Ekonomi dan Bisnis

Harga Sapi Lokal Meningkat Hingga Rp 5 Juta, Ketersediaan di Kalsel Sekitar 11 Ribu Ekor

Peternak sapi di Banjarbaru tak berani jual sebagai hewan kurban ke masyarakat karena tunggu aba-aba dinas. Disbunnak sebut Kalsel perlu 11 ribu ekor.

Penulis: Nurholis Huda | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/NOOR MASRIDA
Petugas dari Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Banjarmasin melakukan penyemprotan cairan desinfektan pada sapi dari Bima saat di kawasan Pelabuhan Basirih, Kalimantan Selatan, Sabtu (28/5/2022) siang. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Sapi lokal di peternak masih minim. Karena itu, peternak masih belum berani menjual sapi mereka ke pembeli untuk keperluan kurban. 

Diungkapkan Noor Hamid, seorang peternak sapi di Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Senin (30/5/2022), punya 40 ekor tapi masih tidak berani menjual. 

"Kondisi seperti ini belum berani jual kami. Untuk orderan kurban saja, kami masih nunggu aba-aba dari dinas,  dibolehkan tidak membeli dari Jawa. Kalau orderan pemesan untuk kurban, sudah banyak yang tanya-tanya. Tapi,  saya masih belum berani lepas," kata Noor Hamid, Senin (30/5/2022). 

Soal harga, Hamid menjelaskan, untuk sapi meningkat dari Rp 15 juta hingga Rp 25 juta. Itu tergantung dari ukuran dan bobot sapinya. 

"Kalau sebelumnya harga masih Rp 15 juta sampai Rp 20 juta saja dan ini meningkat memang," kata dia.

Baca juga: VIDEO Ketika Peternak Itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara Ini Terpaksa Kosongkan Kandang

Baca juga: Dugaan Anak Tenggelam di Kabupaten Tabalong Kalsel, Relawan dari Kandangan Ikut Mencari

Baca juga: Sebut Mukjizat, Ibu dan Bocah Mengapung di Laut Sebelum Dievakuasi ke Kabupaten Kotabaru Kalsel

Terpisah, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalsel, Suparmi, mengatakan, peternak sudah bisa menandatangkan keperluan sapi untuk hewan kurban. Saat ini diperkirakan sama dengan tahun sebelumnya yang berjumlah 11 ribu ekor sapi. 

"Berdasarkan hewan kurban yang disembelih tahun lalu, maka diperkirakan keperluan tahun ini mencapai 11 ribu ekor sapi. Sebanyak 10 ribu ekor dari lokal Kalsel, sisanya dari luar daerah. Terutama dari daerah yang tidak terkena Penyakit Kuku dan Mulut atau PMK," kata dia. 

Saat ini, proses pengiriman hewan ternak sedang berlangsung dan dipastikan menjalani karantina selama 14 hari. 

Pelaksanaan pemotongan hewan kurban, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, harus sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 114/Permentan/PD.410/9/2014 tentang Pemotongan
Hewan Kurban.

Serta,Surat Edaran Menteri Pertanian nomor 03/SE/PK.300/M/5/2022 tentang Pelaksanaan Kurban dan Pemotongan Hewan dalam situasi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Baca juga: Sidang Arisan Online Fiktif di Banjarmasin, Saksi Sebut Terdakwa Juga Sempat Berhutang Puluhan Juta

Baca juga: VIDEO Vonis bagi Mantan Pegawai Bank di Banjarmasin Penjara 5 Tahun, Pakai Uang Nasabah untuk Judi

Terkait upaya pengendalian PMK, Suparmi bilang, Pemprov Kalsel sampai saat ini terus menggerakkan tim terpadu bekerja sama dengan kabupaten/kota.

Bersama, melakukan pengawasan kesehatan hewan dan melakukan upaya-upaya pencegahan penyebaran Penyakit Kuku dan Mulut, seperti peningkatan biosekuriti dan pengetatan lalu lintas ternak.

“Termasuk peningkatan daya tahan tubuh ternak dengan pemberian obat-obatanmaupun suplemen tradisional terus diupayakan petugas kesehatan hewan dan pemilik ternak, dan telahmenunjukan proses kesembuhan yang baik,” runutnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Nurholis Huda)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved