Breaking News:

Jendela

Banjir Pelecut Kesadaran

Orang-orang berkesadaran tentang bahaya kerusakan ulah tangan manusia itu juga mengalami guncangan batin. Mengapa banyak manusia yang tidak mau sadar

Editor: Syaiful Akhyar
UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - “JANGANKAN hujan, melihat awan gelap di langit saja, hati kami sudah mulai was-was. Jangan-jangan akan terjadi banjir besar lagi seperti Januari lalu,” kata seorang dosen asal Barabai.

Di penghujung tahun 2021 ini, banjir memang kembali menyerbu beberapa wilayah di Kalsel seperti Kandangan, Barabai, Balangan, Tabalong, Amuntai dan Pelaihari.

Jika curah hujan makin tinggi pada Desember dan Januari ke depan, boleh jadi banjir besar di awal tahun kemarin terulang lagi.

Setiap kali banjir terjadi, setiap kali itu pula kita diingatkan bahwa kerusakan di muka bumi ini adalah akibat ulah tangan-tangan manusia.

Ulah tangan manusia itu adalah penggundulan hutan, pertambangan batu bara dan perkebunan sawit yang tidak menjaga keseimbangan lingkungan hingga tata kelola saluran air yang buruk, membuang sampah sembarangan dan sungai-sungai dibiarkan dangkal bahkan sengaja ditutup dengan tanah.

Tak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk mengetahui semua bahaya ulah tangan manusia ini. Anak-anak sekolah menengah pun sudah sangat paham.

Namun, semua itu begitu mudah sirna dalam ingatan dan kesadaran seiring bergantinya musim dan banjir berlalu.

Seolah kita hidup hanya sesaat, tidak punya masa lalu dan masa depan. Pandangan kita sangat pendek.

Jika pandangan pendek itu muncul di kalangan orang-orang miskin dan lemah, yang setiap hari hanya berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, papan dan pangan saja, maka kita dapat memaklumi.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved