BTalk Mom & Kids

BTalk - Anak Sakit TBC, Ini Imbauan dr Khairiyadi dari RSUD Ulin Banjarmasin pada Orangtua

Anak usia di bawah 5 tahun bergejala TBC, dr Khairiyadi dari RSUD Ulin Banjarmasin pada orangtua supaya segera mendeteksi dan bawa berbobat.

Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/SALMAH SAURIN
Pada acara BTalk program Mom & Kids, perbincangan mengenai TBC pada anak menghadirkan narasumber, yakni dr Khairiyadi, MKes, SpA(K), dokter di RSUD Ulin Banjarmasin yang dipandu jurnalis Banjarmasin Post, Agus Rumpoko, Sabtu (2/4/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Berdasarkan data di Kemenkes.go.id, tuberculosis (TBC) di Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia.

Diperkirakan ada 824 ribu kasus dan 93 ribu kematian per tahun atau setara 11 kematian per jam di negeri ini.. 

Dari jumlah tersebut, menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes, Didik Budijanto, sekitar 50 persen yang ditemukan dan diobati. Ini tentu mengancam masyarakat khususnya anak-anak. 

Bagaimana agar anak terhindar dari TBC? Apa tanda-tanda penularannya? Bagaimana mengobatinya? 

Pada acara BTalk program Mom & Kids, Sabtu (2/4/2022) pukul 16.00 Wita, perbincangan mengenai TBC pada anak menghadirkan narasumber, yakni dr Khairiyadi, MKes, SpA(K), dokter di RSUD Ulin Banjarmasin.

Baca juga: Perpindahan Ibu Kota Kalsel, Pemko Banjarmasin Akan Ajukan Uji Formil dan Materil ke MK

Baca juga: Kepala BKKBN Kalsel Sebut Dua Inovasi Ini Dapat Turunkan Angka Stunting di Tapin

Perbincangan dipandu Agus Rumpoko, jurnalis BPost, ini ditayangkan dan bisa disimak ulang di kanal Youtube Banjarmasin Post News Video, Instagram Banjarmasin Post dan Facebook BPost Online.

Dijelaskan Khairiyadi, TBC pada anak sempat tidak terdeteksi selama masa pandemi Covid-19. Padahal tingkat kematiannya juga tinggi.

"Pemeriksaan pasien apakah terindikasi TBC itu melalui dahak. Hanya saja tidak semua anak bisa mengeluarkan dahaknya, terutama anak berusia di bawah 5 tahun," ungkap dr Khairiyadi

Sebab kesulitan memeriksa dahak, maka yang perlu diperhatikan pada anak adalah mengamati fisik si anak apakah ada ciri teridap penyakit TBC.  "Ciri pertama adalah berat badan anak tidak mau naik, malah menurun," jelas Fitri. 

Kemudian, terjadi batuk-batuk yang lamanya tergantung paparan kuman TBC, yaitu bisa saja terjadi berminggu-minggu.

Baca juga: Jadwal Imsakiyah Hingga Buka Puasa Untuk Banjarmasin Ramadhan 2022 dan Tips Agar Tak Loyo Saat Puasa

Baca juga: Peserta Vaksinasi Dapat Bingkisan dan Kupon Undian Berhadiah Motor dari Polresta Banjarmasin

Selain itu, lanjutnya, demam yang tidak tinggi. Saat pagi 37,6 derajat dan saat malam 37,8 derajat. Ciri lainnya, anak juga cenderung pendiam. 

Berbeda dengan anak di atas 5 tahun, bisa mengeluarkan dahaknya, sehingga bisa diperiksa di puskesmas. 

Terkini, sudah ada alat yang bisa mendeteksi penyakit TBC melalui pemeriksaan darah. Namun alat yang sudah aada di seluruh kabupaten di Kalsel ini pemeriksaannya belum ditanggung oleh BPJS.

Imbauan dr Khairiyadi kepada para orangtua yang memiliki anak kecil, tingkatkan kewaspadaan. Deteksi TBC pada anak ini harus tetap dilakukan di masa pandemi. 

Jika gizi kurang, berat badan turun, demam dan lesu, maka sudah sepantasnya dibawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

(Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)

Ikuti kami di
KOMENTAR
© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved