Jendela

Tenang Itu Perlu Perjuangan

kebijaksanaan hidup yang melahirkan ketenteraman itu memang sesuatu yang amat berharga sehingga wajar jika kita harus berjuang keras untuk mewujudkany

Editor: Hari Widodo
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SALAH satu kelemahan kita sebagai manusia adalah tidak sabar, ingin serba cepat dan instan. Karena itu, menunggu adalah pekerjaan yang mengesalkan. Lebih mengesalkan lagi jika yang ditunggu memang lelet, lamban, tidak berjalan wajar dan tidak seperti biasanya. Saya pernah membuat anak-anak dan isteri kesal gara-gara saya tidak sabar menunggu taksi yang dipesan melalui aplikasi daring. Waktu itu, saya tengah kelelahan dan suntuk, sehingga ingin cepat pulang. Akibatnya malah tambah buruk. Emosi saya yang naik bukannya meringankan beban tetapi justru melipatgandakan kekesalan. Semua akhirnya merasa jengkel dan tak enak hati.

Namun, pernah juga saya sedikit bijak, menghadapi kenyataan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang diinginkan. Hasilnya, hati saya tenang dan apa yang diinginkan tercapai. Saat itu, saya tengah mengikuti pelatihan tingkat nasional, yang menurut peraturan resmi tidak boleh ditinggalkan. Padahal, pada hari ketiga pelatihan, anak saya wisuda. Saya akan merasa bersalah besar jika tidak menghadiri wisuda itu karena selama dia kuliah, saya tidak banyak memberi perhatian. Bahkan sampai dia tamat, tempat kosnya saja saya tak tahu! Semua diurus ibunya dan kadangkala dibantu pamannya. Apalagi, dia meraih prestasi sebagai peserta wisuda terbaik di fakultasnya dan saya diminta sambutan mewakili orangtua mahasiswa. Karena itu, saya mencoba meminta izin kepada panitia, dan setelah sedikit diskusi, akhirnya saya diizinkan.

Hari itu, saya mengikuti kegiatan sampai agak sore. Keberangkatan pesawat saya terjadwal jam 17.00. Saya baru bisa keluar kelas sekitar jam 15.15. Saya bergegas keluar, mencari taksi. Ternyata taksi yang nongkrong tidak ada. Saya harus berjalan ke luar sampai akhirnya menemukan taksi. “Ke bandara, pak,” kataku. “Penerbangan jam berapa, pak?” tanya sopir. “Bapak tak perlu tau. Nanti malah gelisah. Lebih baik, santai saja. Kalau sampai tepat waktu, alhamdulillah. Kalau tidak, semoga besok pagi masih ada penerbangan,” kata saya mendadak bijak. Pak sopir menjawab, “Setelah masuk tol, saya usahakan 45 menit sampai pak,” katanya. Setelah melewati kemacetan, lalu masuk tol, dia melaju kencang. Benar, sekitar 45 menit kami sudah tiba di bandara. Saya langsung check in. Orang-orang tengah masuk pesawat. Saya lalu bergabung dan ikut terbang bersama mereka.

Ternyata menjalani hidup yang realistis, hidup sebagaimana adanya itu tidak mudah. Kita seringkali memiliki banyak harapan yang melampaui kenyataan. Kita seolah merasa memiliki kekuatan yang luar biasa sehingga menyangka segala hal berada dalam kendali kita. Padahal, kenyataan tidak demikian. Kita ini adalah makhluk yang serba terbatas. Pengetahuan kita terbatas. Kekuatan kita pun terbatas. Jangankan mengetahui banyak hal di alam semesta, mengetahui tentang keadaan diri sendiri saja kita tidak bisa tuntas. Ketika kita sakit, jika ingin tahu apa sebabnya, dokter pun perlu bantuan pemeriksaan laboratorium atau alat medis lainnya. Begitu pula dengan kekuatan kita. Jangankan mengendalikan orang lain, mengendalikan detak jantung kita saja kita tak mampu.

Salah satu sebab kita menjadi tidak sabar adalah ketika berada dalam situasi antara, yakni antara kemungkinan kita dapat mengendalikan keadaan sesuai hukum sebab akibat atau kebiasaan yang berlaku, dan ketidakmampuan kita mengendalikannya. Misalnya, menurut perhitungan normal, perjalanan kita dari rumah ke kantor adalah 1 jam. Namun di tengah jalan, terjadi kemacetan gara-gara ada kecelakaan. Kita tentu tak kuasa membatalkan kecelakaan yang sudah terjadi. Perpindahan antara situasi normal ke tidak normal itu memaksa kita untuk menerima kenyataan yang tidak diharapkan, suka atau tidak suka. Kelemahan kita—terutama saya sendiri—adalah lambat beradaptasi dengan perubahan itu sehingga hati kita gelisah dan kesal.

Dalam konteks ini, patut kita bertanya, apakah yang kita anggap normal atau biasa itu berjalan dengan sendirinya? Begitu pula, apakah yang tidak normal, yang tidak biasa, tidak terduga dan tidak terencana, yang terjadi dalam hidup kita, sesungguhnya hanyalah kebetulan belaka, sekonyong-konyong terjadi begitu saja? Bagi kaum yang tidak percaya pada kehendak dan kuasa Tuhan, dia akan mengatakan, semua itu terjadi begitu saja, dengan sendirinya, yang normal ataupun yang tidak normal. Bahkan menurut mereka, yang kita anggap tidak normal itu jika dipelajari lebih teliti, bisa dijelaskan kenormalannya. Pengetahuan dan kekuatan manusia memang terbatas, tetapi dia dapat berusaha meningkatkan pengetahuan dan kekuatannya itu untuk mengendalikan kenyataan.

Sebaliknya, bagi kaum beriman pada kehendak dan kuasa Tuhan, baik kejadian normal ataupun tidak normal, semuanya terjadi karena kehendak dan kuasa-Nya. Hukum sebab akibat yang berlaku, baik berupa hukum alam ataupun hukum sosial, yang membuat kehidupan ini tampak teratur dan normal, sesungguhnya tidak berjalan begitu saja dengan sendirinya. Tuhanlah yang berada di balik semua itu. Begitu pula berbagai kejadian mendadak, yang tak terencana dan tak terduga, sesungguhnya bukanlah suatu kebetulan, yang sekonyong-konyong terjadi, melainkan karena kehendak dan kuasa Tuhan jua. Ketika kita berhadapan dengan kenyataan yang tak sesuai harapan, ketika itulah kita diuji, seberapa berfungsi iman dalam hidup kita.

Iman yang demikian itu bukanlah suatu fatalisme, pasrah kepada kenyataan tanpa usaha sedikitpun. Yang dimaksud adalah, ketika manusia berusaha mewujudkan keinginannya dalam keterbatasan pengetahuan dan kekuatannya, dia harus sadar bahwa usahanya itu hanyalah mengikuti kebiasaan atau kenormalan sebab-akibat yang diciptakan Tuhan. Gagal atau berhasil, tetap semua tergantung pada kehendak dan kuasa Tuhan. Begitu pula berbagai kejadian yang tidak normal, tidak biasa dan di luar perkiraan, semua itu tak terlepas dari kehendak dan kuasa-Nya. Dengan pandangan ini, maka orang tidak mudah bertepuk dada bangga ketika berhasil, dan tidak pula berputus asa ketika gagal. Dia tidak bersedih atas apa yang telah terjadi, dan tidak khawatir dengan apa yang akan terjadi.

Begitulah sikap orang-orang bijak, para wali dan kekasih Allah. Itulah rahasia di balik ketenangan sikap dan kedamaian hati mereka. Adapun kita yang awam, kita baru bisa membicarakannya, tetapi masih berjuang mengamalkannya. Yang perlu kita ingat adalah, kebijaksanaan hidup yang melahirkan ketenteraman itu memang sesuatu yang amat berharga sehingga wajar jika kita harus berjuang keras untuk bisa mewujudkannya dalam hidup sehari-hari.

“Ternyata menjalani hidup yang realistis, hidup sebagaimana adanya itu tidak mudah. Kita seringkali memiliki banyak harapan yang melampaui kenyataan. Kita seolah merasa memiliki kekuatan yang luar biasa sehingga menyangka segala hal berada dalam kendali kita. Padahal, kenyataan tidak demikian. Kita ini adalah makhluk yang serba terbatas. Pengetahuan kita terbatas. Kekuatan kita pun terbatas.”(*)

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved