Jendela

PTM, PJJ, Talaqqi dan Mimpi

pemerintah daerah seperti DKI Jakarta dan Kota Banjarmasin, memutuskan untuk mengurangi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dari 100 persen menjadi 50 perse

Editor: Hari Widodo
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - KARENA jumlah orang yang terjangkit Covid-19 kembali meningkat tajam, sebagian pemerintah daerah seperti DKI Jakarta dan Kota Banjarmasin, memutuskan untuk mengurangi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dari 100 persen menjadi 50 persen.

Keputusan ini kiranya dibuat berdasarkan pertimbangan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Dalam kaidah hukum Islam juga dikenal ungkapan ‘menolak kerusakan didahulukan daripada mendatangkan kemaslahatan’ (dar’u al-mafâsid muqaddam ‘alâ jalb al-mashâlih).

Di sisi lain, meskipun alasan pembatasan PTM tersebut dapat kita pahami, kita tetap saja merasa tidak nyaman dan tidak puas dengan keadaan serba terbatas ini. Kita para orangtua, guru, dosen, siswa dan mahasiswa, mungkin sudah bosan dan jenuh dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), menggunakan sarana elektronik.

Banyak kendala yang kita hadapi dalam pelaksanaan PJJ seperti jaringan internet yang tidak sampai ke pelosok desa, lelet dan tidak semua siswa atau mahasiswa memiliki ponsel atau laptop. Waktu PJJ juga lebih terbatas, antara lain karena mempertimbangkan biaya internet. Bagaimanapun, subsidi kuota internet dari pemerintah masih terbatas.

Karena itu wajar jika banyak pihak menilai, PJJ pada umumnya kurang efektif. Sarana dan prasarana PJJ kita masih jauh dari merata. Kemampuan untuk menggunakan sarana tersebut juga tidak merata.

Sebagian orangtua tidak mampu atau tidak punya waktu membantu anak-anak mereka belajar di rumah. Budaya belajar mandiri juga rendah di masyarakat kita, termasuk budaya membaca.

Keadaan ini diperparah lagi oleh godaan media sosial yang selalu menemani dengan tsunami informasi yang seringkali dangkal bahkan palsu. Akibatnya, cukup banyak siswa dan mahasiswa yang tidak serius mengikuti PJJ bahkan ada yang main-main. Mereka sulit berkonsentrasi dan sulit mendisiplinkan diri.

Namun, apa mau dikata, keadaan memang belum memungkinkan untuk kembali normal seperti dahulu. Berpikir normal pada saat darurat bukan saja kesalahan berpikir, melainkan kebodohan yang dapat melahirkan malapetaka.

Bagaimanapun, kita tidak hidup di alam pikiran, apalagi mimpi. Kita hidup dalam kenyataan, dan karena itu harus menyesuaikan diri dengan kenyataan. Sudah maklum, alam pikiran lebih sempurna dari kenyataan. Karena itu, pikiran harus disesuaikan dengan kenyataan tanpa mengorbankan hakikat cita-cita yang ingin kita wujudkan. Cita-cita kita adalah mendidik dan mencerdaskan anak bangsa. Ini harus tetap kita perjuangkan, meskipun kondisi kita terbatas.

Tugas berat mendidik dan mencerdaskan anak bangsa itu secara khusus diemban oleh guru dan dosen. Pada saat darurat inilah kesungguhan mereka dalam menjalankan tugas benar-benar diuji.

Apakah mereka bekerja keras untuk melakukan apa yang mungkin agar pembelajaran yang diberikan tetap efektif, meskipun dalam bentuk PJJ atau campuran antara PTM dan PJJ? Apakah PJJ yang memberi mereka peluang untuk bekerja dari rumah tidak membuat mereka ikut-ikutan malas? Apa langkah yang mereka ambil ketika menghadapi siswa atau mahasiswa yang tidak aktif mengikuti PJJ? Apakah mereka memberikan penilaian sesuai standar yang berlaku atau semaunya saja?

Meskipun orang sekarang banyak yang berpendapat bahwa kemampuan belajar mandiri sangat penting bagi setiap orang untuk menghadapi dunia yang sangat cepat berubah, pandangan tradisional tentang peran penting guru atau dosen tetap tidak boleh dilupakan.

Dalam tradisi Islam, belajar dengan tatap muka langsung (talaqqî) sangatlah penting. Seorang ulama yang saya kenal mengatakan, “ilmu itu didatangi, tidak mendatangi”, sehingga dia tidak mau mengajar kecuali di kelas atau majelisnya sendiri. Orang-orang yang datang ingin belajar secara sukarela adalah murid-murid yang sebenarnya.

“Nasihatilah murid-muridmu. Yang lain, bukan tanggungjawabmu,” katanya.

Di sisi lain, bukankah dalam pandangan tradisional, PJJ tidak dikenal, terutama karena belum adanya teknologi digital dan internet seperti sekarang? Memang, tradisi talaqqî yang berasal dari abad pertengahan itu belum mengenal internet, tetapi mereka mengenal saluran lain yaitu mimpi.

Bagi orang modern, menjadikan mimpi sebagai saluran belajar sungguh tidak rasional. Namun bagi kalangan tradisional, terutama dalam tradisi Sufi, hal ini dapat diterima. Seseorang dapat bertemu dengan tokoh yang sudah mati atau yang masih hidup dan belajar sesuatu daripadanya melalui mimpi. Sebuah hadis bahkan mengatakan, “Mimpi yang benar adalah sebagain dari kenabian.”

Alhasil, jika kita berkaca pada pandangan Islam tradisional, baik PJJ ataupun PTM, yang sangat penting kiranya adalah ikatan batin yang kuat antara guru dan murid, mahasiswa dan dosen. Hal ini dapat terwujud jika masing-masing pihak menjalankan tugas dengan ikhlas, sungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab. PTM, PJJ, talaqqî dan mimpi, semuanya dapat efektif jika kedua belah pihak benar-benar ingin mencapai tujuan pembelajaran yang dicita-citakan.

“Jika kita berkaca pada pandangan Islam tradisional, baik PJJ ataupun PTM, yang sangat penting kiranya adalah ikatan batin yang kuat antara guru dan murid, mahasiswa dan dosen. Hal ini dapat terwujud jika masing-masing pihak menjalankan tugas dengan ikhlas, sungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab. PTM, PJJ, talaqqî dan mimpi, semuanya dapat efektif jika kedua belah pihak benar-benar ingin mencapai tujuan pembelajaran yang dicita-citakan.”(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved