Fikrah

Ancaman bagi Orang Tidak Berkurban

Ini adalah suatu ancaman bagi orang-orang yang mampu berkurban, tetapi tidak mau berkurban

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - DIRIWAYATKAN, pada malam ke-8 Zulhijjah Nabi Ibrahim AS bermimpi melihat dirinya menyembelih Nabi Ismail AS. Tahulah Nabi Ibrahim AS bahwa ia diperintah Allah SWT untuk menyembelih atau mengurbankan anaknya kepada Tuhan.

Pada malam ke-9 H atau malam berikutnya, Nabi Ibrahim AS bermimpi lagi dengan mimpi yang sama. Tahulah Nabi Ibrahim bahwa ia diperintah Allah SWT untuk menyembelih anaknya itu, maka hari ke-9 itu disebut hari Arafah.

Pada malam ke-10 ia bermimpi lagi dengan mimpi yang sama, yakinlah Nabi Ibrahim AS diperintah Allah SWT untuk mengurbankan anaknya itu, maka hari ke-10 itu adalah hari uthiyah. Artinya hari pelaksanaan ibadah kurban.

Hari arafah adalah hari di mana orang-orang yang mengerjakan haji melaksanakan wukuf atau berhenti merenungi dirinya memohon ampun akan dosa-dosanya dan meminta kepada Allah SWT untuk mendapatkan waktu dan kesempatan serta harta benda untuk dapat beribadah kepada Allah SWT.

Nabi SAW bersabda, “Tobi’o al hajja wa umrata, fainnahuma yanfianil takra wazunuba.” Artinya iringkanlah antara haji dan umrah, karena keduanya akan menghapuskan dosa dan kefakiran. Terbukti memang orang yang sudah berhaji dan umrah tidak akan jatuh dalam kefakiran, apa-apa saja yang digunakannya untuk berhaji kembali diganti oleh Allah SWT.

Sesudah melaksanakan wukuf, orang-orang yang berhaji melaksanakan tawaf, tujuh kali keliling mengitari Kakbah. Sesudah itu ia melaksanakan sa’i antara shafa dan marwah tujuh kali pulang balik dimulai dari Shafa dan diakhiri pada bukit Marwah.

Pelaksanaan sa’i ini adalah mengulangi atau menapaktilasi perjalanan ibu Nabi Ismail AS mencari air. Ismail ia beringkan di atas tanah, lalu ia pergi naik ke bukit Shafa. Dia memandang ke sekeliling bukit itu tetapi tidak melihat adanya air.

Ia berjalan setengah berlari ke bukit Marwah. Di bukit Marwah ia memandang lagi keseliling bukit itu, tidak dilihat adanya air. Dia pergi lagi ke Marwah hal ini ia lakukan pulang balik sampai tujuhy kali. Dan mendengar tangis Nabi Ismail yang kehausan sesudah lari-lari tadi sebanyak tujuh kali pulang balik, ia kembali mendapatkan Ismail.

Ia merasa akan melihat kematian anaknya yang ia cintai itu. Tetapi tiba-tiba ia melihat di bawah telapak Nabi Ismail ada air yang membasahi telapak kakinya. Lalu ia coba mengais- ngais tanah itu, maka muncullah air. Air itu ia kumpulkan, katanya, “Zami zami.” Artinya berkumpulah engkau wahai air. Itulah dia air zam zam yang tidak pernah kering diambil oleh jamaah haji untuk minum selama di Mekkah dan juga dibolehkan untuk membawa pulang.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved