Breaking News:

Berita HSU

Hemat Biaya Pakan, Peternak Itik di HSU Bikin Pakan Sendiri dari Batang Pohon Rumbia

Menghemat biaya untuk pakan, Peternak itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) biasanya membuat pakan sendiri dari batang pohon rumbia dicampur ikan

Penulis: Reni Kurnia Wati | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/reni kurnia wati
Peternak itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) biasanya membuat pakan sendiri. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI - Menghemat biaya untuk pakan, Peternak itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) biasanya membuat pakan sendiri.

Cara ini,  lebih hemat jika dibanding dengan membeli bama atau dedak.

Para peternak membuat pakan ternak itiknya, dengan memanfaatkan  hasil alam berupa batang pohon rumbia yang memang mudah ditemui di daerah rawa. 

Batang pohon rumbia dicacah kasar warga biasa menyebutnya dengan paya lalu dicampur dengan ikan yang sudah dikeringkan.

Baca juga: Dapat Bantuan Ratusan Ekor Anakan Itik dari Tentara Tanahlaut, Aneba Kembangbiakkan dengan Pola ini

Baca juga: VIDEO Pemuda Milenial Tala Kembangkan Ternak Itik, Sehari Hasilkan Puluhan Rak Telur

Tasiah seorang peternak itik dari Desaa Simpang tiga Kecamatan Amuntai Selatan mengatakan dalam seminggu dirinya mengahabiskan 150 kilogram ikan kering yang dibelinya dengan harga Rp 6000 perkilonya.

Saat ini dirinya memelihara sekitar 650 ekor itik yang ada di kandang dan berada dibelakang rumahnya. 

Dengan membuat pakan sendiri lebih hemat serta bisa memberi makan itik lebih banyak.

“Kalau makannannya banyak maka itik bisa tumbuh dengan cepat dan berbobot sehingga harganya lebih mahal,” ujarnya. 

Sebagian besar para peternak itik membuat makanan sendiri dengan menggunakan batang pohon rumbia dan dicampur dengan ikan kering.

Ikan yang sudah dijemur sekitar dua hingga tiga hari akan dicacah kemudian dicuci agar tidak terlalu asin. Baru dicampur dengan bahan lain yaitu paya dan dedak dan juga bama. 

Baca juga: VIDEO Jadi Mata Pencarian Warga, Halaman Rumah di HSU Difungsikan untuk Ternak Itik

Sehari memberi makan itik tiga kali, Tasiah menjual anakan itik dengan harga Rp 13 robu perekor untuk usia lima hari.

Saat melewati desa ini memang sudah menjadi pemandangan biasa terlihat adanya kandang itik di halaman rumah mereka. 

"Penjualan anakan itik mengikuti hari pasar, ada juga yang membeli dari luar daerah," ungkapnya. (Banjarmasinpost.co.id/Reni Kurniawati)
 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved