Breaking News:

Opini Publik

Pelayanan Konseling yang Berpihak pada Murid

Memahami ilmu coaching, mentoring, dan konseling dapat dianalogikan seperti orang yang membantu seseorang dalam mengemudi mobil.

Editor: Eka Dinayanti

Oleh : Subanindro, M.Pd (Koordinator Pendidikan Inklusif di SD Negeri 2 Loktabat Selatan)

BANJARMASINPOST.CO.ID - PENDIDIK yang memiliki filosofi pemikiran pendidikan seperti Ki Hadjar Dewantara tentu memiliki sikap dasar dan melayani murid-murid tanpa diskriminatif demi keselamatan dan kebahagiaan. Untuk itu, dalam melaksanakan perencanaan pembelajaran di kelas juga akan menyesuaikan kebutuhan belajar mereka yang berbeda-beda. Dalam praktiknya juga akan memberikan pembelajaran berdiferensiasi kepada mereka. Dengan strategi yang terjangkau seperti diferensiasi konten, proses, dan produk. Caranya dapat menggunakan salah satu strategi atau kombinasi atau di antara ketiga-tiganya. Pilihan strategi tentu disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai dalam setiap kegiatan pembelajaran. Hal inilah yang disebut pembelajaran berdiferensiasi.

Selanjutnya pendidik juga berupaya dalam menghaluskan dari sisi sosial dan emosional murid. Karena mereka adalah manusia yang memiliki aspek sosial dan emosional yang perlu dijaga dan dikembangkan. Mereka hidup dengan keluarga, teman, dan masyarakat memastikan adanya emosi-emosi yang perlu diatur sedemikian rupa bagaimana kesadaran diri, kesadaran sosial, pengelolaan diri, bertanggungjawab dalam setiap keputusan yang dipilih, dan keterampilan berelasi. Oleh karena itu, pendidik yang baik dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran tentunya juga mengembangkan sisi sosial dan emosional. Hal inilah yang dinamakan pembelajaran sosial dan emosional.

Misalnya untuk kesadaran diri (berkesadaran penuh) murid dapat dilatihkan dengan teknik STOP. S yaitu stop. Berhenti sejenak dan suasana rileks. T yaitu take a deep breath. Mengambil napas panjang perlahan-lahan, dan membuang napas perlahan-lahan. O yaitu observe. Mengamati sensasi kembang kempis perut dalam keluar masuknya nafas dalam keteraturan. P yaitu proceed. Melanjutkan dan berulang sampai benar-benar segar. Teknik lain seperti salat juga dapat dilakukan.

Disamping itu, pendidik juga mendampingi dalam pemecahan masalah-masalah keseharian. Karena guru yang lebih paham dan memiliki pandangan dan sikap terhadap murid-muridnya. Ada murid yang terlihat pendiam, sedih, bahagia, aktif dan ragam penampakan, juga tampak adanya karakter yang khas dan unik. Bila ada murid yang terdapat kejanggalan dan tidak seperti biasanya, maka guru dapat mendampingi murid dan membantu dalam menghadapi masalah. Oleh karena itu, ilmu seperti coaching, mentoring, dan konseling sangat penting dimiliki pendidik.

Memahami ilmu coaching, mentoring, dan konseling dapat dianalogikan seperti orang yang membantu seseorang yang bermasalah dalam mengemudi mobil. Bila bertanya reflektif apa yang sebaiknya dijalankan oleh orang yang bermasalah dalam mengemudi mobil. Kemudian coach membantu coachee untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Maka disinilah makna coaching sangat relevan. Pramudianto (2020) menyampaikan tiga makna coaching yaitu: Pertama, Kemitraan. Hubungan coach dan coachee adalah hubungan kemitraan yang setara. Untuk membantu coachee mencapai tujuannya, seorang coach mendukung secara maksimal tanpa memperlihatkan otoritas yang lebih tinggi dari coachee. Makna coaching yang kedua adalah memberdayakan. Proses inilah yang membedakan coaching dengan proses lainnya. Dalam hal ini, dengan sesi coaching yang ditekankan pada bertanya reflektif dan mendalam, seorang coach dapat menggali, memetakan situasinya sehingga menghasilkan pemikiran atau ide-ide baru. Kemudian yang ketiga adalah optimalisasi. Selain menemukan jawaban sendiri, seorang coach akan berupaya memastikan jawaban yang didapat oleh coachee diterapkan dalam aksi nyata sehingga potensi coachee berkembang.

Adapun mentoring, bila memberikan ilmu berdasarkan pengalamannya tips-tips mengendarai mobil dengan aman kepada seseorang yang bermasalah dalam mengemudi mobil, seperti perlunya SIM dan mengetahui lokasi yang aman melalui GPS. Maka makna mentoring disini sangat relevan. Stone (2002) mendefinisikan mentoring sebagai suatu proses dimana seorang teman, guru, pelindung, atau pembimbing yang bijak dan penolong menggunakan pengalamannya untuk membantu seseorang dalam mengatasi kesulitan dan mencegah bahaya.

Sementara konseling, bila ada sikap dasar ingin membantu menyelesaikan masalah, menyilakan seseorang yang bermasalah dalam mengemudi mobil dapat bercerita apa adanya, dan berempati pada apa masalahnya, dengan menggali peristiwa dari masa lalu, memulihkan keadaan psikologis dari trauma-trauma masa lalu. Maka disini makna konseling sangat relevan. Gibson dan Mitchell (2003) menyatakan bahwa konseling adalah hubungan bantuan antara konselor dan klien yang difokuskan pada pertumbuhan pribadi dan penyesuaian diri serta pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.

Dengan memahami makna coaching, mentoring, dan konseling maka guru sebagai pendidik dapat memerankannya sesuai kebutuhan di kelas. Yang perlu dilakukan dan dilatihkan guru setidaknya adalah praktik coaching sebagai suatu sistem among-ARTI. A yaitu apresiasi. Dimana dalam proses coaching, seorang coach memposisikan coachee sebagai mitra dan menghormati setiap apa yang dikomunikasikan, memberikan tanggapan positif dari apa yang disampaikan. Apresiasi merupakan nilai yang terkandung dalam komunikasi yang memberdayakan. R yaitu rencana. Dimana setiap proses pendidikan yang kita rancang pastilah bertujuan untuk mencapai sesuatu, begitu pula dengan Coaching. Proses coaching dilakukan sebagai pendampingan bagi coachee dalam menemukan solusi dan menggali potensi yang ada dalam diri, dapat menggunakan Model TIRTA. Model TIRTA seperti air mengalir mulai dari Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi, Tanggungjawab.

Berikutnya adalah T yaitu tulus. Dimana “Being present in the coaching session”. Pada saat sesi coaching, seorang coach hendaknya tulus memberikan waktu dan diri seutuhnya dalam melakukan proses coaching. Dengan sebuah niat dan kesungguhan ingin membantu coachee dalam pengembangan potensi mereka. Dan I yaitu inkuiri. Dimana Dalam proses coaching, seorang coach menuntun agar coachee dapat menggali, memetakan situasinya sehingga menghasilkan pemikiran atau ide-ide baru atas situasi yang sedang dihadapi. Proses coaching menekankan pada proses inkuiri yaitu kekuatan pertanyaan atau proses bertanya yang muncul dalam dialog saat coaching. Pertanyaan efektif mengaktifkan kemampuan berpikir reflektif para murid dan keterampilan bertanya mereka dalam pencarian makna dan jawaban atas situasi atau fenomena yang mereka hadapi dan jalani.

Dengan demikian, semoga pendidik dimanapun berada dapat seoptimal mungkin melayani kebutuhan belajar murid dan membantu dalam menyelesaikan situasi permasalahan murid dengan solusi yang diberikan yaitu pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial dan emosional, teknik STOP, praktik coaching dalam sistem Among-ARTI dapat menggunakan model TIRTA. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved