BTalk Mom & Kids
BTalk, Tips dr Edi Hartoyo dari RSUD Ulin Banjarmasin Agar Orangtua Cegah DBD pada Anak
dr Edi Hartoyo, SpA(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Infeksi RSUD Ulin Banjarmasin jadi narasumnber BTalk Program Mom & Kids tentang DBD pada anak.
Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pandemi Covid-19 membuat perhatian terhadap penyakit lain, di antaranya demam berdarah dengue (DBD), seakan tertutupi. Data Kementerian Kesehatan, kasus DBD melonjak pada 2022.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Didik Budijanto, mengatakan, hingga akhir Maret sudah ada sekitar 22.331 kasus.
Padahal pada tiga pekan awal 2022, jumlahnya baru 313 kasus. Sedihnya, sudah 229 pasien meninggal dunia.
Kewaspadaan terhadap akibat gigitan nyamuk aedes aegypti ini perlu ditingkatkan lagi, terlebih pada anak. Apalagi pada 22 April merupakan Hari Demam Berdarah.
Bagaimana melindungi anak dari DBD? Simak perbincangan menarik di Mom & Kids, Sabtu (23/4]/2022) yang ditayangkan live di Instagram Banjarmasin Post, Facebook BPost Online dan Youtube Banjarmasin News Video.
Baca juga: Kasatlantas Sebut 11 Titik Jalan Rusak dari Jalan Batulicin, Ini Penjelasan PUPR Kabupaten Tanbu
Baca juga: Wakil Gubernur Kalsel Muhidin Perlihatkan Uang Berkarung-karung, Sumbangkan ke Masjid dan Musala
Program ini menghadirkan Dr dr Edi Hartoyo, SpA(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Infeksi RSUD Ulin Banjarmasin. Dan, perbincangan dipandu Jurnalis Banjarmasin Post, Tania Anggrainy.
Dijelaskan Edi, demam berdarah disebabkan virus dengue, yang infeksinya disebabkan nyamuk Aedes aegepty betina dan Aedes albopictus.
Apabila pasien demam berdarah itu sembuh, maka akan terbentuk imunitas. Tapi, hanya sampai strain tertentu. Makanya, ada kemungkinan bisa tertular lagi.
"Epidomiologinya, kasus di Indonesia masih tetap tinggi, yaitu perbandingannya 10-25 orang per 100 ribu penduduk. Namun mortalitas (kematian) menurun menjadi 2 persen. Kelompok usia yang rentang terjangkit adalah usia 5-10 tahun," bebernya.
Gejala awal DBB, yaitu demam mendadak tinggi hingga 40 derajat. Rasa sakit di belakang mata dan sendi/tulang. Hidung mimisan. Ruam di tubuh setelah demam 2-5 hari. Sakit kepala dan mudah memar.
Baca juga: Tangisan dan Tawa Warnai Khitanan Massal Gelaran IJTI Kalsel dan GJB Banjarmasin
Baca juga: Polresta Banjarmasin hingga Polsek KPL Berbagi, Kombes Sabana Senang Melihat Senyum Bahagia Warga
Sebagaimana yang sejak dulu disosialisasikan oleh pemerintah, dalam pencegahan demam berdarah ini diperlukan partisipasi semua pihak.
"Pertama adalah 3 M, yaitu menguras, menutup, mengubur sampah. Kedua adalah aksi kebersihan dan kerapian lingkungan," bebernya.
Selain itu, menggunakan kelambu, jangan menggantung baju terlalu lama, menyemprotkan obat nyamuk, lakukan fogging dan menggunakan lotioj anti nyamuk.
(Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/BTalk-Mom-Kids-cegah-DBD-pada-anak-menghadirkan-Edi-Hartoyo-dari-RSUD-Ulin-Banjarmasin.jpg)