Lokal Bercerita

Bikin 4 Anyaman Sehari, Parida Perajin Kampung Purun di Banjarbaru Ini bisa Kantongi Rp 100 Ribu

Perajin purun di Banjarbaru, Parida sehari bisa membuat kerajinan anyaman purun hingga empat. Ia bisa kantongi pendapatan Rp 100 ribu

Penulis: Siti Bulkis | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/aya sugianto
Perajin anyaman purun Parida saat mengayam di rumahnya, di Kampung Purun, Kelurahan Palam Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, Senin (13/3/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Jari jemari Parida (45) terlihatsangat terampil menganyam helaian purun kering menjadi anyaman berbentuk tas bulat sederhana yang disebut bakul. Bak mesin yang telah terprogram otomatis, perempuan itu tak kesulitan melakukan pekerjaannya meskipun sesekali ditingkahi candaan bersama beberapa teman yang juga menganyam purun.

Pemandangan itu tampak di teras rumah Parida yang berada di Kampung Purun, Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, belum lama tadi.

Aktivitas membuat kerajinan anyaman purun, memang menjadi keseharian hampir sebagian besar warga setempat, khususnya kaum perempuan.

Asal tahu saja, Kampung Purun adalah salah satu kampung tematik di Kota Banjarbaru yang khusus membina warganya menekuni kerajinan purun.

Baca juga: Bisa Beli Motor hingga Kuliahkan Anak, Inilah Kisah Warga Kampung Purun Banjarbaru

Baca juga: Kerajinan Purun Bantu Perekonomian Pengrajin di Kelurahan Palam Banjarbaru

Baca juga: Pamerkan Hasil Kerajinan Lokal, Kampung Purun di Banjarbaru Jadi Kebanggaan Warga Kalsel

Produk kerajinan purun dari kampung ini telah melanglang ke berbagai daerah, bahkan luar negeri.

Parida, salah satu perajinnya. Sejak mengikuti pelatihan sekitar tahun 2016 - 2017 hingga ke Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), ibu empat anak itu rutin setiap harinya membuat berbagai macam model kerajinan purun sesuai pesanan.

Dalam sehari dirinya terkadang dapat menghasilkan 3 hingga 4 bakul purun.

Penghasilan yang diperolehnya pun bervariasi, tergantung pada model yang dibuat dan jumlahnya.

"Setiap model beda harga. Ada yang harga Rp 5 ribu dan ada juga yang harga Rp 25 ribu per pieces.

Jika dalam sehari dapat membuat kerajinan purun 4 pieces dengan harga Rp 25 ribu, sehari bisa dapat uang Rp 100 ribu dipotong Rp 4 ribu untuk kas," ujarnya.

Hasil tersebut sangat membantu perekonomian keluarganya.

"Sebelum ada kerajinan purun seperti sekarang, saya hanya bertani membantu suami, mengambil upah bahuma dan membuat anyaman tikar untuk menjemur padi dulunya," bebernya.

Parida jelas merasa terbantu dan dimudahkan dengan pekerjaannya sekarang, terlebih dia juga tidak perlu jauh-jauh menjual anyaman buatannya. Tinggal diserahkan ke galeri kerajinan purun Kelompok Al Firdaus yang menaunginya.

Apalagi, menurutnya, anak serta suaminya juga turut membantu. Suami Parida biasanya membantu mencari bahan baku purunnya, sementara sang putri membantu membuat kerajinan purun, mulai dari tas, tas map dan lain-lainnya.

Hal yang sama juga dirasakan dua rekan Parida, yakni Hadisah dan Husnah.

"Alhamdulillah, kami sangat terbantu dengan adanya kegiatan membuat kerajinan purun di kampung kami," kata Hadisah dan disetujui oleh Husnah.

Baca juga: Sejarah Tikar Purun yang Memiliki Peran Penting dalam Kehidupan Masyarakat Kalsel

Sehari dapat Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu dipotong Rp 1 ribu per produk yang dihasilkan sudah sangat membantu sekali bagi pengrajin seperti mereka.

“Dulu sehari belum tentu dapat Rp 50 ribu, sekarang alhamdulillah bisa. Jadi sangat membantu sekali kerajinan purun ini untuk kami. Tinggal kitanya berapa banyak menghasilkan, pabila banyak maka banyak juga," ucap Hadisah lagi. (Banjarmasinpost.co.id/Siti Bulkis)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved