Tajuk

Banjir, Momentum Berpikir

MESKI memasuki bulan Juni 2022, sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel) masih dilanda banjir.

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID - MESKI memasuki bulan Juni 2022, sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel) masih dilanda banjir. Setelah Kota Banjarmasin yang sempat dilanda air pasang atau rob, kini giliran Kotabaru yang mengalami banjir.

Curah hujan yang tinggi mengguyur Kotabaru membuat sejumlah wilayahnya terendam air.
Sejumlah kawasan mulai GOR Bamega, Pal Satu, Jalan Agus Salim hingga Kompleks Perkantoran di Desa Dirgahayu terkena banjir. Namun, wilayah terparah adalah kawasan Agus Salim, GOR Bamega dan Pal Satu yang mencapai 30 sentimeter.

Meski begitu di Desa Semayap, air begitu deras dan banjir setinggi lutut hingga bawah pinggang orang dewasa. Banjir tersebut membuat tim evakuasi segera mengevakuasi anak-anak yang sedang bersekolah di SDN 2 Semayap Kecamatan Pulau Laut Utara Kotabaru.

Tim dari BPBD Kotabaru pun harus mengerahkan perahu karetnya untuk mengevakuasi pelajar SDN 2 Semayap. Mereka dibawa ke tempat yang aman melihat derasnya air yang masuk dan lewat di sekolahan. Keadaan ini juga diakui Plt Kalal BPDB Kotabaru Hendra Indrayana.

Sebenarnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengumumkan, bulan Juni di Indonesia seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Lantas, kenapa bulan Juni masih hujan di sejumlah daerah di Indonesia? Prakirawan BMKG Marlin Denata menjelaskan, pantauan BMKG pada La Nina mendapati adanya penguatan intensitas La Nina menjadi moderat atau sedang dengan nilai - 1,05.
Penguatan kembali La Nina sejak Maret ini menyebabkan hujan di Indonesia masih terjadi di bulan Juni.

Akibatnya, menurut Marlin dalam kanal YouTube BMKG, dikutip Senin (13/6), beberapa daerah di Indonesia yang seharusnya sudah memasuki masa peralihan menuju musim kemarau kini masih mengalami intensitas hujan yang cukup tinggi. La Nina adalah fenomena Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya.

Pendinginan Suhu Muka Laut (SML) tersebut mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

Terlepas dari itu, datangnya banjir di musim kemarau ini mengajak kita untuk berpikir. Ya, di tengah situasi iklim yang tak menentu, setiap daerah sudah menyiapkan diri dari berbagai bencana alam. Termasuk banjir yang jadi langganan sejumlah daerah.

Saatnya berpikir, bagaimana wilayah yang terbiasa mendapat banjir, agar tak lagi merasakannya. Drainase, tata kelola air dan daerah resapan harus jadi pemikiran. Bukan hanya itu, perubahan perilaku masyarakat juga terus dibina, mulai tak membuang sampah sembarangan dan menjaga kebersihan.

Perlu dipikirkan juga, penanganan daerah resapan air yang hilang karena tambang, pembalakan hutan dan lahan yang berganti jadi kawasan perumahan. Mari pikirkan masa depan anak cucu kita di masa depan. Jika begini terus, banjir akan terus menghantui. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved