Jendela

Andai Puasa Ramadan Tidak Wajib

Melawan nafsu itu berat. Kadang di siang hari kita puasa, di malam hari kita balas dendam.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEWAKTU saya belajar di Pesantren Al-Falah Banjarbaru, ada seorang pengajar tamatan al-Azhar asal Somalia bernama Syekh Ramadan. Beliau mengajari kami hadis-hadis dari kitab Riyâdhus Shâlihîn dan Shahîh Muslim. Hadis-hadis itu harus dihapal, termasuk sanadnya, yakni para perawinya. Beliau mengajar dalam bahasa Arab, dan hanya sedikit berbahasa Indonesia. Khusus untuk Shahîh Muslim, mata rantai perawinya cukup panjang dan cukup sulit menghapalnya. Kadangkala kami terlupa atau pura-pura lupa nama satu-dua perawi agar segera sampai ke pesan (matan) hadis. Namun, Syekh Ramadan biasanya langsung menegur. Hapalan beliau luar biasa.

Saya tidak pernah menanyakan langsung, mengapa beliau diberi nama oleh orangtuanya ‘Ramadan’. Apakah karena beliau lahir di bulan suci Ramadan, atau karena orangtuanya berdoa di bulan Ramadan agar diberi anak, kemudian terkabul? Entahlah. Namun, ada satu pandangan beliau yang masih saya ingat tentang puasa. Ketika itu beliau mengatakan, untuk melatih disiplin melawan hawa nafsu, berpuasa tidak cukup. “Ketika kau berpuasa, Allah akan memberimu makan dan minum, sehingga kau kuat. Karena itu, coba sesekali kamu tidak makan dan minum, tapi tidak berniat puasa. Jika kamu tahan, maka kemampuanmu mengendalikan nafsu akan lebih besar,” katanya.

Teori Syekh Ramadan di atas menarik sekali. Kita umumnya merasa berpuasa itu berat, meskipun setelah dijalani ternyata kita sanggup juga. Ketika saya kuliah di Kanada, seorang teman bertanya, bagaimana saya sanggup berpuasa sebulan penuh, lebih-lebih di negeri asing yang lingkungannya tidak berpuasa? Saya katakan padanya bahwa kaum Muslim sanggup berpuasa karena dilatih oleh orangtua mereka sejak kecil. Latihan itu membuat mereka percaya diri dan kuat. Hal serupa juga berlaku untuk salat. Bagi orang luar, salat lima kali sehari itu tidak hanya repot tetapi juga berat. Namun latihanlah yang membuat seorang Muslim terbiasa dan tidak meninggalkannya.

Akan tetapi, mungkin kita tidak akan mau berpayah-payah berlatih puasa, menahan lapar-dahaga dan hubungan seksual, andai Allah tidak mewajibkan puasa Ramadan kepada kita. Apakah kita mau menahan lapar, haus dan seks semata karena ingin berlatih mengendalikan nafsu? Kemungkinan besar tidak. Seandainya puasa Ramadan itu tidak diwajibkan, kemungkinan besar mayoritas umat Islam tidak akan berpuasa. Dalam konteks ini, menurut Seyyed Hossein Nasr, berbeda dengan agama lain yang hanya mewajibkan pola hidup asketis-spiritual kepada kelompok ‘elit keagamaan’ tertentu, Islam mewajibkan puasa Ramadan sebagai penerapan pola hidup asketis-spiritual kepada seluruh umatnya agar mereka bisa merasakan semerbak wangi dan keindahan alam ruhani.

Puasa sebagai perintah Allah itu kita laksanakan dengan niat yang tegas: ‘sengaja aku berpuasa besok hari fardhu karena Allah ta’ala’. Niat karena Allah bisa berarti karena menjalankan perintah-Nya, karena mengharap ganjaran kebaikan dari-Nya, karena takut akan siksa-Nya atau karena mengharap cinta-Nya. Niat adalah tujuan dari perbuatan yang kita lakukan. Niat adalah motivasi yang membuat kita kuat dan bersemangat mengerjakan sesuatu. Dengan niat, kita sadar akan arah yang dituju, mengapa kita melakukan sesuatu. Niat inilah yang membuat puasa kita sah menurut para ulama. Tanpa niat ini, puasa kita tidak bernilai ibadah. Mungkin sekadar lapar dan haus saja.

Namun, sebagai makhluk berakal, wajar jika kita berusaha memahami, mengapa puasa Ramadan diwajibkan Allah? Mengapa puasa dapat mengantarkan orang kepada derajat taqwa? Jelas bahwa puasa adalah pengendalian nafsu makan-minum dan seksual. Kedua nafsu itu sangat terasa sebagai bagian dari tuntutan jasmani kita. Ketika kita mencoba menahan tuntutan jasmani itu, kita kemudian sadar akan sesuatu yang lebih tinggi dari jasmani, yang mengendalikan hidup kita, yaitu ruh kita. Kesadaran ini sangat penting bagi kita yang hidup dalam dunia yang serakah dan sangat meterialistis, memuja kekayaan dan harta benda, sehingga lupa akan kehidupan ruhani yang lebih tinggi.

Dengan demikian, esensi utama puasa adalah pengendalian nafsu. Karena itu, boleh jadi untuk melatih pengendalian nafsu itu, kita akan lebih ditantang jika di luar Ramadan, kita mencoba menahan lapar dan haus serta hubungan seksual, tanpa niat puasa. Hal ini rupanya dilakukan oleh sebagian orang. Suatu hari, saya berbincang dengan kakaknya Emha Ainun Nadjib. Saya tanyakan, bagaimana Emha bisa sehebat itu? Sang kakak antara lain mengatakan, Emha itu punya karakter unik. Apabila dia sangat menginginkan sesuatu, maka pada saat itu pula dia akan menyangkal dan melawan keinginan itu. Ketika keinginan diri telah kalah, dia akan pasrah pada kehendak Allah.

Alhasil, melawan nafsu itu berat. Kadang di siang hari kita puasa, di malam hari kita balas dendam. Kita mungkin lebih sanggup menahan nafsu makan-minum demi kesehatan ketimbang demi pengendalian nafsu. Untung saja Allah mewajibkan puasa Ramadan kepada kita, entah kita ikhlas melaksanakannya ataukah ‘terpaksa dengan ikhlas’! (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved