Jendela

Kisah Pelukis dan Pendidikan Kita

Meskipun seseorang dianugerahi Tuhan kecerdasan luar biasa, jika ingin mendapatkan ilmu, dia tetap harus belajar.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - ALKISAH, di masa silam nan jauh, pernah terjadi persaingan sengit antara para pelukis Cina dan pelukis Yunani. Para seniman tersebut sama-sama hebat dalam membuat lukisan yang indah dan mempesona. Kabar ini akhirnya sampai ke telinga Raja Bizantium. Ia pun penasaran, ingin membuktikan, para pelukis manakah yang terbaik. Dia segera mengundang para pelukis dari kedua kubu itu untuk bertanding. Dua bangunan yang dindingnya lebar disiapkan sebagai ‘kanvas’ bagi lukisan masing-masing.

Setelah segala peralatan disiapkan, para pelukis mulai bekerja. Yang dari Cina sibuk membersihkan dinding yang kusam, lalu menyapukan cat aneka warna, sementara para pelukis Yunani sama sekali tidak menggunakan cat. Mereka menggunakan berbagai bebatuan untuk menggosok dinding itu. Semua bekerja siang malam, sampai akhirnya selesai. Orang-orang sudah tak sabar ingin melihat karya paripurna dari kedua kubu. Lukisan pertama yang dilihat paduka Raja adalah karya para seniman Cina. Betapa menakjubkan! Perpaduan warna nan serasi serta garis dan goresan yang padu, membuat siapapun terpana menyaksikannya. Semua memuji karya dahsyat ini.

Selanjutnya, paduka mendatangi karya seniman Yunani. Karya itu ditutup kain, dan setibanya paduka, kain pun dibuka. Ternyata, yang tampak bukanlah lukisan, tetapi cermin bening yang memantulkan segala apapun yang indah di depannya, termasuk lukisan para seniman Cina yang letaknya persis berseberangan.

Kisah di atas saya temukan dalam karya al-Ghazali, Mîzân al-‘Amal, dan juga dalam karya Jalaluddin Rumi, Matsnâwi. Mungkin kisah ini hanya tamsil saja, bukan kejadian yang sesungguhnya. Namun, tak mungkin bagi penulis besar seperti dua tokoh ini, memasukkan kisah itu dalam karya mereka, jika bukan karena di dalamnya terkandung hikmah. Sebagai seorang sufi, dua tokoh ini memilih ‘lukisan’ karya para seniman Yunani sebagai lebih unggul daripada karya para seniman Cina. Mereka menggunakan kisah ini sebagai tamsil tentang dua jenis ilmu, yaitu ilmu yang didapatkan melalui usaha belajar keras, dan ilmu yang didapatkan melalui pembersihan hati. Ketika hati sudah bening laksana cermin, ia akan mudah menyerap ilmu apapun. Lukisan dari cat adalah salinan dari kenyataan, sementara bayangan di cermin adalah citra langsung dari kenyataan.

Tamsil dari kisah di atas juga menunjukkan kepada kita betapa orang-orang bijak di zaman dahulu selalu berusaha mencari ilmu yang hakiki, yang substantif. Mereka sangat menghargai ilmu, dan mendorong semua orang untuk mempelajari berbagai cabang ilmu yang berkembang di zamannya. Membaca, mengkaji dan menulis, adalah aktivitas keilmuan yang sangat dianjurkan. Karena itulah, ilmu berkembang pesat di masyarakat. Namun, mereka juga belum puas dengan ilmu yang didapat melalui proses belajar saja. Mereka masih ingin mencari ilmu yang lebih murni, melalui sinyal-sinyal ruhani. Sebagai kaum beriman, mereka percaya akan wahyu dan ilham, yang diberikan Tuhan kepada manusia yang dikehendaki-Nya. Mereka sadar bahwa ilmu tidak hanya dapat diperoleh melalui indera, tetapi juga hati.

Jika kita cermati dunia pendidikan kita saat ini, kita pun bertanya-tanya, masihkah kita berpikir seperti orang-orang bijak di masa lampau itu ataukah kita justru semakin menjauh? Apakah yang bisa kita katakan tentang kegenitan orang yang suka berbangga-bangga dengan gelar, yang kadangkala dapat dijualbelikan, entah dengan uang ataupun transaksi politik? Apapula alasan yang kita kemukakan tentang sekolah/madrasah yang bersekongkol dengan penerbit untuk menjual buku-buku pelajaran kepada para siswa dengan harga yang mahal? Bagaimana pula kita menjelaskan tentang penetapan kriteria ketuntasan minimal yang kadangkala terkesan dipaksakan sehingga nilai pun diobral? Mengapa pula rata-rata IPK lulusan perguruan tinggi semakin tinggi? Lantas, apakah arti ilmu bagi kita? Jangan-jangan ilmu bagi kita hanyalah selembar ijazah atau sederet gelar!

Kita tentu tahu, ilmu tak dapat dibeli. Ia harus dipelajari. Meskipun seseorang dianugerahi Tuhan kecerdasan luar biasa, jika ingin mendapatkan ilmu, dia tetap harus belajar. Apalagi orang biasa yang memiliki kemampuan rata-rata saja. Lebih berat lagi jika usaha mendapatkan ilmu itu tidak hanya belajar keras, membaca, mengkaji dan meneliti, tetapi juga membersihkan hati dari aneka penyakit ruhani seperti sombong, dengki, dendam, pamer dan lain-lain. Ilmu batin jenis ini seringkali diabaikan dalam pendidikan modern sehingga seorang ilmuwan hanya kaya ilmu tetapi miskin ruhani, pintar tetapi tidak bijak. Namun yang lebih menyedihkan lagi adalah, jangankan ilmu ruhani, ilmu lahiriah saja dia tidak menguasai karena yang penting baginya hanyalah nilai atau gelar di atas kertas dan foto di saat upacara kelulusan.

Karena itulah, kisah pelukis Cina dan Yunani di atas perlu kita renungkan, khususnya bagi para pendidik yang bertanggungjawab terhadap masa depan generasi yang akan datang. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved