BTalk Health and Beauty

BTalk, Masukan Dokter Dwiana Savitri di Banjarmasin tentang Mencegah Cacar Monyet dan Bekasnya

Cegah monkeypox menurut dokter Dwiana Savitri di Banjarmasin dalam acara BTalk, yaitu jaga kebersihan diri dan lingkungan, olahraga, makanan bergizi.

Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/SALMAH SAURIN
Perbincangan mengenai cacar monyet pada acara BTalk program Healt and Beuty meghadirkan Dokter Dwiana Savitri, Spesialis Kulit Kelamin RSUD Ansari Saleh, dipandu Layli Hasana Novia Putri, Selasa (7/6/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Setelah Covid-19, dunia diguncangkan oleh sejumlah penyakit lain, di antaranya cacar monyet.

Apa sebenarnya cacar monyet? Apa bedanya dengan cacar air dan cacar api yang selama ini dikenal masyarakat Bagaimana cara menghalau dan mengatasinya? Bagaimana pula merehabilitas kulit bekas cacar?

Simak video perbincangan dengan dr Dwiana Savitri, SpKK, FINSDV, FAADV, Spesialis Kulit Kelamin RSUD Ansari Saleh Banjarmasin: https://www.youtube.com/watch?v=owAgcthGXuY

Segala pertanyaan terjawab di program Healthy dan Beauty pada Selasa 7 Juni 2022 pukul 16.00 Wita. 

Hadir sebagai narasumber dr Dwiana Savitri, SpKK, FINSDV, FAADV, Spesialis Kulit Kelamin RSUD Ansari Saleh Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Baca juga: VIDEO Papan Nama Kantor Kemenag Banjar Belum Diganti Pelaksana Proyek Penataan Sekumpul

Baca juga: Anggota DPR Syaifullah Tamliha Soroti Proyek Penataan di Sekumpul Kalsel yang Asal-asalan

Perbincangan yang dipandu Layli Hasana Novia Putri ini ditayangkan live di Instagram Banjarmasin Post, Youtube Banjarmasin Post News Video dan Facebook BPost Online. 

Monkeypox pertamakali ditemukan pada tahun 1958 di Denmark ketika ada dua kasus seperti cacar muncul pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga cacar ini dinamakan 'monkeypox'.

Di Afrika, infeksi monkeypox telah ditemukan pada banyak spesies hewan, diantaranya monyet, tikus Gambia dan tupai. Inang utama dari virus ini adalah rodent (hewan pengerat).

Dijelaskan dr Vina, monkeypox adalah penyakit akibat virus yang ditularkan melalui binatang (zoonosis).

Baca juga: Oknum Lurah Diduga Terseret Kasus Narkoba, Wali Kota Banjarmasin Singgung Sanksi

Baca juga: Sapi dari Bumi Jaya Tanahlaut Kalsel Belum Boleh Masuk Pasar Hewan, Begini Penjelasan Pengelola

"Meski cacar monyet penularannya karena kontak langsung dengan hewan pengerat, namun diduga bisa juga menular melalui udara, sehingga risiko penularan manusia ke manusia sangat mungkin, maka perlu tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya penyebaran di Indonesia," jelasnya.

Adapun masa inkubasi di tubuh 6 sampai 21 hari. Penderita mengalami demam, tulang sakit, telinga nyeri dan pembesaran kelenjar getah bening. Selanjutnya pada 1-3 hari muncul ruam atau lesi pada kulit biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap. 

"Kalau cacair air muncul dari tangan atau kaki dulu baru ke wajah, nah cacar monyet kebalikannya, diawali wajah dulu," kata dr Vina.

Ruam atau lesi pada kulit ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar, lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian mengeras atau keropeng lalu rontok. 

Baca juga: Api Berkobar di Desa Jamil Kabupaten HST Kalsel, Tiga Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal

Baca juga: Ditinggal ke Sawah, Dapur Rumah Warga di Desa Bangkiling Tabalong Kalsel Hangus Terbakar

Biasanya diperlukan waktu hingga tiga minggu sampai periode lesi tersebut menghilang dan rontok.

"Dalam hal perawatan, bintik merah itu jangan sampai pecah, tapi kasih bedak. Mandi boleh. jika kondisi tidak demam. Setelah itu, bekas lepuh dikompres dengan cairan khusus. Jangan digaruk-garuk karena bisa infeksi," jelasnya.

Mencegah monkeypox ini adalah dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan, olahraga yang teratur, makanan bergizi (sayuran dan buah). 

(Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved