Berita Tapin

VIDEO Sungai Bitahan Kabupaten Tapin Diduga Tercemar Batu Bara, Lahan Pertanian Terdmpak

Batu bara diduga telah mencemari air Sungai Bitahan Kabupaten Tapin sehingga berwarna cokelat kehitaman. Lahan pertanian seluas 50 hektare terdampak.

Penulis: Stanislaus Sene | Editor: Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Air Sungai Bitahan di Kelurahan Bitahan, Kecamatan Lokpaikat, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), cokelat kehitaman, Sabtu (8/1/2021).

Aliran sungai kecil ini melintas di sekitar kota rantau, Kabupaten Tapin, Kalsel. Berubah warna dari air ini diduga akibat tercemar Limbah batu bara.

Kepala Dinas LH Tapin, H Nurdin, mengatakan, berubahnya warna air ini bisa jadi berasal dari Jalan Hauling.

Terkait hal ini, pihaknya berencana meninjau ke lokasi untuk mengetahui persis asal-usul berubahnya warna air di Sungai Bitahan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tapin, Wagimin, mengatakan, perubahan warna air Sungai Bitahan yang menjadi cokelat kehitaman perlu serius diperhatikan.

Baca juga: Pegawai Kontrak di Setda Tapin Akan Menjalani Evaluasi Kinerja Setiap Tiga Bulan Sekali

Baca juga: UPDATE Covid-19 Kalsel: Dinkes Bantah Terjadi Kenaikan Kasus Aktif

"Bagaimana pun, di hilir dari aliran Sungai Bitahan ini terdapat 380 hektare lahan pertanian fungsional," jelasnya.

Akibat dari perubahan warna air ini, sudah ada 50 hektare lahan pertanian yang terdampak.

"Bila berubahnya warna air tersebut akibat buangan limbah batu bara, maka dinas terkait perlu intens memperhatikan hal ini," ungkapnya.

Ia mengatakan, secara umum, pihak perusahaan tambang belum bisa menangani limbah 100 persen. 

"Fakta lapangan, bila kita perhatikan, masih belum ada solusi konkret terkait hal ini," lanjutnya.

Baca juga: Orang dalam Gangguan Jiwa Ikut Vaksinasi di Bakarangan Tapin

Baca juga: Terdampak Angkutan Semen, Jalan Tanjung - Pantai Hambawang HST Alami Kerusakan Terparah di Kalsel

Bila ini tidak ditangani dengan baik, maka ke depan efeknya adalah rusaknya lahan pertanian. Dan akhirnya,  produktivitas ketahanan pangan akan terganggu.

"Limbah masuk ke pertanian warga di Bitahan ini terjadi saat intensitas hujan tinggi," lanjutnya.

Selain itu, warga yang tinggal di bantaran Sungai Bitahan tidak bisa lagi memanfaatkan airnya.

"Kami akui bahwa memang Kabupaten Tapin masih bergantung pada sektor pertambangan batu bara. Tapi perlu diingat, pertanian tetap harus yang utama karena sebagi tulang punggung ekonomi masyarakat yang berkelanjutan," tegasnya.

Sampai saat ini, 67 persen masyarakat Kabupaten Tapin masih bergantung di pertanian. Oleh karena itu, petani harus dijaga dan diamankan dari segi apapun, termasuk dampak kondisi daerah.

Sungai Bitahan diduga tercemar batu bara di Kelurahan Bitahan, Kecamatan Lokpaikat, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, Sabtu (8/1/2021).
Sungai Bitahan diduga tercemar batu bara di Kelurahan Bitahan, Kecamatan Lokpaikat, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, Sabtu (8/1/2021). (BANJARMASINPOST.CO.ID/STANISLAUS SENE)

"Salah satunya adalah kondisi air. Air memiliki peran yang sangat penting. Selain untuk kelangsungan hidup sehari-hari, juga sebagai jaminan hidup untuk makhluk hidup yang lainnya," pungkas dia.

(Banjarmasinpost.co.id/Stanislaus Sene)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved