Fikrah

Tugas dan Kewajiban Terhadap Anak

DALAM mendapatkan keturunan, seseorang hendaklah mempunyai kiat-kiat tertentu. Di antaranya memohon kepada Allah SWT yaitu memilih pasangan hidup.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH. HUSIN NAPARIN, LC. MA

BANJARMASINPOST.CO.ID - DALAM mendapatkan keturunan, seseorang hendaklah mempunyai kiat-kiat tertentu. Di antaranya adalah memohon kepada Allah SWT yaitu memilih pasangan hidup, sebagai ibu dari keluarga yang bernasab yang baik, berakhlak yang bagus atau katakanlah beragama yang benar itulah dia agama islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman “Innaddina indaullahil islam” Artinya “Hanya sanya agama yang ada di sisi Allah ialah islam”.

Agama ini dibawa dan diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Pada zaman dahulu ada yang mempersoalkan mengapa Nabi itu adalah seorang manusia. Nabi harus seorang manusia bukan malaikat karena manusia adalah makhluk Allah SWT yang harus mencontohkan kepada umat apa dan bagaimana seharusnya menjalankan kehidupan ini yaitu mencontohkan bagaimana amalan yang harus dilakukan oleh seorang manusia, bagaimana kewajibannya terhadap Allah SWT, Tuhan yang menciptakannya dan bagaimana harus bergaul dengan sesama manusia atau lebih tepatnya mencontohkan kehidupan ini antarsesama mereka manusia.

Kalau malaikat mereka hanya taat kepada Allah tidak bisa mencontohkan apa yang harus dilakukan terhadap Allah dan sesama manusia. Malaikat hanya taat saja kepada Allah SWT, tidak mempunyai inisiatif tertentu mereka hanya melakukan dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah kepada mereka.

Kewajiban terhadap anak adalah seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW “Haqqun waladi ayyuhsinas nahu waadbahu yuhlaku yaumasyab’ihi wayuhlaku wayusyamma, waalla yarzukkahu illa toyyiba wa an yuzawwuzahu inadraka”. Artinya “Hak anak dari orangtuanya artinya kewajiban orangtua terhadap anak adalah memberi nama yang baik.” Dalam hadist yang lain Nabi bersabda “Ahsinu asmaakum innakum tudauna biasmaikum wabiasmai abaikum yaumalkiamati faahsinu asmaakum”.

Artinya “Nanti di hari kiamat kamu akan dipanggil dengan namamu dan nama bapakmu,” karena itu baik-baiklah memberi nama anak kita masing-masing. Pada zaman khalifah Ummar Bin Khattab, ada orang memberi nama anaknya dengan nama jualan artinya kelelawar laki. Lalu Ummar Bin Khattab berkata kepada orang itu “Aqaqta kabla an taukkaka” Artinya “Engkau telah mendurhakai anakmu sendiri sebelum anakmu mendurhakai kamu. Yang kedua nantinya sang anak diberi nama pada hari ketujuh dan disembelihkan aqiqah.

Jika mampu anak laki-laki diaqiqahi dengan dua ekor kambing dan anak perempuan dengan seekor kambing. Jika tidak mampu hari ketujuh disembelihkan pada hari ke-14. Jika tidak mampu juga disembelihkan pada hari ke-21, jika tidak mampu juga maka disembelihkan pada hari ke-28. Jika tidak mampu juga maka disembelihkan kapan orangtuanya mampu. Jika kedua orangtuanya tidak mampu, maka nanti sang anak apabila sudah dewasa maka ia disunnatkan mengaqiqahi dirinya sendiri.

Nabi SAW mengaqiqahi dirinya setelah beliau dewasa dan mampu. Kewajiban berikutnya setelah memberi nama dan mengaqiqahi adalah memberi makanan yang halal dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik sehingga ia menjadi seorang anak muslim yang beriman kepada Allah SWT dan berakhlak islami.

Selanjutnya hendaklah memberi makan dengan makanan yang baik halal lagi baik jangan memberi makan yang subhat apalagi haram baik barangnya atau materinya yang dimakan dan cara mencarinya. Selanjutnya apabila seorang anak sudah baliq, (laki laki) mencapai usia minimal 13 tahun dan (perempuan) apabila sudah datang masa haidnya. Umur 6 atau 7 tahun sang anak hendaklah dibimbing dan diajarkan untuk bisa medirikan sholat sendiri sehingga apabila waktu sholat datang, ia tahu sendiri akan kewajibannya dan segera mendirikan sholat. Orangtuanya tidak perlu lagi mencarinya dan menyuruhnya untuk dia mendirikan sholat.

Apabila umur anak 10 tahun, maka kedua orangtuanya dibolehkan memaksa anaknya untuk mendirikan sholat atau bahkan memukulnya dengan pukulan mendidik, sehingga sang anak mencapai usia baliq, ia sudah mendapat taqlik hukum dan tahu akan kewajibannya karena ia sudah mendapat kewajiban mempertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Kita sesama umat Islam hendaklah bersatu dalam akidah islamiah, berjamaah dalam ibadah dan bergaul antarsesama dengan ukuwah islamiah dan bergaul dengan umat lain seumumnya dengan pergaulan ukuwah basyariah atau pergaulan yang baik antarsesama umat islam.

Kewajiban orangtua terhadap anaknya, baru berakhir setelah mengawinkan apabila sang anak sudah sampai masa berkawin (Adraka). Orangtua hendaklah mengarahkan, menyetujui dan membantu sang anak apabila mereka hendak berkawin atau mencari jodohnya. Seorang anak laki laki, bagi orangtuanya tidak terlalu gundah kalau anak laki-laki nya terlambat kawin tetapi kedua orangtua (Siapapun) akan gundah apabila anak perempuannya terlambat kawin.

Oleh sebab itu, orangtua dibolehkan mencarikan jodoh buat anaknya yang perempuan itu, bahkan boleh meraihnya (Mencarikan anak perempuan jodohnya dengan seorang laki laki yang berkelakuan baik). Tampan dan berpengetahuan kepada kita diajarkan do’a “Robbana hablana milladunka jurriyatan tayyibatan innaka syamiud dhuha” Artinya “Ya Allah berikan lah kepada kami dan pasangan hidup kami juriat yang baik karena engkau adalah Maha Mendengar akan segala do’a. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved