BTalk

BTalk - Transplantasi Rambut Menurut Dokter Vina Dwiana dari RSUD Ansari Saleh Banjarmasin

Menurut Dokter Vina Dwiana dari RSUD Ansari Saleh Banjarmasin, transplantasi rambut syarat utamanya harus menggunakan rambut sendiri.

Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/SALMAH SAURIN
Dokter Vina Dwiana, SpKK, dari RSUD Ansari Saleh Banjarmasin hadir dalam acara BTalk membahas mengenai Plus Minus Transplantasi Rambut yang dipandu jurnalis Banjarmasin Post, Tania Anggrainy dan Riana Paramitha, Selasa (25/1/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Transplantasi rambut menjadi solusi bagi orang yang mengalami kebotakan.

Sebagai contoh, beberapa selebritis melakukan itu demi penampilan tetap menarik di hadapan publik.

Lantas, bagaimanakah pencangkokan rambut itu? Apakah benar biayanya mahal? Apa plus minus tindakan ini? Dan sederet pertanyaan lain yang mungkin Anda pun ingin tahu jawabannya.

Lebih jelas tentang transplantasi rambut, mari kita simak penjelasannya di acara BTalk Banjarmasin Post Bicara Apa Saja, Health & Beauty yang mengangkat topik Plus Minus Transplantasi Rambut.

Acara pada Selasa 25 Januari 2022 pukul 16.00 Wita ini menghadirkan dr Vina Dwiana, SpKK dari RSUD Ansari Saleh Banjarmasin.

Baca juga: Mahasiswi Korban Asusila, Kapolresta Banjarmasin Minta Maaf ke ULM Atas Ulah Mantan Anggota

Baca juga: VIDEO Buntut Perkara Asusila dengan Korban Mahasiswi ULM, Kejati Kalsel Periksa Penuntut Umum

Perbincangan yang dipandu jurnalis Banjarmasin Post, Tania Anggrainy dan Riana Paramitha, ini ditayangkan langsung dan bisa disimak ulang di kanal Youtube Banjarmasin Post News Video, Instagram Banjarmasin Post dan Facebook BPost Online.

Dijelaskan Dr Vina Dwiana, bahwa rambut adalah perlindungan kepala. Bagi wanita, lebih dari itu, yaitu sebagai mahkota. Namun saat terjadi kerontokan bahkan kebotakan, tentu jadi masalah bagi individu.

"Kebotakan itu banyak sebabnya, paling umum adalah pengaruh hormon. Kebotakan karena genetika ini biasanua ada delapan pola antara lain bagi pria itu botak di depan, botak di atas, botak di belakang, botak di samping," jelasnya.

Sedangkan wanita, biasanya terjadi penipisan rambut yang tentu saja jika semakin tipis akan semakin tak indah dilihat.

Pada zaman dulu, biasanya kebotakan umumnya terjadi pada orang berusia 60 tahunan, sekarang di usia 20 tahunan juga sudah ada yang mengalami.

Baca juga: UPDATE Covid-19 Kalsel: 11 Orang Positif Terpapar, Kepala Daerah Diminta Siapkan Isoter

Baca juga: VIDEO Kader Gerindra di Kalsel Laporkan Edy Mulyadi ke Polisi karena Memfitnah Prabowo

Botak yang bukan hormonal atau genetika bisa dikarenakan faktor lain di antaranya akibat kemoterapi, namun ini akan tumbuh lagi setelah selesai menjalani kemoterapi.

"Bisa pula akibat kekurangan darah atau anemia, masalah gizi, diet ketat, semua itu mengakibatkan botak atau rontok karena rambut kekurangan vitamin B5," paparnya.

Saat PMS atau ibu hamil juga ada yang mengalami kerontokan rambut. Ini faktor zat gizinya yang bagi ibu hamil karena terbagi dengan anak dalam kandungan.

Rambut rontok maupun kebotakan sebenarnya bisa dicegah, asal bukan faktor hormonal. Dan kita bisa deteksi kerontokan itu apakah wajar atau tidak dengan pengamatan per tiga bulan selama setahun.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved