Opini Publik

Tungro Menambah Penderitaan Petani

penderitaan petani semakin berat dengan adanya gangguan penyakit Tungro yang rutin datang, musim tanam tahun ini serangan dini terjadi lebih parah.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Prof Dr Ir H Ismed Setya Budi MS Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Tumbuhan ULM 

Oleh: Prof Dr Ir HIsmed Setya Budi MS, Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Tumbuhan ULM

BANJARMASINPOST.CO.ID - UJIAN kesabaran petani padi di Banua semakin berat. Saat harga gabah yang terus menurun justru diperparah dengan semakin gencarnya impor beras dari luar masuk lewat pelabuhan laut. Padahal petani sudah lama menderita, saat modal produksi yang tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat. Modal produksi terus semakin besar karena harga pupuk, bibit dan pestisida yang semakin mahal.

Sudah terbukti, gangguan terhadap peningkatan produksi pertanian tidak pernah surut dari waktu ke waktu, bahkan kecenderungan semakin meningkat seiring dengan semakin intensifnya penanaman di lahan. Inilah realita yang selalu menghantui petani, walaupun hasilnya sangat diharapkan karena padi masih menjadi kebutuhan primer utama yang belum bisa tergantikan.

Gangguan yang timbul seperti masalah kesuburan tanah selalu bisa diatasi secara terencana, tapi gangguan Hama Penyakit sulit diramal datangnya dan membuat petani selalu menderita sengsara karena mengakibatkan kerugian yang tidak ringan bahkan tidak jarang pula semua tanamannya hancur dalam waktu singkat tanpa bisa memperoleh hasil yang diharapkan.

Gangguan yang penuh ketidak pastian ini pun silih berganti antara penyebabnya dari faktor biotik berupa hama dan penyakit, juga dari gangguan fisik seperti banjir dan kekeringan. Musibah berupa banjir sudah bisa dikesampingkan karena sudah berada di musim kemarau seperti sekarang ini dan kondisi saluran irigasi yang sudah bertambah baik.

Saat ini penderitaan petani semakin berat karena diperparah dengan adanya gangguan penyakit Tungro yang rutin datang, tapi musim tanam tahun ini serangan dini terjadi lebih parah. Kematian banyak terjadi terutama pada jenis varietas lokal yang berasnya banyak disenangi warga.

Sangat disayangkan, gangguan penyakit Tungro tahun ini kembali beraksi pada saat petani mulai bergairah lagi menanam padi. Serangan awal yang parah sudah tampak nyata terjadi sebulan yang lalu pada sentral penanaman padi di lahan basah Desa Tarantang Kabupaten Barito Kuala. Info terkini serangan terus berlanjut ke Kabupaten lain di sekitarnya seperti Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut dengan prediksi lebih dari 1000 hektar tanaman terserang parah.

Keadaan ini tentu tak bisa dibiarkan karena akan terus bertambah akibat sumber penularan penyakit melimpah di lahan. Apalagi usaha pencegahan yang belum optimal, bahkan melakukan praktek cara pengendalian yang tidak tepat.

Patut disayangkan, petani dan instansi terkait di daerah kita selalu senangnya menunggu besar baru bereaksi dan ribut sendiri. Tidak mau belajar dari pengalaman tahun sebelumnya sehingga akibatnya kerugian petani tidak bisa dihindari setiap tahun selalu terjadi.

Keberadaan penyakit tungro tentu tak bisa diabaikan karena gangguan akibat penyebab penyakit virus ini sangat merugikan dan sudah nyata menjadi salah satu kendala utama dalam peningkatan produksi padi di banyak negara termasuk Indonesia.

Di Banua penyakit tungro dikenal petani dengan gejala “tahantak” karena tanaman tampak kerdil dibanding tanaman sehat, atau nama lainnya yang juga popular “penyakit habang” dengan ciri khas mulanya padi tumbuh subur menghijau dengan cepatnya daun menguning, menjadi merah jingga pada ujungnya, jumlah anakan berkurang, kerdil, gabah yang dihasilkan lebih sedikit, dan tanaman cepat mati. Apabila gangguan penyakit terjadi pada awal pertumbuhan, maka pertanaman padi menjadi puso atau tidak berproduksi sama sekali.

Penyakit tungro yang sangat menakutkan ini akibat adanya infeksi ganda dua jenis virus yang berbeda yaitu Rice tungro bacilliform virus (RTBV) dan Rice tungro spherical virus (RTSV). Kedua jenis virus ini sebenarnya tidak punya daya untuk berpindah dari satu tanaman ke tanaman tapi menjadi berbahaya karena dapat ditularkan secara cepat ke pertanaman lain dengan bantuan serangga wereng hijau (Nephotettix virescens Distant) sebagai vektor yang mudah berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain, bahkan dari satu lahan ke lahan lain secara cepat.

Ancaman tungro perlu upaya pengendalian yang cepat dan tepat supaya tanaman terserang jangan terus bertambah banyak dari waktu ke waktu dan dapat meminimalisir kerugian yang ditimbulkan.

Upaya pengendalian tungro harus dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan berbagai aspek seperti; sumber inokulum patogen virus, tingkat ketahanan varietas padi yang ditanam, kepadatan populasi tanaman di lahan dan efisiensi penularan oleh serangga vektor, kondisi lingkungan yang mendukung penyebaran dan sosial ekonomi petani.

Tindakan yang tepat adalah pencegahan dengan eradikasi sumber inokulum pada tahap pascapanen sampai pratanam dilakukan untuk menekan sumber inkulum primer sekecil mungkin dan menghindari infeksi awal virus tungro di suatu lokasi pembibitan atau pertanaman sentral padi.

Salah satu hal yang sangat menentukan keberhasilan dalam pengendalian tungro adalah kecepatan dan keakuratan dalam diagnosis dan deteksi dini keberadaan virus. Ketepatan deteksi dini berhubungan dengan banyak faktor seperti: obyek (sampel tanaman padi, tanaman inang virus selain padi dan vektor infektif), teknik (metode dan alat yang digunakan) dan waktu (kapan diagnosis dan deteksi dilakukan)

Deteksi yang benar dan akurat akan menentukan ketepatan rekomendasi pengendalian dan juga bermanfaat dalam kegiatan survei epidemi tungro secara akurat. Kemajuan di bidang biologi molekuler seperti penggunaan PCR yang dapat menganalisa DNA virus telah melahirkan berbagai teknik yang dapat dimanfaatkan dalam pengendalian tungro, seperti identifikasi dan karakterisasi keragaman virus dan biotipe vektor, diagnosis virus secara akurat, deteksi dini infeksi virus, pemantauan terjadinya resistensi vektor terhadap suatu varietas serta munculnya strain biotipe vektor yang baru, dan perakitan varietas tahan.

Semoga munculnya gejala awal serangan tungro di beberapa daerah tidak lagi dianggap remeh. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved