Opini Publik

Anak Indonesia Wajib Bebas Perundungan

praktik perundungan di kalangan anak-anak menjadi salah satu problem serius pada saat sekarang ini.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Irma Suryani, (Pemerhati Pendidikan Anak) 

Oleh : Irma Suryani (Pemerhati Pendidikan Anak)

BANJARMASINPOST.CO.ID - HARI Anak Nasional (HAN) kita peringati tiap 23 Juli. Tema HAN 2022 adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju.” Perlindungan anak merupakan hal penting untuk menjamin tumbuh kembang anak secara optimal sehingga mereka tumbuh menjadi individu-individu yang sehat, baik fisik maupun mentalnya.

Dalam hal perlindungan terhadap anak, salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah melindungi anak dari perundungan (bullying). Seperti sama-sama kita ketahui, praktik perundungan di kalangan anak-anak menjadi salah satu problem serius pada saat sekarang ini.

Suvey Kementerian Sosial Republik Indonesia yang pernah dilakukan beberapa waktu lalu menyebut sebanyak 84 persen anak usia 12-17 tahun di negeri ini pernah menjadi korban perundungan. Beberapa di antaranya bahkan ada yang sampai meninggal dunia.

Secara sederhana, perundungan didefinisikan tindak pelecehan emosional atau fisik yang dilakukan secara sengaja, berulang-ulang yang ditunjukkan seseorang atau sekelompok orang kepada seseorang lainnya atau sekelompok orang lainnya yang lebih lemah (Donelly et al, 2011).

Secara garis besar, terdapat lima bentuk perundungan yang yang dapat dialami anak-anak. Pertama, perundungan fisik. Ini bentuk perundungan yang paling mudah dikenali. Pelaku memakai cara-cara fisik untuk merundung korbannya, seperti menampar, menendang, menjambak, menyikut, dan sebagainya.

Kedua, perundungan verbal. Pelaku menggunakan kata-kata tertentu untuk membentak, menghardik, meneriaki, memaki, menghina, mempermalukan, menolak, mencela, merendahkan, serta mengejek korbannya.

Ketiga, perundungan psikologis. Contohnya antara lain yaitu memandang sinis, memelototi, mencemooh.

Keempat, perundungan relasional. Misalnya, mengabaikan, mengecualikan, menyebarkan desas-desus, berbohong, menyuruh orang lain menyakiti seseorang.

Kelima, perundungan siber. Antara lain mengirim atau memposting teks, gambar atau video yang menyakiti, memalukan, atau mengancam dengan menggunakan fasilitas internet, ponsel, atau perangkat komunikasi digital lainnya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved