Jendela

Etos Membaca Kita

Membaca tidak sekadar pengisi waktu luang, melainkan suatu pencarian akan petunjuk dan kebijaksanaan hidup.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - “TIDAK ada agama yang perintah pertamanya adalah ‘bacalah!’ kecuali Islam. Tetapi apakah umat Islam suka membaca?” Demikian pertanyaan menggugat yang disampaikan seorang cendekiawan dalam satu acara Peringatan Nuzulul Qur’an. Survei Program for International Student Assessment (PISA) beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa minat baca anak Indonesia sangat rendah.

Masalah jadi bertambah ketika dunia semakin dikuasai informasi berlimpah ruah di dunia maya melalui internet. Kini orang tidak lagi sekadar mengonsumsi melainkan juga memproduksi informasi, sehingga dibuatlah istilah baru: prosumsi. Berkat media sosial, kini tiap orang bisa menjadi wartawan dan pembuat iklan. Akibatnya, makin sulit membedakan informasi yang bermanfaat atau mudarat, yang bermakna atau sia-sia, yang benar atau palsu. Informasi laksana tsunami yang menggulung pikiran kita tanpa perbedaan antara air dan sampah. Semua ada, campur baur tidak karuan.

Ketika informasi begitu mudah didapatkan, diciptakan dan disebarkan, ternyata tidak serta merta membuat orang terdorong untuk menggali informasi sedalam-dalamnya. Yang seringkali terjadi justru sebaliknya: orang malas menelusuri, memilah dan memilih secara kritis informasi yang didapatkannya. Singkat kata, orang makin malas berpikir. Hakikat berpikir adalah bertanya, dan bertanya adalah mencari jawaban. Orang sulit berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Orang makin perlu informasi yang singkat dan padat. Sayangnya, seringkali yang singkat itu dangkal. Kedangkalan itu akhirnya membuat orang ugal-ugalan dan saling menjatuhkan di medsos.

Demikianlah, salah satu gejala malas berpikir adalah malas membaca. Orang yang malas membaca, jangan mimpi bisa menulis dengan baik. Yang dimaksud ‘menulis’ di sini adalah mengarang, yakni mengungkapkan sikap, perasaan dan pikiran melalui penciptaan kalimat-kalimat yang dapat dipahami orang lain. Dilihat dari tingkat kemampuan berbahasa, menulis adalah kecakapan tertinggi setelah mendengar, berbicara dan membaca. Karena itu, menulis itu sulit. Akibatnya, sebagian orang berusaha mencari jalan pintas. Ada mahasiswa atau dosen yang tanpa malu melakukan penjiplakan melalui teknik copy-paste. Kemalasan melahirkan kepalsuan dan penipuan.

Semua ini menunjukkan, kita semakin jauh dari ajaran Islam itu sendiri. Untuk menghibur diri, bolehlah kita membanggakan masa lalu yang gemilang. Katanya, sekarang kita memang tertinggal di bidang ilmu dan teknologi, tetapi dulu umat Islam di abad pertengahan maju sekali. Disebutlah nama-nama besar seperti Ibnu Sina, al-Khawarizmi, Jabir bin Hayyan, Ibnu Rusyd, al-Ghazali dan lain-lain. Hal ini juga diakui oleh sarjana luar. Orientalis Franz Rosenthal (1914-2003) misalnya, menulis buku berjudul Knowledge Triumphant (Kejayaan Ilmu) yang membuktikan bahwa peradaban Islam abad pertengahan benar-benar dibangun di atas fondasi kecintaan dan penghormatan pada ilmu.

Namun, apalah guna membanggakan masa lalu jika masa kini kita tak lagi seindah itu? Masa lalu hanya berguna jika ia menjadi motivasi untuk meraih masa depan yang lebih baik. Karena itu, kita perlu kembali kepada pesan-pesan dasar tentang keharusan membaca dan mengembangkan ilmu. Islam tidak hanya menganjurkan kita membaca kitab suci Alqur’an, tetapi juga membaca alam semesta (makro kosmos) dan diri kita (mikro kosmos). Alqur’an, alam dan manusia, ketiganya disebut ‘ayat’, yakni tanda-tanda kehadiran Tuhan. Karena itu, membaca, menggali informasi dan mempelajari ilmu pada dasarnya adalah aktivitas relijius, yang wajib dilakukan sepanjang hayat.

Di sisi lain, masalah dunia saat ini bukan hanya soal kemalasan manusia untuk membaca dan belajar, tetapi jauh lebih besar dari itu. Kemajuan ilmu dan teknologi tidak hanya mendatangkan kesejahteraan tetapi juga kerusakan. Perang di zaman modern, dengan persenjataan super canggih, jauh berjuta kali lipat dapat menghancurkan dan merusak dibanding persenjataan abad pertengahan. Sungguh ngeri membayangkan jika dunia kita mengalami perang nuklir. Begitu pula, teknologi dapat membuat hutan cepat gundul, bumi digali dan gunung dipangkas. Pemanasan global, perubahan iklim dan krisis lingkungan adalah buah beracun dari teknologi modern.

Mungkin inilah sebabnya, perintah membaca itu disambung dengan ‘bismirabbik’ (dengan nama Tuhanmu). Lengkapnya: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” Nama-nama Allah itu ada yang jamâl (feminin) yang membuat kita cinta, dan ada pula yang jalâl (maskulin) yang membuat kita takut. Kita cinta pada manfaat ilmu dan takut pada kerusakan akibat penyalahgunaannya. Ilmu bukan untuk melayani nafsu serakah manusia yang tak pernah puas. Ilmu harus mendatangkan kebaikan dan kesejahteraan bagi manusia. Ilmu harus dipandu oleh nilai-nilai moral dan etis.

Alhasil, perintah wahyu pertama agar kita membaca dengan nama Tuhan adalah suatu petunjuk bahwa kehidupan manusia akan mulia jika ia mencari ilmu dalam bimbingan Tuhan. Membaca tidak sekadar pengisi waktu luang, melainkan suatu pencarian akan petunjuk dan kebijaksanaan hidup. Inilah etos membaca dalam Islam. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved