Breaking News:

Jendela

Kadar Saling Percaya

Jika kemunafikan lahir dari rasa tidak aman, maka kejujuran lahir dari rasa aman, Rasa saling percaya merupakan modal sosial yang sangat penting

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SALAH satu tantangan yang dihadapi dalam kehidupan bermasyarakat adalah kesulitan menjembatani antara kepentingan kelompok sendiri dengan pihak luar. Sentimen kelompok bisa membuat orang berwajah ganda. Alqur’an menggambarkan sikap seperti ini: Ketika mereka bertemu kaum beriman, mereka berkata, ‘kami beriman’. Tetapi ketika mereka kembali kepada teman-temannya, mereka berkata, ‘sesungguhnya kami bersama kalian. Kami hanya mengolok-ngolok’ (QS2:14). Sikap seperti ini bisa dilakukan oleh orang perorang, bisa juga oleh kelompok secara kompak. Sudah tentu suatu saat kepalsuan itu akan terbongkar sehingga rusaklah hubungan antar kelompok di masyarakat.

Sebagai manusia, kita memang memiliki kemampuan untuk bersandiwara, berpura-pura. Orang menyebutnya sifat munafik. Banyak ungkapan dalam bahasa Indonesia yang menunjukkan makna kemunafikan. Misalnya, ‘bermuka dua’, ‘telunjuk lurus, kelingking berkait’ atau ‘pepat di luar, rencong di dalam’. Semua ungkapan ini menunjukkan sikap yang mendua, licik dan menipu karena lain di mata, lain di hati, lain di kata, lain di perbuatan. Menurut sebuah hadis, ada tiga ciri orang munafik, yaitu jika berkata, ia berdusta; jika berjanji, ia ingkar; jika diberi kepercayaan, ia khianat. Karena ini semua sifat manusia, baik saya ataupun Anda, sama-sama berpotensi menjadi munafik.

Teringatlah saya pada pidato kebudayaan Mochtar Lubis pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki Jakarta berjudul “Manusia Indonesia”. Menurutnya, ciri nomor satu manusia Indonesia adalah hipokrit alias munafik. Dia mencontohkan, kita mengutuk kebebasan seks, tetapi prostitusi jalan terus, dan orang yang tampak alim, setelah pergi ke kota besar, malah menyewa pelacur. Ada yang lantang memaki korupsi, padahal dia sendiri koruptor. Akibatnya, korupsi dari hari ke hari terus membiak. Para bawahan suka menyenangkan atasan sehingga lahirlah budaya ABS (Asal Bapak Senang) yang membuat kinerja kita tidak meningkat, karena kita sudah merasa baik.

Menurut Mochtar Lubis, sebab utama di balik kemunafikan ini adalah sejarah panjang penindasan para penguasa era feodal dan kolonial, yang membuat rakyat takut mengatakan pikiran, perasaan dan sikap mereka yang sebenarnya. Demi menjaga keselamatan diri dari ancaman kekuasaan, orang akhirnya berpura-pura. Rasa terancam dan tidak aman itulah semula yang mendorong sikap munafik. Namun, lama kelamaan, kemunafikan itu menjadi kebiasaan. Jika kebiasaan sudah menjadi kesehariaan, maka ia akan menjadi karakter alias akhlak kita. Akhirnya, kemunafikan menjadi budaya yang cukup lazim ditemukan di masyarakat.

Jika kemunafikan lahir dari rasa tidak aman, maka kejujuran lahir dari rasa aman. Rasa aman muncul di masyarakat ketika para anggotanya memiliki rasa saling percaya yang tinggi. Rasa saling percaya merupakan modal sosial yang sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat. Bahkan menurut Robert Putnam dalam Making Democracy Works, rasa saling percaya sebagai modal sosial itu sangat penting bagi tumbuhnya demokrasi yang sehat. Dalam masyarakat selalu ada kelompok-kelompok yang memiliki ikatan sosial (social bonding). Ikatan sosial ini berdaya guna bagi masyarakat sipil jika ia mampu membangun jembatan antar kelompok atas dasar saling percaya (social bridging).

Lantas, mengapa kemunafikan masih merajalela meskipun kita sudah bebas dari penindasan era feodal dan kolonial? Bukankah kita sudah berdemokrasi? Mungkin ada beberapa sebab. Pertama, rasa terancam itu masih terus-menerus diwariskan, melalui berbagai wacana dan perilaku. Kedua, masih lebarnya kesenjangan sosial ekonomi antara minoritas kaya dan mayoritas miskin. Dalam masyarakat yang timpang, saling percaya sulit ditegakkan. Ketiga, kita belum mampu melangkah jauh dari ikatan-ikatan komunal untuk mencapai kesejahteraan bersama. Yang ada dalam pikiran kita, mungkin juga di alam bawah sadar, adalah ‘aku dan kamu’, ‘kami dan kalian’, bukan ‘kita’.

Kita tentu berharap, ke depan masyarakat kita semakin sehat, bukan sakit. Yang menentukannya adalah kita sendiri. Seberapa besar kadar rasa saling percaya itu akan tergantung pada perlakuan kita terhadap orang lain, dan perlakuan orang lain terhadap kita. Apakah kita selama ini jujur atau munafik, pura-pura atau apa adanya, pada orang lain dan kelompok lain? Apakah kita mau bekerjasama membangun kesejahteraan umum ataukah masih terkungkung dalam kepentingan pribadi dan kelompok? Pertanyaan ini memang sederhana, tetapi jawabannya sangat menentukan nasib demokrasi dan bangsa kita di masa depan. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved