Breaking News:

Opini Publik

Mengisi Muatan Lokal dalam Kurikulum Prototipe 2022

kurikulum baru tersebut dikenal dengan kurikulum prototipe yang dapat dijadikan alternatif melakukan pemulihan pembelajaran

Editor: Eka Dinayanti

Oleh: Maslani, Pemerhati Pendidikan/Mantan Kasi Kurikulum dan Penilaian Bidang Bina Dikdas Disdikbud Tanah Laut

BANJARMASINPOST.CO.ID - PEMBENAHAN dan pemulihan dunia pendidikan nasional sedang dilakukan oleh Kemendikbud Ristek melalui kebijakan pemberlakukan kurikulum baru guna membantu satuan pendidikan pemulihan pembelajaran pascadidera pendami COVID-19 selama ini.

Adapun kurikulum baru tersebut dikenal dengan kurikulum prototipe yang dapat dijadikan alternatif bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama tahun 2022 hingga 2024.

Dalam kebijakan kurikulum tersebut juga memberikan ruang bagi satuan pendidikan dan atau pemerintah daerah yang mengisi muatan tambahan sebagai kebutuhan dan karakteristik satuan pendidikan dan atau daerah untuk dapat mengelola kurikulum muatan lokal.

Dalam pengelolaan kurikulum muatan lokal tersebut dapat dilakukan dengan 3 (tiga) alternatif pengelolaan, yaitu integrasi dengan mata pelajaran lain, integrasi dengan dengan proyek penguatan profil Pelajar Pancasila, atau berdiri sendiri sebagai bagian dari program intrakurikuler.

Lebih jauh dijelaskan, bahwa jika satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran muatan lokal, beban belajarnya maksimum 72 JP per tahun atau 2 JP per minggu. Sedangkan contoh muatan lokal yang dapat dikelola olah satuan pendidikan diantaranya mata pelajaran bahasa daerah dan budaya daerah, kemaritiman, kepariwisataan, dan sebagainya sesuai dengan potensi daerah masing-masing.

Mengenai muatan lokal dengan mata pelajaran bahasa dan budaya daerah sebagaimana dicontohkan dalam kebijakan kurikulum prototipe 2022 perlu disikapi oleh satuan pendidikan dan pemerintah daerah, khususnya di Kalimantan Selatan.

Seperti diketahui bersama bahwa selama ini muatan lokal yang sudah ada dan berlaku pada satuan pendidikan di Kalimantan Selatan mata pelajaran Pendidikan Al-Qu’ran yang tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pendidikan Al-Qur’an di Kalimantan Selatan.

Dikutip dalam peraturan daerah tersebut, disebutkan dalam Bab III Pasal 6 Ayat (2) “Penyelenggaraan pendidikan Al-Qur’an sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) dilakukan pada semua jalur dan jenjang pendidikan formal”. Selanjutnya, pada Pasal 6 Ayat (1) “Materi pendidikan Al-Qur’an sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 merupakan muatan kurikulum keunggulan lokal”.

Harapannya, satuan pendidikan di Kalimantan Selatan selain menerapkan pembelajaran mata pelajaran pendidikan Alquran tersebut, juga perlu ada mata pelajaran muatan lokal tentang bahasa dan budaya daerah yang dilandasi dengan peraturan daerah.
Kebijakan penerapan mata pelajaran muatan lokal daerah Banjar dapat diterapkan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota maupun provinsi, seiring dengan semangat otonomi daerah.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved