Berita Banjarmasin

Aktif Menjaga Perdamaian Dunia, Sejak 2013, Polda Kalsel Berangkatkan 35 Personel ke Negara Konflik

Kepolisian Daerah Polda Kalsel selalu berperan aktif dalam upaya-upaya menjaga perdamaian dunia khususnya di negara-negara berkonflik.

Penulis: Achmad Maudhody | Editor: Eka Dinayanti
IPTU Andi untuk Bpost
Enam Personel Polda Kalsel tergabung dalam FPU Kontingen Indonesia pada misi perdamaian PBB di Republik Afrika Tengah 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Setiap tahun, Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan ( Polda Kalsel) selalu berperan aktif dalam upaya-upaya menjaga perdamaian dunia khususnya di negara-negara berkonflik.

Buktinya sejak Tahun 2013 hingga Tahun 2021 saja, Bag Dalpers Biro SDM Polda Kalsel mencatat ada 35 personel dari berbagai satuan di lingkup Polda Kalsel dan Polres jajaran menjadi veteran pasukan perdamaian.

Mereka telah diberangkatkan oleh Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri dan menjalankan berbagai misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sejumlah misi perdamaian yang terkini menjadi misi langganan yakni United Nations African Mission in Darfur (UNAMID), United Nations Mission in South Sudan (UNMISS) dan United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in the Central African Republic (MINUSCA).

Baca juga: Tahapan Pemilu 2024 Dilaunching, Ini yang Dilakukan KPU Banjarmasin

Baca juga: PPDB 2022 SD dan SMP di Banjarmasin Dimulai Akhir Juni, Berikut Mekanismenya

Misi-misi tersebut dilaksanakan untuk menjaga stabilisasi keamanan di negara-negara rawan di Benua Afrika.

Bagi setiap personel yang berangkat dalam misi-misi tersebut hampir dipastikan membawa pulang pengalaman tak terlupakan dan begitu berkesan.

Bagaimana tidak, bukan cuma soal penyesuaian diri di tempat baru, namun bertugas di wilayah negara konflik tentu memiliki risiko sangat besar terkait keselamatan.

Beberapa Veteran Pasukan Perdamaian PBB dari Polda Kalsel yang diwawancarai BPost, beberapa di antaranya merasakan sendiri berada tak jauh dari lokasi kontak senjata antara pasukan perdamaian dengan kelompok bersenjata.

Contohnya IPTU Andi Kohar yang tergabung dalam Satgas Garuda Bhayangkara (Garbha) Formed Police Unit (FPU) 2 MINUSCA Tahun 2020.

Situasi menegangkan itu dialaminya saat berada di Distrik 5 (PK-5) yang dikenal merupakan salah satu distrik paling berbahaya di Republik Afrika Tengah.

Situasi menegangkan juga dirasakan saat Satgas Garbha FPU 2 MINUSCA dilibatkan dalam operasi pembersihan kelompok bersenjata di kota Bambari dan di area PK-12 Ibu Kota Bangui tak lama pasca terjadi kontak senjata dilancarkan kelompok bersenjata terhadap elemen pasukan MINUSCA lainnya.

"Ancaman yang paling besar adalah situasi konflik itu sendiri. Di sini kita harus terus siap, combat ready," kata IPTU Andi.

Selain ancaman keamanan, kondisi begitu tertinggalnya perkembangan infrastruktur di negara-negara konflik juga menjadi tantangan personel yang terlibat misi perdamaian.

Ini dialami oleh Bripka Astri Theresia salah satu dari segelintir Polwan yang bergabung dalam misi perdamaian PBB, dimana Ia tergabung dalam FPU 11 Indonesia pada misi UNAMID dan bertugas di Darfur, Sudan, Afrika Utara Tahun 2019.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved