Tajuk

Sisi Gelap Rehabilitasi

Penyalah guna narkoba akan direhabilitasi, karena penyalah guna diposisikan sebagai korban.

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID - TIADA hari tanpa penggerebekan atau penangkapan terhadap pecandu dan pengedar narkotika dan obat-obatan (narkoba).

Oleh polisi, pecandu dan pengedar narkoba diposisikan sebagai tersangka, yang kemudian dijebloskan ke penjara.

Namun mulai saat ini dalam penanganan kasus narkoba terjadi perubahan, khususnya dalam menangani penyalah guna narkoba.

Yakni penyalah guna narkoba tidak lagi dihukum di penjara. Penyalah guna narkoba akan direhabilitasi, karena penyalah guna diposisikan sebagai korban.

Penanganan baru dalam menangani penyalah guna narkoba ini menggunakan Pedoman Nomor 18 Tahun 2021 tentang Penyelesaian Penanganan Perkara Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika Melalui Rehabilitasi dengan Pendekatan Keadilan Restoratif sebagai Pelaksanaan Asas Dominus Litis Jaksa.

Lewat pedoman tersebut penyelesaian perkara tindak pidana penyalahgunaan narkoba dapat dilakukan melalui rehabilitasi pada tahap penuntutan.

Dalam pedoman itu tertuang enam persyaratan rehabilitasi bagi penyalah guna narkoba.

Di antaranya, berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium forensik bahwa tersangka positif menggunakan narkotika.

Kemudian, berdasarkan hasil penyidikan tersangka tidak terlibat jaringan peredaran gelap narkotika dan merupakan pengguna terakhir.

Tersangka ditangkap atau tertangkap tangan tanpa barang bukti narkotika atau dengan barang bukti narkoba yang tidak melebihi jumlah pemakaian satu hari.

Meski pedoman ini sudah dipikirkan dengan baik, namun ada sedikit kekhawatiran terhadap penerapannya di lapangan.

Bagaimana pun antara pecandu dan pengedar narkobar punya hubungan yang sangat erat. Tidak ada pecandu tanpa pengedar. Tidak ada pengedar tanpa ada pecandu. Atau pecandu sekaligus pengedar.

Kalau tidak hati-hati dalam penerapannya di lapangan, pedoman baru dalam menangani penyalah guna narkoba ini bisa ‘dimainkan’ oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Bila ini terjadi tentu saja sangat berbahaya bagi republik ini. Pengedaran narkoba menjadi semakin tidak terkendali. Bahkan bisa melemahkan semangat untuk memerangi narkoba.

Karena itu munculnya “sisi gelap” dari pedoman baru dalam menangani penyalah guna narkoba ini harus kita antisipasi.

Caranya semangat perang terhadap narkoba ini harus terus dikobarkan. Siapa pun yang terlibat dalam bisnis haram tersebut harus ditindak tegas.

Kita sudah mencanangkan Indonesia bebas narkoba. Mudah-mudahan pedoman baru ini tidak menjadi bagian yang ikut menghambat dalam mencapai target Indonesia bebas narkoba. (*)

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved