Jendela

Ilmu sebagai Petunjuk Hidup

Salah besar jika orang menuntut ilmu dengan tujuan mendapatkan uang semata. Tujuan yang benar adalah mendapatkan petunjuk hidup dari ilmu.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SETIAP tahun jumlah calon mahasiswa yang ingin kuliah di perguruan tinggi selalu banyak. Namun di sisi lain, “85 persen koruptor yang ditangkap KPK adalah alumni perguruan tinggi,” kata komisioner KPK, Nurul Ghufron, saat menyampaikan kuliah umum di UIN Antasari pada 17 Maret 2022 lalu. “Apa yang salah dengan pendidikan kita di perguruan tinggi?” tanya beliau.

Dalam kuliah umum itu, Nurul Ghufron menjelaskan, sebab utama mengapa para sarjana akhirnya menjadi koruptor adalah niat yang salah ketika masuk ke perguruan tinggi. Mahasiswa kuliah semata ingin menjadi sarjana, dan setelah menjadi sarjana bisa mendapatkan pekerjaan yang mendatangkan penghasilan (semakin besar, semakin baik). Sekilas niat semacam ini benar dan wajar. Namun dalam praktiknya, terjadi penyimpangan. Karena hanya ingin menjadi sarjana, maka yang penting bisa lulus, bagaimanapun caranya. Setelah gelar sarjana didapat, tujuan selanjutnya adalah mendapatkan uang. Demi uang, apapun dihalalkan. Uang menjadi tujuan utama. Keserakahan akhirnya dianggap wajar.

Alur yang benar tidaklah demikian. Niat yang tulus menuntut ilmu adalah karena kita memerlukan ilmu sebagai petunjuk hidup. Ilmu membuat manusia lebih mulia dari binatang, bahkan lebih tinggi dari malaikat. Ilmu itu laksana cahaya dalam gelap. Karena itu, kita belajar bukan karena ingin lulus ujian belaka. Kita belajar karena kita memang memerlukan apa yang kita pelajari itu untuk hidup kita, sebagai pribadi dan anggota masyarakat. Inilah yang dalam istilah lain disebut ‘ilmu yang bermanfaat’. Ilmu itu bermanfaat jika ia mengandung kebenaran, dan kebenaran itu jika diikuti akan mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Kebaikan adalah kebahagiaan.

Dengan semangat mendapatkan ilmu yang bermanfaat itulah, seorang anak manusia akan terus-menerus belajar sepanjang hidupnya. Ilmu bukanlah hapalan. Ilmu adalah sesuatu yang dipelajari dan direnungkan. Ilmu yang sejati bukanlah kutipan tanpa pemahaman, ucapan tanpa penghayatan. Ilmu tidak sekadar diserap, tetapi diolah dan direalisasikan di dalam diri. Karena itulah, seorang pemikir Islam abad ke-9 M, Ibrahim an-Nazzham mengatakan, “Ilmu adalah sesuatu yang tidak memberikan sebagian dirinya kepadamu kecuali kamu memberinya keseluruhan dirimu.” Singkat kalimat, menuntut ilmu adalah suatu proses pergumulan eksistensial yang serius dan dalam.

Karena itu, ilmu tidak bisa dibeli, meskipun gelar sarjana bahkan profesor konon bisa saja dibeli. Meskipun Anda kaya raya, Anda takkan bisa membeli ilmu tanpa mempelajarinya sama sekali. Karena itu pula, orang-orang bijak mengatakan, ilmu lebih mulia dari harta. Ilmu itu menjagamu, sedangkan harta, kamu yang harus menjaganya. Ilmu itu bertambah jika diberikan, sedangkan harta berkurang jika diberikan. Harta yang banyak, jika dipegang oleh orang bodoh, akan membawa kepada kehancuran. Sebaliknya, orang yang berilmu akan baik dalam semua keadaan, kaya atau miskin, karena ia mengerti bagaimana cara bersyukur dan bersabar dalam hidup.

Dengan demikian, salah besar jika orang menuntut ilmu dengan tujuan mendapatkan uang semata. Tujuan yang benar adalah mendapatkan petunjuk hidup dari ilmu, sehingga ia dapat memberikan manfaat kepada kehidupan. Dengan memberikan manfaat, dia akan mendapatkan imbalan. Ini adalah hukum kehidupan. Imbalan itu bisa berupa harta, kedudukan dan kehormatan. Namun, imbalan tersebut hanyalah akibat sampingan, karena hidup manusia dan fungsi ilmu dalam hidupnya jauh lebih luas dan besar. Pada hakikatnya, ilmu adalah sarana untuk mengenali diri, alam, kitab suci hingga Sang Pencipta. Ilmu adalah syarat mutlak untuk memahami makna hidup yang sejati.

Karena itu, guru, dosen dan ulama yang bekerja di bidang keilmuan, sudah seharusnya menjaga integritas dan martabatnya. Jangan sampai, seorang yang terpelajar rela merendahkan diri dan mengorbankan kebenaran di hadapan orang kaya dan/atau berkuasa. Jika hal ini terjadi, maka masyarakat akan ikut-ikutan memuja harta dan kuasa. Akibatnya, banyak orang yang berlomba memburu jabatan dan harta, sementara Ilmu tidak lagi dihargai. Orang malas belajar karena yang penting bukan ilmu tapi deretan gelar yang bisa dibeli. Ilmu tidak lagi berfungsi sebagai petunjuk hidup. Yang benar dan palsu menjadi kabur. Yang selalu benar adalah harta dan kuasa belaka.

Tokoh-tokoh besar di masa lampau, semua mengajarkan kepada kita, betapa penting seorang yang terpelajar itu memiliki independensi. Konon, para filosof Yunani kuno dapat leluasa berpikir dan mengkaji ilmu karena memiliki banyak pohon zaitun sebagai sumber penghasilan mereka. Di sisi lain, kaum Sufi menganjurkan agar orang hidup asketis, sederhana sukarela. Dua pilihan ini sama-sama baik. Jika seseorang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya karena telah memiliki penghasilan yang cukup, atau dia selalu merasa cukup dengan apapun yang didapatkannya secara halal, maka dia akan menjadi manusia yang independen. Dia akan mudah menjaga integritas.

Alhasil, ilmu yang sejati adalah kebenaran. Kebenaran jika diikuti akan mendatang kebaikan, dan kebaikan akan melahirkan kebahagiaan. Inilah ilmu yang bermanfaat, ilmu yang menjadi petunjuk hidup bagi manusia. Korupsi dan berbagai kejahatan moral serta kerusakan alam yang terjadi selama ini adalah karena kita mengkhianati hakikat ilmu. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved