Opini

Memerangi Inflasi Inti

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan pola Inflasi Indonesia mengalami pergeseran

Editor: Irfani Rahman
banjarmasinpost.co.id
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta,Direktur Riset SEEBI (the Socio-Economic & Educational Business Institute) Jakarta Haryo Kuncoro 

Memerangi Inflasi Inti

Oleh : Haryo Kuncoro
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta
Direktur Riset SEEBI (the Socio-Economic & Educational Business Institute) Jakarta

POLA pergerakan inflasi di Indonesia tampaknya sedang mengalami pergeseran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi inti (core inflation) per Juni 2022 mencapai 2,63 persen secara tahunan, sedikit meningkat apabila dibandingkan dengan inflasi pada periode bulan sebelumnya yang tercatat 2,58 persen.

Per definisi, besaran inflasi inti biasanya bersifat tetap (persistent). Pergerakan ?inflasi inti sangat dipengaruhi oleh interaksi antara permintaan-penawaran, lingkungan eksternal, seperti nilai tukar, harga komoditas internasional, dan inflasi di negara mitra dagang, serta ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen.

Oleh karenanya, kenaikan inflasi inti merefleksikan pergerakan dari faktor ekonomi yang paling fundamental. Jika tidak ada perubahan yang ‘luar biasa’, dinamika inflasi inti akan sulit berubah. Dengan kata lain, kontribusinya pada inflasi umum yang dihitung dari IHK (Indeks Harga Konsumen) juga relatif stabil.

Di satu sisi, pergeseran inflasi inti membawa berita baik. Kecenderungan kenaikan inflasi inti merupakan indikasi kenaikan permintaan agregat. Artinya, proses pemulihan ekonomi tengah berlangsung, sejalan dengan peningkatan mobilitas penduduk dan relaksasi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat.

Dengan argumen itu pula, Bank Indonesia (BI) belum berhasrat untuk buru-buru mengubah suku bunga acuan di kala banyak negara menempuh normalisasi kebijakan moneter. BI akan menaikkan suku bunga acuan, 7-day reverse repo rate, jika terdapat tanda-tanda kenaikan inflasi inti yang bersifat permanen.

Di sisi lain, pergerakan inflasi inti membawa pesan kewaspadaan. Kenaikan inflasi inti tidak sebanding dengan lingkungan eksternal tadi, seperti depresiasi nilai tukar dan kenaikan harga komoditas internasional. Nilai tukar Rupiah sampai dengan Juni 2022, misalnya, terdepresiasi 4,14 persen secara tahun kalender.

Secara teoritis, laju depresiasi mata uang domestik semestinya proporsional dengan laju inflasi inti. Pelemahan nilai tukar Rupiah membuat harga produk impor lebih mahal. Agar laba terjaga, kenaikan harga barang impor dibebankan pada konsumen melalui kenaikan harga jual sehingga kembali berujung pada inflasi inti.

Lebih rendahnya inflasi inti dibanding dengan depresiasi sangat dimungkinkan karena faktor substitusi. Kenaikan harga produk impor dikompensasi dengan barang lokal sejenis. Penyesuaian semacam ini lazim ditempuh saat konsumen dihadapkan pada keterbatasan pendapatan demi mempertahankan utilitasnya.

Dugaan substitusi tampaknya juga berlaku pada proses produksi. Produsen mengurangi penggunaan bahan impor kemudian disulih dengan input domestik. Eksistensi substitusi antarinput memungkinkan produsen tidak buru-buru menaikkan harga jual produknya ketika menghadapi gejolak nilai tukar.

Strategi memelihara pangsa pasar menjadi opsi logis kendati harus ditebus dengan tergerusnya margin usaha. Dalam hitungan produsen, penyusutan margin usaha nantinya bisa ditutup ketika Rupiah mengalami apresiasi. Intinya, produsen melakukan pengalihan (switching) laba antara saat depresiasi dan apresiasi.

Komparasi dengan IHP (indeks harga produsen) tampaknya mendukung tesis di atas. Studi empiris Tunç (2017) menunjukkan dampak depresiasi pada inflasi IHK adalah yang paling kecil dibanding inflasi Indeks Harga Impor (IHI) dan IHP. Artinya, produsen sejatinya sudah mengalami inflasi lebih dulu daripada konsumen.

Lebih lanjut, produsen yang terpapar risiko selisih nilai tukar tadi tidak bisa terus-terusan menahan harga jual produknya. Mekanisme transmisi inflasi produsen menuju inflasi inti niscaya akan berlangsung. Kepekaan sempurna antara variabel inflasi inti dan depresiasi mata uang domestik hanya masalah waktu.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved