Tajuk

Tradisi yang Kebablasan

Keberanian para jemaah untuk membawa air zamzam saat kembali ke tanah air itu sepertinya bagian dari tradisi membawa buah tangan atau oleh-oleh.

Editor: Eka Dinayanti
Reuters
Jutaan jemaah haji di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - BISA menjalankan ibadah haji acap menjadi kebanggaan bagi para jemaah yang sudah sampai di Baitullah.

Karena syarat utamanya adalah mampu dari segi finansial, juga mampu dalam hal keilmuan agama Islam.

Namun, kemampuan dari sisi keilmuan agama Islam yang langsung menempel ketika jemaah menyandang status haji ini patut dipertanyakan.

Contoh nyatanya terlihat dari upaya para jemaah yang mencoba membawa air zamzam dari Mekkah.

Meski larangan membawa air zamzam sudah disosialisasikan berulang kali dalam berbagai bentuk, namun hal ini tidak mengurangi animo jemaah haji untuk mencoba-coba membawa air zamzam yang diyakini penuh berkah dalam kopernya masing-masing.

Faktanya pada 360 koper jemaah Embarkasi Solo 4, 297 di antaranya kedapatan membawa air zamzam. Dan hanya 63 koper yang tidak ada air zamzam-nya.

Sebenarnya, tiap jemaah haji sudah mendapat jatah 5 liter air zamzam.

Namun jumlah itu dirasa gak cukup bagi mereka. Karena itulah para jemaah mencoba berbagai cara untuk bisa membawa air dari Mekkah itu dalam jumlah yang besar.

Keberanian para jemaah untuk membawa air zamzam saat kembali ke tanah air itu sepertinya bagian dari tradisi membawa buah tangan atau oleh-oleh ketika sudah berkunjung di daerah tertentu.

Biasanya disuguhkan sepulang dari Mekkah, kepada tamu yang datang berkunjung.

Selain itu, air zamzam yang dibawa dari Baitullah diyakini lebih berkah ketimbang air serupa yang sebenarnya banyak dijual di Indonesia.

Sebab air zamzam itu sempat terlebih dulu dibawa saat melaksanakan putaran Thawaf sembari dibacakan doa.

Namun terlepas dari harapan mendapat keberkahan air zamzam yang dibawa langsung dari Mekkah, alangkah baiknya jemaah haji asal Indonesia mengikuti aturan dari maskapai, PPIH atau lainnya.

Sebaiknya jemaah haji fokus pada tujuan awalnya melaksanakan haji, tentu saja ibadah. Jangan sampai melakukan tindakan yang justru merugikan dan melanggar aturan usai melaksanakan rukun Islam ke-5 itu. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved