Jendela

Sepi-Sendiri yang Membebaskan

Saya menilai ponsel dapat menjadi berhala yang kita puja.Berhala di sini berarti sesuatu yang diciptakan manusia, kemudian dia tunduk takluk kepadany

Editor: Hari Widodo
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - Apa yang pertama kali dilakukan orang setelah bangun tidur? Menurut sebuah survei di Amerika Serikat, tiga perempat anak muda berusia 18 hingga 24 tahun mengatakan, mereka langsung membuka ponsel. “Itu yang dilakukan anak-anak muda. Kalau yang tua-tua sih, tidak. Tidak beda!” kata seorang penceramah. Hadirin langsung tertawa karena merasa tersindir. “Jika seorang bapak pergi dan ponselnya tertinggal di rumah, biasanya dia balik lagi untuk mengambilnya. Kalau isterinya tertinggal, mungkin dia tidak balik,” lanjutnya, dan bapak-bapak pun tertawa kecil.

Dalam berbagai kolom terdahulu, saya menilai ponsel dapat menjadi berhala yang kita puja. Berhala di sini berarti sesuatu yang diciptakan manusia, kemudian dia tunduk takluk kepadanya. Selain itu, ponsel semakin melekat di hati kita karena ia bukan sekadar barang, melainkan isinya adalah perpanjangan dari diri kita. Apa dan siapa diri kita telah tersimpan dalam, dan terhubung melalui, ponsel itu. Ini sebabnya, ketika ponsel tertinggal, seolah ada bagian dari diri kita yang tertinggal. Bahkan ponsel, melalui media sosial, turut menentukan makna keberadaan kita, berharga ataukah tidak, to be or not to be, atau meminjam ungkapan F. Budi Hardiman, “Aku klik maka aku ada.”

Kita semua tampaknya sadar akan dampak negatif ponsel di atas, tetapi mengapa kita sulit terbebas darinya? Barangkali untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat kecenderungan manusia modern yang hampir selalu mengarahkan dirinya kepada dunia luar. Dia tak pernah bisa tenang dalam kesunyian. Ia takut bahkan benci akan kesendirian. Dalam masyarakat modern, kesendirian seringkali dipahami dalam makna negatif. Ketika seorang penyanyi melantunkan lagu yang menyebut kata ‘sendiri’, ‘sunyi’ dan ‘sepi’, maka maksud yang ingin diungkapkannya seringkali adalah bahwa dia sedang berdukalara karena merasa diabaikan, ditinggalkan dan tidak dipedulikan.

Manusia modern sangat perlu dunia luar karena batinnya terasa kosong. Ia sangat perlu pada aneka rupa hiburan yang dapat disimak melalui panca inderanya. Ia tidak bisa tidak ngapa-ngapain saat sendirian. Karena itu, manusia modern menciptakan bahan bacaan, radio dan televisi. Agar tak merasa sepi saat sendirian, ia membaca, mendengarkan radio atau menonton televisi. Saat berjalan pun, ia dapat mendengarkan musik melalui kabel dan penyalur suara yang disumpalkan ke telinga. Berkat teknologi ponsel, semua hubungan dengan dunia luar itu kini tersedia dengan mudah, cukup dengan sentuhan jari saja. Melalui ponsel, ia selalu terhubung ke dunia luar, always connected.

Keinginan menggebu untuk mengisi kekosongan batin itu juga tampak pada kegemaran manusia modern mendatangi berbagai tempat hiburan atau mengunjungi aneka tempat rekreasi. Jika orang terus bekerja dan tak sempat pergi ke bioskop, maka dia dianggap terlalu serius dalam hidup. Jika dalam setahun orang tidak pernah pergi tamasya, maka konon dia sungguh patut dikasihani. Seolah plesiran ke tempat-tempat rekreasi adalah syarat mutlak bagi kebahagiaan manusia. Kebutuhan akan hiburan di luar itu semakin diperkuat lagi oleh ponsel. Melalui ponsel, orang bisa memamerkan foto dan videonya kala menikmati berbagai hiburan tersebut sebagai bukti ‘kebahagiaannya’.

Dalam konteks ini, saya teringat dengan sebuah catatan Muhammad Iqbal. Dalam Stray Reflections, ia menulis, “Keinginan untuk mendapatkan hiburan tidak akan pernah terpuaskan. Pengalaman negara-negara Eropa jelas menunjukkan fakta yang menyedihkan ini.” Menurutnya, jika dalam satu masyarakat tidak tersedia tempat hiburan, itu bukan berarti bahwa mereka tidak membutuhkan rasa senang, tetapi boleh jadi karena mereka “mendapatkan cukup kesenangan dan hiburan dalam lingkungan rumah mereka yang tenteram.” Dengan ungkapan lain, mungkin saja orang yang haus akan hiburan di luar rumah adalah orang yang tidak merasa tenteram di rumahnya sendiri.

Rumah kita yang sesungguhnya adalah hati kita, batin kita, dunia dalam diri kita. Ketika hidup kita selalu terhubung dengan dunia luar, kita melupakan dunia batin kita, diri kita sendiri yang otentik. “Ketika kita sendiri dalam sunyi, sesungguhnya kita tengah ditemani Tuhan,” kata Seyyed Hossein Nasr. Kesadaran inilah yang semakin terkikis dalam kehidupan modern yang terobsesi dengan dunia luar. Ilmu yang kita pelajari, tak lebih dari pengertian akan sisi luar kehidupan, bukan makna di balik fenomena. Kita belajar banyak ilmu, tetapi kita jarang merenung. Kita menghapal banyak rumus bahkan ayat-ayat suci, tetapi kita lupa bahwa semua itu adalah tanda-tanda kehadiran-Nya.

Alhasil, sebagai makhluk sosial, kita memang membutuhkan dunia luar, tetapi sebagai pribadi yang unik dan berbeda, kita juga perlu kesendirian. Sebagai makhluk jasmani, kita berinteraksi dengan dunia luar melalui indera kita, tetapi sebagai makhluk ruhani, kita memiliki dunia batin yang tak kasat mata, yang justru merupakan unsur kemanusiaan kita yang terdalam. Masalahnya, kita terlalu berat sebelah, terus-menerus menatap keramaian dunia luar dan melupakan dunia dalam. Padahal, sendiri dalam sepi , bukanlah penderitaan, melainkan pembebasan. Dalam sepi sendiri itu, kita dapat merenung, menemukan diri kita sendiri. Dan siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya. (*)

 

 

 

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved