Kampusiana

Rawa Labil Menerima Beban Berat, Ini Saran Dosen Prodi Geografi ULM Saat Membangun di Lahan Gambut

Dosen Prodi Geografi ULM Dr Nasruddin, M Sc menyebut lahan gambut tidak punya kestabilan yang baik saat menerima beban berat atau tinggi

Penulis: Muhammad Rahmadi | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/muhammad rahmadi
Ilustrasi-Proses evakuasi para korban tertimbun reruntuhan toko alfamart km 14 gambut, kabupaten banjar, kalsel. 

Lanjut Dr Nasruddin menjelaskan bahwa sifat tanah gambut seperti spons akan mengalami pemadatan secara bertahap, jika memanfaatkan teknologi urug dan ekologi gambut akan terganggu.

Tanah gambut tidak memiliki kestabilan yang baik, untuk menopang beban bangunan yang tinggi (berat).

"Kearifan lokal masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan telah memahami secara baik pengetahuan lokal ini, dengan menerapkan arsitektur rumah panggung berbahan kayu dengan pondasi dasarnya dari kayu galam dan mampu bertahan dalam waktu yang lama. Namun saat ini telah mengalami pergeseran dengan pemanfaatan bahan-bahan bangunan yang memiliki beban yang tinggi terhadap pondasi bangunan," ujarnya.

Dr Nasruddin pun mengungkapkan apa saja yang harus diperhatikan terkait bangunan di lahan gambut.

Yang pertama yaitu pondasi bangunan merupakan hal utama yang diperhatikan baik ukuran, jenis dan kualitas (kayu galam, sunduk, lapik, dan tongkat) jika pondasi dengan karakter kearifan lokal.

Penggunaan kombinasi pondasi bangunan berbasis kearifan lokal kayu dan material non kayu (beton) saat ini telah banyak digunakan untuk bangunan dan relatif mampu bertahan. 

Secara teori pondasi bangunan yang baik tentunya menyentuh pada lapisan bedrock (batuan) dengan tingkat kedalaman yang berbeda pada tiap-tiap lokasi.

Penggunaan dan pemasangan tongkat suai bangunan dengan kualitas yang baik misalnya kayu ulin dengan ukuran 5/10 m yang berfungsi sebagai pengunci pondasi bangunan.

Arsitektur bangunan khususnya teknologi semi permanen harus memperhatikan pemanfaatan material, dengan beban rendah serta pemanfaatan ventilasi, jendela dan pintu yang memungkinkan mengurangi daya beban material bangunan.

Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala/periodik khususnya pada pondasi bangunan, dan apabila telah terjadi retakan baik retak vertikal, horizontal, dan diagonal pada dinding bangunan agar segera dilakukan renovasi pondasi dan atau penambahan pondasi bantu. 

Baca juga: VIDEO HEBOH BANGET - Kosan Ambles di Banjarmasin,  Begini Kondisi Penampakan Bangunan

Selain faktor alami tanah gambut yang relatif tidak stabil untuk bangunan dengan beban tinggi, faktor lainnya juga bisa disebabkan oleh faktor lingkungan misalnya faktor getaran.

Misalnya lokasi memiliki kedekatan akses dengan jalan utama/raya dengan, kepadatan lalu lintas yang tinggi.

"Melakukan relokasi ke tempat yang aman apabila retakan bangunan semakin membesar (vertikal, horizontal, diagonal) dan segera melakukan pelaporan kepada instansi terkait agar tidak menimbulkan korban jiwa," jelasnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Rahmadi)

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved