Tajuk

Waspada Arisan Online

Jika dulu, arisan dilakukan, bertatap muka, kini cukup bersua via grup-grup whatsApp, telegram atau lainnya, diistilahkan arisan online.

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID - ERA Milenial ini, semua orang harus awam dengan istilah digitalisasi yang semua-semuanya dilakukan serba online. Tak terkecuali denggan istilah Arisan Online.

Jika dulu, arisan (konvensional) harus dilakukan secara berkumpul, bertatap muka dan ditujukan untuk menabung maka di era kekinian cukup bersua via grup-grup whatsApp, telegram atau lainnya. Karena itulah diistilahkan dengan arisan online.

Namun belakangan, aktivitas arisan online ini justru menjadi modus penipuan baru yang korbannya banyak sekali. Bahkan dari segi nominal, jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah hingga puluhan miliar rupiah. Fantastis memang.

Hampir semua korban tergiur dengan keuntungan yang ditawarkan saat mengikuti arisan online tersebut. Ya, untungnya konon melebihi bunga bank jika nominal uang tersebut disimpan atau di tabung pada bank konvensional.

Khusus di Provinsi Kalimantan Selatan saja, sebenarnya ada beberapa kasus arisan online yang muncul ke permukaan. Namun yang paling menjadi perhatian adalah sepak terjang Briptu MS dan istrinya, RA. Menjadi bandar online sejak 2017, kasus arisan online bodong yang dilakukan RA memunculkan kerugian mencapai Rp 6 miliar.

Selain bandar, para pengikut arisan online atau acap disebut member ini juga bisa membuat arisan online yang sebenarnya sehat menjadi berpotensi penipuan.

Kok bisa? Jadi, member-member yang sering mengikuti arisan online biasanya tahu soal adanya ‘hak istimewa’ berupa pemilihan slot jika menggunakan sistem menurun. Para member digabung di awal terbentuknya arisan online tentu akan memilih slot yang paling awal setelah bandar agar lebih cepat mendapatkan uang arisan.

Nah, dari sinilah muncul adanya itikad tidak baik. Jadi member yang sudah dapat uang di slot awal tersebut, kemudian seolah lari dari kewajibannya berupa keengganan membayar arisan online tadi sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Nah, meski dalam sistem arisan online hanya berdasar kepercayaan tanpa ada perjanjian hitam di atas putih, namun tetap saja di Pasal 1320 KUH Perdata mengatur hal tersebut. Sedangkan jika ada unsur penipuan maka bisa dijerat dengan UU ITE.

Semoga banyaknya korban mengenai praktik arisan online ini menjadi pembelajaran bagi siapapun untuk lebih berhati-hati, khususnya saat memilih menginvestasikan kekayaan yang dipunya. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved