Breaking News:

Ekonomi dan Bisnis

Ekonomi Kalsel Membaik, BI Sebut QRIS di Kalsel Capai 160 ribu merchant, Masuk Top 10 di Indonesia

Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalsel, Amanlison Sembiring menjelaskan perekonomian di Kalsel sudah mulai meningkat. 

Penulis: Nurholis Huda | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/mariana
Salah satu merchant di Banjarmasin yang menggunakan QRIS sebagai sistem pembayaran. 

Perekonomian Kalsel diprakirakan tumbuh lebih tinggi dari 2021. Dari sisi permintaan, perbaikan tersebut didukung oleh pertumbuhan positif dari konsumsi, baik rumah tangga maupun pemerintah, investasi, dan disertai kinerja net ekspor yang solid. 

Kasus Covid-19 yang terus melandai dan semakin terkendali mendorong peningkatan kepercayaan masyarakat 
untuk melakukan aktivitas ekonomi termasuk melakukan pergerakan bisnis maupun wisata. 

Dari sisi eksternal, perekonomian global yang terus mengalami peningkatan didorong oleh penanganan pandemi yang semakin baik serta keberhasilan vaksin, berpotensi mempercepat pemulihan rantai pasok dunia dan mendorong permintaan komoditas ekspor utama seperti Batubara, Crude Palm Oil (CPO), dan karet. 

Seiring dengan pemulihan ekonomi, tekanan inflasi diprakirakan meningkat di 2022, 
namun masih dalam rentang sasaran inflasi nasional di 3±1%. 

Peningkatan inflasi terutama. disebabkan oleh tingkat permintaan masyarakat yang menguat sejalan dengan peningkatan pendapatan dan perekonomian. 

Sehubungan dengan hal tersebut, Amanlison Sembiring menambahkan bahwa KPwBI Provinsi Kalsel akan terus memperkuat koordinasi pengendalian inflasi dengan seluruh stakeholder melalui empat upaya, yakni, 1) pemantauan harga pangan strategis dan pelaksanaan operasi pasar, 2) menjaga ketersediaan pasokan, 3) memperlancar distribusi, dan 4) peningkatan kualitas data neraca bahan pangan sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Dijelaskan dia, Di tengah optimisme perbaikan ekonomi pada 2022, terdapat tiga tantangan yang perlu diatasi yakni, 1) risiko COVID-19 masih perlu terus diwaspadai karena dapat menahan perbaikan perekonomian, 2) tantangan struktural global warming yang akan membawa perubahan kebijakan energi dunia ke arah energi yang lebih ramah lingkungan, dan 3) kendala kapasitas UMKM yang masih rendah. 

Sebagai tulang punggung ekonomi inklusif, UMKM memiliki daya tahan yang rendah terhadap pandemi akibat berbagai keterbatasan seperti skala usaha, akses digital dan alternatif pembiayaan. 

Baca juga: Ekonomi Kalsel Semakin Terkontraksi Hingga Angka 3,55 Persen

Dalam jangka panjang, kunci utama untuk pengembangan perekonomian Kalimantan Selatan adalah reformasi struktural dan transformasi industri untuk memperbaiki profil ekspor, dari sektor primer yang ekstraktif ke sektor sekunder yang berbasis industri manufaktur, dan gasifikasi Batu Bara sebagai energi alternatif masa depan. 

Masih Kaperwil, sehubungan dengan hal tersebut, diperlukan sinergi antara seluruh stakeholder untuk  membangkitkan optimisme dan berinovasi dalam mempercepat pemulihan ekonomi melalui 
5 strategi penguatan di antaranya, 1) percepatan hilirisasi batubara, 2) mendorong pengembangan industri hilir sawit melalui pola kemitraan.

Kemudian, 3) percepatan hilirisasi karet, 4) digitalisasi sistem pembayaran untuk integrasi ekonomi dan keuangan, dan 5) mendorong  percepatan pemulihan ekonomi melalui penguatan pelaku usaha UMKM. ( Banjarmasinpost /Nurholis Huda). 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved