikuti nafsu serakah. Apalagi, kita memang sudah tidak mampu melihat dan merasakan kesakralan alam yang perawan sebagai karya Tuhan. Kita bahkan melihat alam laksana pelacur yang ‘layak’ dieksploitasi tanpa harus bertanggungjawab.

Saat dunia mengalami perubahan iklim dan cuaca ekstrem itu, kita diserbu lagi oleh virus ganas bernama Covid-19. Bermula dari Wuhan, Tiongkok, virus ini menjalar ke seluruh penjuru dunia. Globalisasi benar-benar terjadi dalam darah dan daging kita, melalui infeksi virus berbahaya ini. Jutaan orang tertular, dan jutaan orang pula telah wafat. Tak sedikit orang-orang dekat yang kita cintai atau tokoh-tokoh masyarakat yang masih sangat diharapkan peran mereka, tiba-tiba pergi untuk selamanya. Kita pun hidup dalam aneka pembatasan protokol kesehatan. Para ilmuwan berjuang hingga vaksin diproduksi. Vaksinasi digalakkan, tetapi virus masih belum tuntas dikalahkan.

Orang-orang bijak mengingatkan, musibah wabah Covid-19 adalah pelajaran agar kita lebih rendah hati menyadari keterbatasan diri sebagai manusia. Betapa pun hebat kemajuan sains dan teknologi, kita sebenarnya masih lemah, bahkan hanya untuk menghadapi virus yang tak kasat mata itu. Para agamawan juga mengatakan, wabah ini adalah teguran dan ujian dari Tuhan, agar kita kembali sadar, introspeksi akan segala dosa kita, baik dosa kepada Tuhan, sesama manusia atau lingkungan. Namun, tetap saja ada orang yang tak mau sadar, memancing di air keruh, mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dana Covid-19 disimpangkan, dikorupsi atau diarahkan untuk memperkaya diri.

Yang pasti, apapun sikap yang kita ambil, perubahan iklim dunia dan wabah Covid-19 adalah perubahan besar dan dahsyat. Suka atau tidak suka, kita tengah berada pada satu penggalan sejarah peradaban umat manusia yang merupakan pergeseran bahkan tikungan yang tak pernah terjadi sebelumnya. Meminjam Slavoj ?i?ek, kita mau tak mau harus membangun normal yang baru dari reruntuhan yang lama. Meskipun kebanyakan manusia tak mau belajar dari musibah, para pemimpin, pembuat keputusan, haruslah orang-orang yang sadar akan perubahan besar ini. Mereka wajib mengikuti petunjuk ilmu, bukan nafsu, jika ingin dunia ini lebih baik di masa depan.

Apalagi, perubahan dunia secara fisik itu ditambah dengan perubahan besar di dunia lain, dunia baru yang kita ciptakan bernama dunia maya. Dunia maya adalah nyata sekaligus tidak, hadir sekaligus absen. Berkat ponsel pintar kita terhubung dengan dunia luar begitu mudah, cepat dan murah, hanya melalui sentuhan jemari kita. Globalisasi bukan sesuatu yang jauh lagi. Ia selalu ada bersama kita di dunia maya. Tak syak lagi, ponsel pintar telah banyak mengubah hidup kita, mulai pola pergaulan hingga cara berpikir dan beragama kita.

Bahkan, akibat media sosial, kita harus kembali memikirkan siapa diri kita. Jika René Descartes mengatakan ‘Aku berpikir, maka aku ada’, sekarang kata F. Budi Hardiman, orang berkata, ‘Aku klik, maka aku ada’. Kita adalah homo digitalis.

Demikianlah, perubahan iklim, Covid-19 dan teknologi digital, merupakan tiga perubahan besar di abad ke-21 ini. Mungkin inilah pertanda dari pergeseran peradaban yang akan terjadi di millenium ketiga. Kita memang tak tahu akan seperti apa kehidupan di bumi seabad yang akan datang. Namun, sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, kita turut bertanggung jawab dalam menentukan arahnya. Kita bertanggungjawab karena kita wajib berpegang pada nilai-nilai perenial seperti berbakti pada orangtua, menyayangi dan menghormati sesama, membela yang lemah dan menegakkan keadilan dan kebenaran. Nilai-nilai ini tetap berlaku sepanjang masa, meskipun dunia terus berubah.

Pada akhirnya, karena hidup kita dibatasi oleh ruang dan waktu, sementara pengetahuan dan kemampuan kita juga terbatas, maka yang penting bukanlah apakah kita berhasil mengubah dunia menjadi lebih baik ataukah tidak, melainkan apakah kita berjuang melakukan perbaikan atau justru ikut serta dalam membuat kerusakan. Dan perilaku kita sendirilah yang akan menjawabnya! (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved