Breaking News:

Tajuk

Mencegah Aksi Vandalisme

Bisa jadi memang ada motif pidana, atau kriminal berupa pencurian, tapi aksi yang dilakukan di sejumlah lokasi ini juga disebut sebagai aksi vandalism

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kisah tentang hilangnya 80 mur pada pengaman tambahan di Jembatan Antasan Bromo, Banjarmasin, menjadi catatan bagaimana masyarakat abai terhadap kepentingan dan keselamatan umum.

Bagi pelaku bisa jadi terkesan sederhana, hanya mur. Tapi harus diingat bahwa benda kecil tersebut merupakan satu bagian dari konstruksi, untuk pengaman jembatan.

Mur pengganti akhirnya sudah didatangkan dan dipasang kembali, Rabu (12/1/2022) kemarin. Tapi harus diingat bahwa peristiwa serupa mungkin bisa terulang.

Ironis memang kedengarannya. Entah iseng, motif ekonomi, atau lainnya, tapi mengambil mur yang memiliki fungsi pengaman tambahan, sama saja menempatkan orang lain dalam bahaya.

Pada 2004 lalu kita juga ingat adanya sekelompok orang yang mengambil besi penyanga tower listrik, yang mengakibatkan ambruknya SUTET di Tanahlaut.

Pelaku melakukan aksinya memang murni motif ekonomi, menjual besi yang dilepasnya. Tapi tanpa dia sadari, hanya demi sekian kilogram besi, sebagian warga di Kalimantan Selatan (Kalsel) dirugikan karena putusnya sambungan listrik.

Yang sederhana, namun juga membuat sedih juga yaitu hilangnya sebagian pagar siring muka Masjid Sultan Suriansyah di Jalan Pangeran.

Secara estetis, aksi tersebut membuat siring di seberang masjid tertua di Banjarmasin tersebut tak indah lagi.
Belum dari sisi keamanan, lokasi yang sering dikunjungi wisatawan dan tempat bermain anak-anak tersebut menjadi rawan, karena mereka bisa saja terjatuh ke sungai.

Bisa jadi memang ada motif pidana, atau kriminal berupa pencurian, tapi aksi yang dilakukan di sejumlah lokasi ini juga disebut sebagai aksi vandalisme.

Vandalisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya” atau “perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas”.

Vandalisme tak sekadar merusak atau mencoret-coret tembok, umpamanya, tapi aksi yang dilakukan di Jembatan Antasan Bromo dan siring madjid Sultan Suriansyah juga bisa masuk kategori tersebut.

Lalu mengenai bagaimana mencegah aksi serupa? Tentu karena motifnya bisa beragam, tanggung jawab juga bukan pada aparat atau pemerintah semata. Masyarakat juga harus menjadi ‘mata-mata kebaikan’ untuk menjaga semua fasilitas umum.

Bagi aparat, berikan tindakan tega bagi para pelaku untuk memberi efek jera. Belajar dari Singapura, warganya sangat taat karena hukuman berat menanti bagi mereka yang mencoret-coret fasilitas umum, membuang sampah atau meludah sembarangan.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved