Fikrah

Kewajiban Anak Terhadap Orangtua

Berbuat baik kepada kedua orangtua itu bukan dahulu atau fiil madhi bukan sekarang atau mudharinya bukan akan datang atau Amar tetapi sepanjang masa

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

BANJARMASINPOST.CO.ID - ALLAH SWT berfirman, “Wa qada rabukka ala tak budu ila iyahu wabil walidaini ihsana.” Artinya Allah SWT mewajibkan menyembah hanya kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orangtua.

“Imma yadluganna indaka kibara ahadu humma auqilla humma falatakul lahumma uktin walamtanhar hummaa waqulla humma kaulan karima” dan “Waqurrabbirhumha kamarabayani saghira”. Doakan rahmat ketika aku di waktu kecil dan berikanlah keduanya rahmat sebagaimana keduanya menyayangi aku di waktu aku masih kecil.

Dari ayat ini kita pahami kata kerja itu ada 3 macam. Kata kerja bentuk yang telah lalu atau lampau, yang berlaku sekarang dan kata kerja bentuk perintah atau yang akan datang disebut fi’il Amar. Ada satu kata kerja di luar dari ketiga bentuk tersebut yaitu kata kerja dalam bentuk masdar atau sumber kata.

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa berbuat baik kepada orangtua tidaklah dahulu Assalam Paung (PR) tidak sekarang dan tidak akan datang atau fiil amr; tetapi dalam bentuk masdar atau sumber kata.

Artinya berbuat baik kepada kedua orangtua itu bukan dahulu atau fiil madhi bukan sekarang atau mudharinya bukan akan datang atau Amar tetapi sepanjang masa, tidak ada waktunya sebelum berbuat baik kepada orangtua.

Sebenarnya masalah berbuat baik kepada kedua orangtua tersimpul dalam 2 kata, kata assam u wa to a mendengarkan dan taat kepaada keduanya. Mendengarkan apa yang dia mau atau yang dia kehendaki kedua orang tua.

Kemudian seseorang hendaklah mentaati apa yang diinginkan oleh kedua orang tuanya itu. Apalagi kedua orang tua sudah lansia. “Walak tanhar himma wakula humma qaulan karima.” Artinya dengarkan apa yang diingikan apa yang dimaui oleh kedua orang tua dan janganlah menghardik dengan mengatakan “ah” tapi berkatalah dengan kata yang baik.

Seorang sahabat bertanya,” Ya Rasulallah, Adakah masih perbuatan baik yang harus dilakukan oleh seorang anak terhadap kedua orang tuanya kalau kedua orang tuanya telah meninggal dunia.”

Rasul menjawab, “Ada yaitu di salon arba.” Artinya ada 4 macam. Pertama “Assalatu alaihimma” menyalatkan keduanya. Menyalatkan keduanya menurut keterangan maksudnya adalah “Man Salakan fardhu kifayah.” Apabila keduanya telah meninggal dunia, makanya ada pelaksanaan fardhu kifayah anaknya lebih afdal menjadi imam daripada orang lain. Kedua artinya melaksanakan apa perjanjian yang dilakukan olehnya misalnya orang tua ingin orang tua membayar utang. Ketiga, silaturahmi dengan orang-orang yang kedua orang tua bersilaturahmi dengan mereka asal menjadi teman pergaulan. Keempat mendoakan keduanya agar diampunkan dosa-dosanya dan selamatkan dari azab kubur.

Menurut keterangan para ulama bahwa apabila seorang anak sehabis salat fardhu tidak memohonkan ampun kepada Allah SWT akan dosa-dosa keduanya seorang anak tersebut sudah termasuk menjadi anak durhaka.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved