Opini Publik

G20 dan Semangat Pemulihan Ekonomi

Harus diakui jika memasuki tahun ketiga wabah pandemi Covid-19, beberapa negara dunia telah merasakan tekanan inflasi yang tinggi.

Editor: Eka Dinayanti

Oleh: Haris Zaky Mubarak, MA, Eksekutif Peneliti Jaringan Studi Indonesia

 BANJARMASINPOST.CO.ID - MASALAH peningkatan inflasi da masalah perubahan iklim menjadi topik utama, di samping kesehatan, pembahasan selama penyelenggaraan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum /WEF 2022) yang berlangsung di Davos, Swiss.

Seluruh komponen sektor swasta diajak berinvestasi dalam jumlah besar untuk pengembangan teknologi yang ramah lingkungan. Forum yang dihadiri lebih dari 50 kepala negara atau pemerintahan itu ditutup pada Kamis (26/5/2022) waktu setempat dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz menjadi salah satu pembicara utama.

WEF 2022 mengusung tema ”Working Together, Restoring Trust”. Isu yang dibahas meliputi kebijakan pemerintah dan strategi bisnis dengan latar belakang pandemi global, konflik Ukraina-Rusia, serta tantangan geoekonomi.

Harus diakui jika memasuki tahun ketiga wabah pandemi Covid-19, beberapa negara dunia telah merasakan tekanan inflasi yang tinggi. Semakin naiknya harga pangan dan energi sebagai akibat dari perang di Ukraina dan sanksi yang diberikan kepada Rusia telah menjadi titik lemah ekonomi secara global.

Amerika Serikat bahkan memiliki tekanan inflasi
mencapai 8,5 persen pada Maret 2022, peningkatan ini merupakan yang tertinggi selama empat dekade terakhir. Begitupula yang terjadi di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu RI) tekanan inflasi pada 2022 telah mencapai 3,47 persen, tertinggi dalam lima tahun terakhir. (Kemenkeu RI, 2022).

Menyikapi penurunan ekonomi yang terjadi pada banyak negara dunia, diperlukan kerjasama ekonomi yang lebih baik. Dampak besar dari perang di Ukraina juga hanya dapat ditanggulangi dengan kerja sama di tingkat global. Termasuk untuk meminimalkan risiko disrupsi pasokan, krisis pangan, dan krisis energi. Dalam menyelesaikan banyak masalah ini, kiprah Indonesia dalam presidensi G20 menjadi sangat penting untuk dilaksanakan. Peran penting G20 harus terus disuarakan oleh Indonesia untuk dapat mendapatkan keuntungan yang positif bagi pemulihan ekonomi dalam negeri.

Komitmen Partisipasi
Secara rasional, pertemuan G20 pada tahun ini mungkin satu-satunya kesempatan Indonesia untuk memberikan dukungan bagi pemulihan ekonomi global yang lebih baik. Agenda yang diusulkan Indonesia berusaha menjembatani berbagai kepentingan negara maju dan berkembang berbeda, dalam pemulihan ekonomi global.

Peran pemerintah Indonesia, baik di G20 maupun dalam pemulihan ekonomi The Association of Southeast Asian Nation (ASEAN) akan memberi bantalan yang strategis bagi segala masalah perdagangan, energi dan ketahanan pangan global.

Dalam kontestasi ini Indonesia perlu menawarkan solusi bagi stabilitas ekonomi global, termasuk memberikan pasokan energi terbarukan yang mendukung ketahanan energi secara global.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved