Berita Tanahlaut

Alihkan Alur Sungai pada Penambangan Lanjutan di Jorong Tala, PT JBG Himpun Saran Stakeholder

Saat ini anak perusahaan ITM tersebut sedang melaksanakan studi analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) terkait rencana penambangan lanjutan.

Penulis: Idda Royani | Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/roy
Pihak konsultan menyampaikan penjelasan terkait pemgalihan alur Sungai Asamasam pada kegiatan Forum Konsultasi Publik di Pelaihari, Selasa (31_5). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Penambangan batu bara di Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), hingga kini terus berlangsung.

Termasuk penambangan di Kecamatan Jorong yang dilakukan PT Jorong Barutama Greston (JBG).

Saat ini anak perusahaan ITM (Indo Tambangraya Megah) tersebut bahkan sedang melaksanakan studi analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) baru terkait rencana penambangan lanjutan.

Pada perencanaan amdal baru tersebut, kegiatan penambangan yang akan dilakukan bakal mengalihkan alur sungai Asamasam.

Karena itu manajemen JBG menggelar konsultasi publik studi amdal baru tersebut guna menghimpun saran pendapat stakeholder, Selasa (31/5/2022), bertempat di ruang pertemuan hotel di kawasan Jalan KH Mansyur, Pelaihari.

Baca juga: Sapi dari Dua Daerah Ini Terpaksa Balik Kanan Setiba di Pasar Hewan Tanahlaut, Ini Penyebabnya

Baca juga: Vaksin Booster Dewasa di Kabupaten Tala Masih Ngalir Puluhan Orang Sehari, Lansia dan Anak Nihil

Kegiatan itu dihadiri Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Pertanahan (PUPRP) Tala H Agus Sektaji, Camat Jorong H Zainal Abidin beserta muspika setempat, Kepala Desa Asamasam Muhid dan beberapa kades lainnya, Direktur LSM Merah Putih M Hardiansyah, tokoh masyarakat, dan perwakilan instansi terkait.
Dari pihak JBG dihadiri Mine Head I Gde Widiada beserta jajarannya.

Paparan teknis studi amdal baru tersebut disampaikan pihak konsultan (Dody dan Dahyar).

Mengenai alasan pengalihan alur Sungai Asamasam, Dahyar menerangkan lantaran di bawah sungai tersebut ada deposit batu bara yang cukup besar.

"Jika tidak dilakukan pemindahan alur sungai, JBG tidak bisa melakukan penambangan. Artinya aktivitas tambang berakhir," jelas Dahyar.

Jika penambangan berakhir, lanjutnya, secara sosial banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan.

"Otomatis kegiatan CSR kepada masyarakat sekitar tambang pun juga tidak ada lagi," tandasnya.

Itu sebabnya pengalihan alur tersebut menjadi solusi agar JBG saat ini masih beroperasional dan memberikan manfaat bagi warga sekitar.

Setidaknya hingga tahun 2025 mendatang karena setelahnya penambangan berakhir dan empat tahun berikutnya kegiatan pascatambang seperti penyelesaian reklamasi dan lainnya.

Dahyar menyebutkan, kondisi eksisting Sungai Asmaasam saat ini sepanjang 3.538 kilometer.
Alur sungai baru yang akan dibikin sepanjang 2,53 kilometer.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved