Breaking News:

Opini Publik

Kampus Tergoda

Munculnya kasuistik mahasiswa menggoda dosen barangkali belum mencuat ke media. Masa depan dosen menjadi hancur karena tergoda mahasiswa

Editor: Eka Dinayanti

Oleh : Dr. Bramastia, M.Pd, (Pemerhati Kebijakan Pendidikan, Dosen Magister Pendidikan Sains Pascasarjana FKIP UNS Surakarta)

BANJARMASINPOST.CO.ID - KAMPUS sebagai lembaga terhormat serta penjaga gerbang kebenaran kini sedang di rundung duka. Rasanya sedih karena banyak media memberitakan dan mengeneralisasi kampus telah menyimpan kejahatan moral bernamakan kekerasan seksual. Tudingan yang terus digeneralisasi kepada dosen sebagai pengajar, pembimbing skripsi atau disertasi serta pembimbing akademik mahasiswa sebagai biang onar kekerasan seksual, tentunya tidak bijaksana. Seolah nasib mahasiswa tergantung pada penentuan kelulusan dan nilai bagi mahasiswa, baik S1, S2 atau S3 tergantung kepada kuasa dosen pengajar, pembimbing skripsi atau desertasi maupun pembimbing akademiknya.

Terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 30 Tahun 2021 yang bertujuan untuk melindungi para mahasiswa dari kekerasan seksual, seolah-olah menampilkan bahwa kampus kini bukan tempat yang aman bagi mahasiswa. Munculnya sebutan predator seksual ada di setiap sudut kampus atau predator seksual bersembunyi dalam selubung etika moralitas palsu dan hipokrit, seolah-olah menjustifikasi kampus kini menjadi sarang “penyamun” predator seksual.

Dalam menyelesaikan kasus kekerasan seksual di kampus, tidak bijaksana apabila bergantung mekanisme atau prosedur kampus dalam penanganan dan pencegahan tindak kekerasan seksual dengan mengeneralisir semuanya. Kampus tentu tidak ingin wajahnya penuh dengan aib dan penuh isu tidak sedap. Kampus memiliki kebijakan berbeda saat menangani dan pencegahan kekerasan seksual sebagaimana Permendikbud 30 Tahun 2021.
Bisa jadi, memang karena lemahnya kebijakan kampus dalam menindak para pelaku dan melindungi korban sehingga selalu abu-abu sikapnya saat terjadi kasus kekerasan seksual. Minimnya kebijakan yang meng-cover semua aspek, baik dari pencegahan, penanganan, pemeriksaan, perlindungan, pemulihan korban dan sanksi bagi pelaku kekerasan seksual memang kadangkala patut dipertanyakan. Ada apa dengan kampus tersebut?

Kampus Tergoda
Sepanjang sejarah intelektual, keberadaan kampus selama ini sebagai tempat strategis bertukar pendapat dan saling beradu argumen secara ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, rasanya harus kembali direkonstruksikan. Kampus yang selalu dipandang aduhai dengan potensi atas pengembangan khasanah keilmuan, tentunya harus kembali digalakkan. Anggapan miring saat kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat ternoda akibat sikap tidak bertanggungjawab oknum civitas kampus, baik itu dosen maupun mahasiswa harus ditelusur dari akarnya.

Kurang bijak memberikan label predator kampus bagi dosen sebagai seorang pendidik perguruan tinggi dan mempunyai relasi kuasa terhadap mahasiswa. Relasi kuasa dosen atas mahasiswa dalam berbagai bentuk kegiatan, mulai dari kuliah, pembimbingan akademik sampai bimbingan skripsi, tentu tidak salah karena memang itulah tugasnya. Namun tatkala oknum seorang dosen secara pribadi tidak dapat mengerem hasratnya dan kekuasaan yang dimiliki kemudian dijadikan dasar kekerasan seksual terhadap mahasiswa, maka itu adalah dosa pribadinya.

Sebaliknya, kekerasan seksual terhadap mahasiswa bisa juga lahir sebagai akibat daripada sikap pribadi yang mau dijadikan objek, sehingga berakibat mudah dilecehkan. Mahasiswa kadangkala lepas kontrol saat membuat joke yang seksis dan justru membangun lingkungan serta situasi yang berpotensi mendorong adanya tindak kekerasan seksual. Artinya, terjadinya pelecehan seksual terhadap mahasiswi seringkali disebabkan oleh mahasiswa sendiri. Saat ini, banyak para mahasiswi yang terlalu berani menggoda dosennya.

Seringkali ada mahasiswi dengan sengaja mencari muka dengan dosennya. Bahkan, ada pula yang terang-terangan menggoda dosennya, meskipun tahu dosennya sudah punya keluarga. Dalih konsultasi tugas akhir dengan ngobrol ke sana kemari dan berujung menjadikan tempat curahan hati (curhat) yang sesungguhnya pantang bagi kaum akademisi. Akibat seringnya berkonsultasi sembari berbagi curahan hati, lalu berubah fungsi dari akademisi menjadi pribadi dan ironis saat kesempatan berduaan saling mengumbar janji.

Pergulatan keilmuan akademisi kampus kadang harus menahan laju syahwat, tatkala muncul mahasiswi berpakaian rok mini saat mau konsultasi. Begitu pula mahasiswa pada saat di kelas, memakai rok pendek dan duduk bagian terdepan dengan kaki disilangkan, hingga membuat sang pengajar serba salah saat berhadapan.

Munculnya kasuistik mahasiswa menggoda dosen barangkali belum mencuat ke media. Masa depan dosen menjadi hancur karier dan keluarganya karena tergoda mahasiswa. Keberhasilan mahasiswa dalam memasang jebakan bagi dosen supaya terperangkap dalam kuasanya. Artinya, bila relasi kuasa dosen sebagai pengajar, pembimbing skripsi atau disertasi maupun pembimbing akademik bisa mengendalikan mahasiswa dan melakukan kekerasan seksual sepenuhnya adalah tidak benar.

Kesalahan moral atas dosen atau mahasiswa “ibarat kampus” tergoda yang belum mampu menahan kendali syahwatnya. Dibuatnya peraturan tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual yang tegas dan jelas, tidak akan menjamin meredanya kekerasan seksual di kampus. Kalaupun dibuat aturan, maka harus mengatur kedua belah pihak secara adil, baik bagi dosen maupun mahasiswa supaya tidak melahirkan “kampus tergoda” di nusantara. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved